Laki-laki itu mendongak, menatap suatu benda bercahaya di atasnya. Padahal, dia seharusnya menahan mata itu agar tidak terkena air hujan yang terasa menyakitkan ketika mengenai netranya.
[Para peserta wajib untuk mengikuti kompetisi hingga akhir, siapa pun yang mengakhiri satu bagian tulisannya dengan kata menyerah, maka akan dieleminasi!]
Dia tidak sadar apa pun. Hanya berjalan ditemani cahaya biru itu. Entah harus senang atau bagaimana, karena saat ini River tidak sendirian lagi. Dia tidak lagi berjalan seorang diri, tidak lagi ditemani dengan kehancuran dunia.
Kapan terakhir kali dirinya merasa sesenang ini?
Bahkan mengingat pengalamannya pun tidak sama sekali.
Aneh.
Siapa orang gila yang menganggap papan pengumuman adalah temannya?
Hanya River, yang terus berjalan di sepanjang hujan.
* * *
"River!"
"Tidak perlu kesepian," gumam River menatap kosong meja yang hancur di hadapannya.
Mereka terdiam, terutama Fane yang semakin membulatkan matanya. Menatap River yang masih memudar, mengeluarkan cahaya terang yang berpisah dari tubuhnya satu per satu.
"Maafkan aku...." Dengan nada lirih, Fane berujar.
River menggelengkan kepalanya. "Seharusnya tidak perlu meminta maaf. Kamu telah membuatku menjadi karakter utama, maka aku bisa membuktikannya padamu." River menghela napasnya berat, menggenggam erat pill miliknya yang sudah rusak akibat ledakan beberapa menit lalu.
Lio berdecak kesal, masa bodoh dengan apa yang ada di tangannya saat ini. Dia menjatuhkan pill itu kemana-mana, menatap River dengan penuh dendam. Si sialan itu, Lio kira jika dia hanya akan mengorbankan diri, ternyata tidak—bukan mengorbankan diri, River tengah menghilangkan dirinya sendiri.
"Apa aku boleh menganggap bahwa aku tidak pantas untuk menjadi karakter yang ditulis Fane?"
Memangnya mengapa?
River itu sangat berbakat, dia juga kuat, lantas mengapa dirinya merasa sangat tidak aman sampai menghancurkan diri sendiri seperti ini?
"Mengapa?" Pertanyaan keluar dari mulut Lio, sontak River meliriknya.
Lelaki itu menatap langit-langit bangunan, tidak menggubris pertanyaan Lio.
"River. Tulisanmu memang mendapatkan peringkat pertama, kamu sama sekali tidak berbuat curang, bahkan panitia mengakui itu." Alis Lio mengernyit, semakin dipendam amarah itu, dengan rasa kesal yang mulai menguasainya.
"Keren, aku selalu beruntung." River tertawa renyah. "Pertama aku adalah karakter yang salah dipilih, aku hanyalah fiksi yang tidak asli, seorang faktitius...."
"Maksudmu?" Fane semakin bangkit, meminta penjelasan.
River kembali tertawa. "Kamu salah menduga, Fane. Aku tidak pernah berjuang sejak awal, atau tersoroti berbagai hal. Apakah aku boleh mengganti istilahnya? Seorang karakter utama yang bermimpi sebagai karakter utama."
"Hanya karena apa? Jelas-jelas, kamu...." Tidak banyak bicara, Lio terdiam, tidak tahu lagi harus mengatakan apa.
"Sejujurnya, aku tidak pernah tahu tentang ini. Kamu hebat, Rafael."
Mendengar itu dari Fane, River sedikit tertegun. Dia kembali memasang senyum tipis, memainkan lantai-lantai yang penuh dengan noda dari sisa-sisa darahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasySebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
