Darren menurunkan Lio yang ada di punggungnya. Lelaki itu membaringkan temannya di atas rerumputan, disusul oleh Amaran dan Alesia yang terus berlari untuk menghindari derasnya hujan. Kedua gadis itu diam di tempat teduh, merasa kedinginan dengan hawa yang terus melewati mereka.
Langit menjadi sangat kelabu, pada awalnya awan-awan itu sama sekali tidak menurunkan bebannya, tetapi semua itu dimulai saat mereka sadar bahwa Fane telah menghilang. Terutama Amaran, terbatuk-batuk, apalagi seluruh tubuhnya yang kelelahan setelah melawan banyaknya manusia klon, untungnya Darren datang, jika tidak maka dia akan ikut pingsan bersama Lio.
Mata Darren melirik Lio yang masih memejam tenang, tetap menjadi misteri mengapa temannya yang satu ini mendadak tidak sadarkan diri padahal sedari tadi dia yang paling bersemangat. Selain itu, kemampuan mereka juga menghilang, semuanya menjadi terasa nyata karena papan pemberitahuan itu juga tidak muncul sama sekali.
Pill juga tidak ada. Alesia yang sedari tadi gemetaran menggigit kukunya, gadis itu takut jika mereka semua gugur karena kehilangan pill, tetapi semuanya terasa aneh untuk langsung disimpulkan. Hujan juga semakin deras dengan angin yang sangat kencang, beberapa pohon di jalanan bergerak, bahkan ada yang sampai miring karena tertepa angin.
"Darren ... Rafael tidak mengatakan apa pun lagi," ujar Alesia masih menggigiti kukunya, matanya melirik ke arah lain seolah dia sedang benar-benar waspada. "Apa kita harus kembali ke sana, kita juga akan memperkenalkan Amaran dan Lio."
"Tujuan kita adalah Fane Haven, tapi orang itu juga menghilang. Jangan gegabah, hujan dan angin ini bisa saja membunuh kita apalagi kemampuan kita yang pergi entah kemana," jawab Darren melepaskan lapisan pakaian yang digunakannya karena merasa tidak nyaman.
"Rafael itu, apa dia tokoh utamanya?"
Darren mengangkat kedua bahunya ketika Amaran bertanya. "Apa? Karakter utama apa maksudnya?"
Amaran menunduk, perlahan rambut basahnya menutupi wajahnya. Dia benar-benar lupa bahwa Darren tidak ada saat Fane menceritakan tentang alur di babak awal ini. Amaran senang karena Darren telah kembali, apalagi dia membawa rekan baru yang bisa dijadikan teman.
Sayangnya, Rafael itu masih menjadi misteri. Apa kedua orang itu berbeda? Rafael River si karakter utama, bukanlah Rafael yang dibicarakan mereka sebelumnya?
"T-tenang saja, Amaran. Meskipun Rafael adalah orang yang pilih kasih, tapi dia pasti akan menerimamu jika kamu menemuinya." Alesia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Rafael itu orang baik."
Amaran lagi-lagi bingung, dia tidak mengatakan apa pun tentang Rafael, tetapi Alesia seperti sedang sibuk menghasut dirinya agar tetap percaya dengan Rafael itu.
Darren menghela napas sembari memegangi kepalanya. "Aku masa bodoh dengan Rafael, meskipun dia sangat cerdas, pandai, licik, tidak tahu diri, dan bisa menjadi guru yang baik. Seseorang yang pernah aku lihat di ruangan sebelumnya, bernama pena The Bad Guy, adalah orang yang paling membuatku penasaran."
Alesia tersentak. "K-kamu bertemu The Bad Guy?"
"Bukankah dia yang menjagaku agar tidak kabur dari ruangan itu?" Darren mengangkat satu alisnya.
"Aku tahu tentang dirinya, tetapi melihatnya saja aku tidak pernah. Katanya, dia adalah seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa dan orang yang begitu disembunyikan Rafael sehingga mendapat sebutan anak buah misterius," jelas Alesia.
"Sialan, Rafael memang pandai menguasai seseorang." Darren berujar sembari terkekeh kecil di akhir kalimatnya, seseorang peringkat ke dua itu benar-benar membuatnya terkagum-kagum. Namun, setelah itu dia berhenti dan berdiri sembari menutupi teman-temannya yang lain. "Ada orang."
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasySebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
