Rumah itu masih hening. Sampai Ardan merasakan sebuah cairan merah kental mengalir lewat hidungnya. Tala segera bergerak untuk memberikan sebuah kain berwarna putih, sedangkan Samuel sedikit tidak peduli dan tetap memperhatikan Ardan yang mencoba menganalisis sebuah objek.
Pill milik Lio.
"Tidak ada apa-apa dari pill itu?" tanya Samuel membuat Ardan menganggukkan kepalanya sekilas, sebelum dia terbatuk-batuk.
"Aku hanya melihat beberapa saat di mana Lio memegangnya, bukan saat pill ini diciptakan." Ardan memeganginya kepalanya, lantas kembali memejamkan mata untuk memaksakan diri.
Tala sendiri sangat khawatir, rasa-rasanya dia ingin segera membantu Ardan dan mengingatkan Samuel agar lelaki itu tidak terlalu memaksanya. Namun, apa yang bisa dilakukan Tala selain diam di sini? Sejak awal juga dia sudah merasa tidak berguna, membuat dirinya hanya bisa diam memperhatikan mereka berdua yang sibuk mencoba.
Gadis itu menghela napasnya. "Aku akan pergi ke lantai atas sebentar, jika ada sesuatu yang mengganggu kalian, panggil aku." Ardan mengangguk dan memberikan senyumannya, sedangkan Samuel hanya memperlihatkan ibu jari, tetapi wajahnya tidak menoleh ke arah Tala sedikit pun.
Tala mengembuskan napasnya, berjalan keluar dari ruangan tersebut, kemudian pergi ke ruangannya--tepatnya ke lantai atas.
"Hari ini cerah lagi." Tala berjalan perlahan, memegangi kaca jendela, kemudian memperhatikan sekitaran rumah miliknya. "Tapi sampai kapan aku harus tetap di sini?"
Tala tidak mengerti, mengapa dia bisa menerima undangan menulis itu. Tala juga merasa yakin hanya karena dia dapat merasakan latar yang ia buat dalam cerita fiksinya, lantas menjelaskan kembali kepada orang dengan sangat detail tentang latar yang ia buat, sukses membuat orang-orang merasakan latar yang karakter tempati di sana. Berujung memiliki kemampuan latar.
Tala sebenarnya bersyukur. Selama dia terus berpindah dari Filipina menuju beberapa negara Asia, hingga dirinya sampai di Inggris dan bertemu dengan Samuel, Rei, serta Lio. Seiring berjalannya waktu, saat berkelana, Tala sering melihat orang-orang gugur di depan matanya.
Tala sampai saat ini belum gugur, dan dia berharap tidak akan pernah gugur.
Tidak akan pernah.
BRUK!!
"Huh?" Tala terperanjat, ia menatap jendela, tidak ada apa-apa di luar, tetapi rasanya akan ada sesuatu yang runtuh sebentar lagi.
Tala segera berlari menuruni anak tangga, melihat Ardan dan Samuel yang menghentikan kegiatannya, bahkan pill milik Lio juga sudah kembali lagi ke tangannya Samuel.
"Apa ada sesuatu?" tanya Samuel membuat Tala menggelengkan kepalanya.
"Aku justru hendak bertanya pada kalian, suara itu cukup kencang dan aku pikir ada sesuatu yang tidak beres." Tala menelan ludahnya, menatap sekeliling ruangan yang tampak kosong.
Sudah pasti, tidak ada apa-apa di ruangan Tala.
BRUK!!
"Suara itu ada lagi ...," ujar Ardan, beranjak dari duduknya untuk melihat jendela yang lain.
Baru saja Tala berpikiran tentang dunia kompetisi ini, sudah ada yang aneh lagi. Gadis itu menghela napasnya, ikut mencari beberapa tanda sebagai petunjuk. Sebab jika dirinya keluar dari rumah tersebut, kemungkinan latarnya akan hilang juga dengan cepat.
Samuel pergi ke arah pintu, segera membuka pintu itu dan pergi keluar. Tala melihat Samuel yang menatap sekeliling, sebelum mata biru Samuel membuat kontak mata dengan Tala.
"Samuel?"
BRRAAAKK!!
"SAMUEL?!"
PRANG!
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasíaSebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
