Jiwa berujar, "Rencana."
Jiwa turun dari pohon itu, kemudian berbisik pada Prim mengenai apa yang ingin disampaikannya. Tala hampir melupakan ini, selama mereka berkumpul, Jiwa jarang untuk berbicara, karena katanya dia tidak terlalu fasih berbahasa Inggris.
Prim juga berteman dekat dengan Ardan, dan katanya Ardan sering menggunakan bahasanya sendiri membuat Prim harus menerka-nerka. Yah setidaknya mereka semua Asia, jadi tidak terlalu bingung untuk berkomunikasi.
"Tala. Jiwa memiliki rencana. Aku dan dia pernah melawan Kevin, dan kami tahu betul bahwa orang itu yang aslinya sulit untuk dikalahkan dengan kemampuan setara," jelas Prim.
"Maksudnya?" Tala mengangkat satu alis, kebingungan.
"Jangan pakai kemampuan latar, atau kemampuan-kemampuan berjenis serangan. Mungkin kita harus menunggu kemampuan alur atau kemampuan jenis lain yang tidak mampu dihindarinya." Prim memegangi dagu. "Aku sebenarnya agak bingung ... lantas bagaimana cara kita mengalahkannya, Jiwa?"
Jiwa berdeham. "Sistem sekarang lebih ketat."
"Apanya?" Tala mengedipkan matanya beberapa kali.
"Peraturannya." Jiwa menghela napas. "Kita akan didiskualifikasi."
"Hah?!" Prim juga bahkan terkejut.
"Eh maksudku--" Jiwa kembali mendekat pada Prim, membuat lelaki itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Bocah .... batin Prim, menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. "Jadi kamu berpikir akan memanipulasi sistem seperti yang orang-orang lakukan di babak-babak sebelumnya? Hanya saja kali ini kita tidak bisa melakukannya karena takut mendapatkan pelanggaran dari panitia?"
Tala mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti.
"Jadi daripada melawannya, lebih baik kita mencari cara untuk membuat dia menghilang karena dia terbuat dari kemampuan seseorang?" Tala mengigit-gigit kukunya, merasa gugup. "Kalau begitu ... di mana orang yang menghasilkan kemampuan itu?"
Jiwa menggeleng. "Bukan itu. Aku tahu siapa orangnya, tetapi kita tidak akan menangkap orang itu." Jiwa terdiam sebentar, merasa terkejut karena tumben sekali cara bicaranya lancar. "Orang itu sama kuatnya, atau bahkan lebih kuat. Kita tidak menang."
"Tidak mungkin menang," sahut Prim membuat Jiwa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi kita harus apa?"
"Cari sisi lemahnya, kemampuan orang gak mungkin sesempurna itu sampai ada secara utuh setiap saat, 'kan?" Jiwa bertanya membuat Prim menganggukkan kepala, sedangkan Tala menyenggol lengan Prim, sedikit tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Jiwa.
"Jiwa bilang, kita harus cari kelemahannya. Lebih tepatnya kelemahan si pemilik kemampuan, kemampuan pasti tidak akan terjaga setiap saat," jelas Prim membuat Jiwa mengangguk, sedangkan Tala membulatkan matanya, merasa memiliki celah. "Kalau begitu kita mulai dari sekarang, orang itu jadi lebih mirip seperti monster."
Benar, Kevin palsu itu sudah lebih dekat sekarang.
TUK!
Mereka berpindah tempat, mencari titik pijakan masing-masing. Tala membuat tembok lain setelah dia berhasil berguling dari tempatnya, sedangkan Prim berteleportasi ke tempat yang lebih tinggi. Jiwa sendiri membuat retakan dan kehancuran sepanjang jalan, sayangnya tidak berguna, karena Kevin palsu menghilangkan tanahnya setiap langkah.
Jiwa berdecak, menimbulkan tanah lain yang mampu membuatnya terpental ke satu-satunya pilar bangunan yang tersisa di sana. Jiwa melompat dari sana, kemudian mendekati Prim yang berada di atas salah satu pohon yang tidak jauh darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasíaSebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
