22. Karakter Utama (8)

9 3 0
                                        

Gadis yang baru saja membuka matanya itu segera mengubah posisinya menjadi duduk. Napasnya tidak beraturan, keringat hampir memenuhi sekujur tubuhnya, dan rambut berantakan disertai mata merah membuat semua orang dapat menebak jika dia baru saja mendapatkan mimpi buruknya.

Alesia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Meski udara terasa panas, tapi dia tetap memaksakan dirinya sendiri untuk pergi keluar dari ruangan dan menolak beristirahat setelah dia ingat kejadian terakhir sebelum dirinya menutup mata sementara.

"D-Darren!" Alesia berseru, berlari menghampiri laki-laki yang hanya terduduk sembari memegangi kepalanya, terlihat sangat frustasi.

Alesia menyadari sesuatu, perlawanan yang terjadi tadi ternyata telah selesai. Namun, dia melihat banyak orang yang kewalahan dan tampak begitu mati, termasuk Darren yang tengah mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.

"Bukankah kamu masih harus diam di ruang rawat?" tanya Darren, menyempatkan berdiri dan segera mendorong Alesia untuk berjalan ke arah ruangan yang baru saja ditempatinya. "Rafael mungkin akan memarahimu juga."

"Juga?" Alesia mengangkat satu alisnya, mencoba tetap tenang di tengah-tengah dorongan Darren.

Laki-laki ini sepertinya sedang dalam suasana hati yang tidak baik. Pasalnya, dia cukup bertenaga untuk mendorong seorang gadis yang masih dalam masa pemulihan.

Tak lama, Alesia benar-benar melirik sekitar. Perasaan pekanya mulai bertindak saat dia tidak melihat dua orang temannya yang selalu bersama Darren.

"Apa ada sesuatu dengan mereka?" Amaran memberanikan diri untuk bertanya, dia menoleh ke belakang, melihat Darren yang hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala. "Apa dampaknya besar?"

Darren menghela napas sambil memalingkan pandangan ke arah lain. "Rafael mengatakan jika itu akan fatal jika kita tidak cepat-cepat mengambil keputusan ... tapi aku masih tidak mengerti kenapa dia membiarkan pihak itu untuk membawa Amaran bersama mereka."

"Benarkah itu?" Darren mengangguk lagi untuk jawaban dari pertanyaan Alesia. "Aku tidak melihat anak itu, apa dia juga ikut dibawa?"

"Terakhir kali aku melihatnya, dia berlari mengejar dengan kondisi yang cukup parah. Yah, Lio sudah mencoba untuk berusaha...," jawab Darren.

Mereka berdua terus melontarkan pembicaraan sepanjang berjalan menuju ruang rawat. Tanpa mereka sadari jika langkah mereka sudah sampai di depan pintu ruangan. Namun, ada sesuatu yang membuat mereka benar-benar menghentikan pergerakan dari depan pintu masuk.

Pintu itu, awalnya sama sekali tidak tertutup, Alesia sangat menyadari hal itu. Sesuatu juga terdengar dari dalam, membuatnya menarik napas, mencoba untuk mengatur gerak jantungnya. Dia menatap Darren yang juga memperhatikannya, kemudian mengangguk bersamaan setelah Alesia merasa cukup untuk menerima apa pun yang terjadi.

Gadis itu menggerakkan tangan kanannya, menarik gagang pintu yang ada di hadapannya dan membuka pintu itu secara perlahan.

"Fane?!"

Keduanya membelakak. Seorang anak laki-laki sedang memainkan layar di atas tempat tidur. Dia menatap Alesia dan Darren yang langsung bergerak menghampiri Fane.

"Kita harus cepat-cepat menentukan pilihan," tekan Fane disertai mata sayu yang memperhatikan kedua orang di depannya.

* * *

Tidak ada yang mengganggu di pagi hari ini. Setelah sebuah gedung besar yang awalnya ditempati banyak orang itu mulai sepi dengan sedikitnya penghuni. Beberapa di antaranya bergerak untuk melaksanakan tugas yang telah mereka terima, sebagiannya lagi berjaga-jaga di sekitaran gedung.

MAKE A PLOTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang