54. Lokasi Kemampuan (2)

3 1 0
                                        

Babak ketiga baru saja berakhir kemarin.

Pemberitahuan itu agak lambat, karena sistem yang belum diperbaiki secara keseluruhan. Beberapa peserta mulai berkeliaran lagi, karena satu hari terakhir sebelum dimulainya babak baru adalah hari di mana mereka harus segera menyiapkan tulisan untuk babak selanjutnya.

Tenang dan damai. Orang-orang mulai berani sendiri karena mereka tidak perlu menyaksikan sebagian orang pengidap narsistik yang selalu memperlihatkan kemampuannya di mana pun, sehingga membuat kekacauan atau bahkan celaka.

Lelaki kucir itu diam di jendela, melirik gerak-gerik orang yang berkeliaran di bawah sana. Dia tahu pasti, orang-orang itu tidak pernah diingatnya, atau raut wajah yang terlihat asing di matanya. Mereka bukan warga pribumi, mungkin di hari terakhir babak ketiga kemarin banyak yang memilih untuk segera berpindah lokasi, atau memang melewati negara yang saat ini sedang ditinggalinya.

Tidak ada yang lebih penting dari kemampuan linguistik saat ini.

"Aku sudah menulis untuk babak selanjutnya." Dia menoleh, melihat ke arah tempat tidur, di mana seseorang baru saja mengubah posisinya menjadi duduk.

Itu seorang anak yang tampaknya masih berusia empat belas tahun. Dia menggisik kedua matanya sebelum menatap lelaki berambut hitam agak panjang yang dikucir, duduk di dekat jendela kamar. Lelaki itu mengambil seluruh sorot matahari pagi yang membuat sekujur tubuhnya merasa hangat. Terlebih lagi, matanya yang berwarna hijau itu semakin terang karena pantulan cahaya matahari.

"Memangnya kamu tahu?" tanya si anak laki-laki empat belas tahun.

Bahasa Inggrisnya tidak jelas, tetapi lelaki berkucir itu tahu betul apa yang dimaksud dari si bocah.

"Tentu, aku bisa memutar apa pun untuk perjanjian kita." Yang lebih tua itu tertawa pelan, sebelum si bocah mengangkat satu alisnya, bingung. "Tenang saja, Jiwa. Kita sama-sama memiliki penguasaan, bahkan kamu lebih unggul dalam satu aspek. Aku sudah pernah mengatakannya, 'kan? Aku akan membersihkan orang-orang di sini untuk menghilangkan kekacauan yang lebih besar."

[Nama: Jiwa Sidharta
Nama Pena: (belum didapatkan)
Nomor: MAP–2835–JSD
Jenis Kelamin: Laki-laki
Usia: 14 Tahun
Jenis Kemampuan: Latar
Kemampuan: Penguasaan Latar Tempat
Tingkat: SS+
Peringkat:
Kemampuan yang dipakai: 982%]

"Setelah kemampuanmu pulih untuk babak selanjutnya, kamu akan segera mengerahkan alur yang aku buat." Laki-laki itu tersenyum ke arah Jiwa. "Kamu siap, 'kan? Melaksanakan alurnya."

Jiwa melirik ke lantai-lantai. "Terima kasih, Anda membantu membuat saya mudah, Skya."

[Nama: Frasky Ariant
Nama Pena: Skya
Nomor: MAP-3748-FKA
Jenis Kelamin: Laki-laki
Usia: 17 Tahun
Jenis Kemampuan: Latar
Kemampuan: Penguasaan Keterangan Latar
Tingkat: A
Peringkat:
Kemampuan yang dipakai: 45%]

"Mungkin maksudmu bantuanku membuatmu merasa mudah ...?" Jiwa memalingkan pandangannya, dia sungguh tidak mengerti, tetapi Skya hanya tertawa lembut padanya. "Tidak apa-apa, belajarnya sedikit-sedikit, Jiwa. Kamu akan segera mengetahui seratus bahasa nanti."

"Bahasa saratus?"

"Ahaha ... tidak, itu tetap seratus bahasa."

"Seratus bahasa ...." Jiwa menunduk, merasakan kepalan tangannya yang semakin mengeras. "Tapi aku bingung, siapa temanmu?"

Skya mengangkat satu alis, mencoba untuk mengerti dengan apa yang dimaksud Jiwa, hingga ia tahu tentang seseorang yang pernah diceritakannya sejak mereka pertama bertemu di sebuah gedung tinggi.

"Mereka dari Inggris, aku yakin mereka sudah sampai, entah menggunakan apa." Skya tertawa renyah. "Kamu tahu, 'kan? Eropa dan Asia jika dalam jarak yang sebenarnya sangat jauh untuk berjalan kaki."

MAKE A PLOTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang