59. Lokasi Kemampuan (7)

2 1 0
                                        

Sebuah kaki mendarat, tepat di leher Kevin.

Lelaki itu membelalak, begitu pula dengan Lio yang mengira bahwa dirinya akan gugur sebentar lagi. Lio tidak tahu, jika seseorang yang baru ia pikir tidak akan kembali lagi tiba-tiba datang an menyerang Kevin dengan kuat. Sebab Kevin langsung tersungkur, meskipun dia berhasil menyerang kembali lengan Prim.

Berbeda dengan apa yang dipikirkan Lio, Prim lagi-lagi menghilang, tetapi berbeda dengan sebelumnya, saat ini dia menghilang ke salah satu objek taman yang tidak begitu jauh dari tempat sebelumnya. Bahkan Lio masih bisa melihat batang hidung Prim yang segera mengangkat dagunya untuk memperhatikan Kevin.

Lio tertegun lagi, masih memegangi pundaknya, dia mencoba bangkit dan segera melangkah mundur. Prim kembali lagi, kini tidak dengan berlari, dia memanfaatkan kemampuan berpindah tempatnya, untuk menyerang Kevin dari segala sisi.

Kepala Lio merasakan pusing yang sama lagi. Denyut itu tidak henti-hentinya meneror, membuat langkah Lio sempoyongan. Lelaki itu menoleh ke belakang, seberusaha mungkin untuk melarikan diri dan langsung meminta bantuan.

Jika saja dirinya bisa.

BRUK!

Lio terbatuk kencang, mengeluarkan darah dari mulutnya. Lio terdiam sesaat, sebelum dia kembali menarik kakinya, berjalan dengan pincang setelah sebagian perut bagian kanannya menghilang.

"Lawanmu sekarang aku, sialan!" Lio mendengar samar-samar suara Prim dari belakang, berteriak dilanjut dengan beberapa suara tinju yang terdengar sangat kencang.

"Tidak ada orang pun yang ingin menyia-nyiakan usahanya untuk sesuatu yang tidak berguna!" balas Kevin.

Entahlah, Lio merasa bimbang.

Sekujur tubuhnya sakit, kepalanya pusing tujuh keliling, matanya sudah tidak bisa melihat dengan benar. Lio merasa sakit di pundak kirinya semakin bertambah, bagaimana jika dia harus berjuang di sini tanpa tangan kirinya? Apa dia bisa melakukan semuanya? Menjadi seorang karakter utama yang cacat?

"SIALAN!"

Lio membelalak setelah dia mendengar suara Prim yang berteriak kencang, dia segera membalik kemudian menangkis serangan Kevin yang secara tiba-tiba datang padanya. Kevin menggunakan trik yang sama seperti sebelumnya, lelaki itu sekarang berhadapan lagi dengan Lio, sedangkan Prim di belakang sana tampak pucat.

"99 persen ...." Lio menunduk, langsung menggerakkan kaki-kakinya untuk terus menyerang Kevin, meskipun beberapa serangan dari lawannya itu berhasil mengenai beberapa bagian tubuhnya lagi.

Lio sadar, dia sudah tidak bisa untuk meminta bantuan. Matanya melirik Prim yang lagi-lagi datang secara tiba-tiba, kembali menyerang Kevin untuk mengalihkan fokus lelaki itu. Lio mulai berpikir, kalau pun Prim yang meminta bantuan, kemungkinan besar dia akan habis di tempat sekarang.

Tujuannya mungkin harus segera diubah. Lio tidak harus meminta bantuan, tetapi menghabisi Kevin di sini, sekarang juga, tanpa kemampuan.

Apakah bisa?

"Hei! Jujur, aku sangat sakit hati!" Prim melemparkan kembali tendangannya, meskipun Kevin lagi-lagi menghindar dari serangan tersebut. "Aku diabaikan begitu saja, tidak berguna?! Jadi maksudmu aku ini apa, hah?!"

Lio memejamkan mata, kemudian melirik ke sekitar untuk mencari senjata. Tidak, jika aku menggunakan senjata, Kevin akan lebih mudah menghilangkan benda mati itu, Lio berdeham, melihat Kevin yang sedang menyeringai ke arah Prim.

"NPC, mungkin?" ujar Kevin, diiringi tawa pelannya sukses membuat Prim semakin naik pitam.

Prim menendang, meninju, dan terus-terusan melayangkan serangan selagi Lio beristirahat untuk mengembalikan energinya sementara.

MAKE A PLOTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang