Laki-laki itu segera melepaskan pegangannya setelah dirasa ada beberapa orang yang mengintip untuk melihat kegiatannya. Rambutnya berwarna hitam berantakan, matanya tajam bagaikan elang, anak itu cukup tinggi meski tidak setinggi Darren. Dengan wajah sinis yang dapat membuat siapa saja merasa tidak ingin berbaur dengannya.
Mereka semakin terkejut, di kala seorang gadis yang menubruk dari belakang untuk melihat kondisi kamar. Matanya sontak terbuka lebar di saat dirinya melihat anak laki-laki yang kini sedang berdecak, seolah menolak tatapan dari beberapa orang yang sedang memperhatikannya dari luar kamar.
"Bukankah itu...." Amaran, tidak percaya.
Shelly melirik John, memberikan kode agar pria itu mengarahkan anak-anak di sampingnya untuk mengondisikan tempat. Alesia segera menuruti John, meminta bantuan kepada Darren dan Amaran untuk membuat para penghuni bangunan mengosongkan tempat pijakannya saat ini.
Tidak termasuk Lio yang masih heran mengerti dengan keadaan. Nyatanya, Shelly memberikan suruhan kepada Lio agar berjaga di belakang. Apalagi dia melihat Fane yang masih asyik tertidur, enggan untuk terbangun walau hanya satu detik.
"River," panggil Shelly membuat anak laki-laki yang sedang menghela nafas berat itu menghampirinya. "Apakah kamu keluar dari tempat itu selama ini? Tuan Arth sudah menunggu."
Sedangkan yang dipanggil River tertawa pelan, meletakkan kedua tangan di depan dadanya. "Aku mendengar kabar jika dia sudah dieliminasi, apa aku harus tetap peduli padanya? Bukankah dia sedang tidak sadarkan diri dan saat ini orang-orangmu sedang mencari cara untuk membuat dia mengembalikan kesadarannya lagi?"
"Itu semua benar." Shelly berjalan ke arah anak itu yang sepertinya sudah menyiapkan ancang-ancang untuk melarikan diri dari rencana Shelly.
Namun, berbeda dari pikiran Lio yang hanya diam memperhatikan keduanya. Lelaki itu melihat Shelly yang menatapnya secara perlahan.
"Kamu harus berkenalan dengannya sedikit, Nak." Shelly menggenggam kuat pill miliknya setelah dia mengingat sesuatu. "Aku lupa, semua sistem dimatikan satu hari ini selain penulisan naskah, ya? Baiklah, perkenalkan dia. Namanya ... lebih tepatnya nama penanya adalah River. Dia salah satu anak buah Arth yang memiliki kemampuan kuat."
Lio bingung. Bukan karena penjelasan Shelly, tapi karena kepalanya yang berpikir di luar pembahasaan. Dia tiba-tiba membayangkan, ada berapa kru, kelompok, atau kubu yang telah tercipta di dunia penuh alur ini?
Darren bahkan sudah masuk ke salah satunya, sedangkan Lio tidak memiliki niat untuk ikut dengan kubu-kubu yang bahkan tidak pernah diketahui olehnya.
"Tidak ada waktu untuk berkenalan." River menatap Lio, menghampiri lelaki itu, melangkah pelan untuk mendekat dan terus mendekat.
Sedangkan wanita bertopi yang akan menjadi pengarah dari tindakan Lio mulai mundur, seolah aksi River saat ini memang telah dibuat sebagai salah satu bagian dari rencana mereka.
Lio dan River benar-benar saling melemparkan tatapan. Hal itu membuat Lio ingat dengan beberapa ucapan yang pernah ia dengar. Salah satunya adalah nama River, tapi di mana dia mendengar nama itu?
Entah karena ingatannya yang cukup sempit atau memang Lio tidak pernah mendengar, tapi yang terpenting untuknya adalah memikirkan bagaimana caranya agar Lio dapat terlepas dari tatapan River yang begitu lekat dengan matanya.
"Kamu seperti orang payah." Tak lama, Lio membuka mulutnya lebar-lebar. Tentu saja dia tidak terima diberikan pernyataan dari seseorang yang bahkan tidak mengenalinya. "Apa tingkatan kemampuanmu kecil?"
Lio mengeram, menahan mulutnya yang kemungkinan akan melontarkan kata-kata tidak baik sebentar lagi.
"Mari kembali, River. Kami membutuhkanmu untuk beberapa kepentingan," bujuk Shelly sambil kembali berjalan ke arah River dan memberikan sebuah ponsel.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasySebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
