Awan hitam yang mulai tertimbun banyak kawanannya sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menyingkir. Di kala hari gelap yang menguasai udara setempat, membuat beberapa orang berlarian dan bersembunyi untuk menghindari insiden-insiden yang sedang berlangsung. Selama itu, banyak yang mengepalkan tangannya agar tidak menyerah dan masing-masing menguatkan dirinya sendiri.
Termasuk seorang anak laki-laki berambut hitam dengan penampilan acak-acakan yang menutup pintu ruangannya rapat-rapat. Dia duduk memeluk lutut, di belakang pintu dengan tatapan kosong yang meminta pertolongan. Dobrakan pintu terdengar, tapi dia sama sekali tidak bisa beranjak dari tempatnya hanya untuk melindungi dirinya sendiri dari orang-orang yang mengincarnya.
"Datanglah." Suara berat itu berucap, disusul dengan ricuh yang cukup ramai di luar ruangan. "Rafael."
Sedangkan lelaki yang sedang menahan ketakutannya, dengan gemetar menutup kedua telinganya. Dia memejamkan matanya, mengingat-ingat apa yang telah terjadi selama beberapa hari di dunia antah-berantah yang sekarang ia tempati. Dimulai dari pill, peraturan hak cipta, dan segala hal aneh lainnya di dalam dunia dengan nama kompetisi.
Awalnya, dia hanya berjalan sendirian di sebuah jalanan sepi yang hanya dipenuhi genangan air dan retakan tanah. Kemudian dia bertemu dengan seseorang yang memiliki niat busuk untuk memanfaatkannya. Orang itu menceritakan semuanya yang telah terjadi, termasuk sebuah komplotan yang bergerak untuk menghadang rencananya.
Tapi.... "Semuanya lebih baik padamu, Arth."
* * *
Fane bersimpuh di atas tanah. Sebuah papan yang selama ini menerornya kembali lagi dengan pemberitahuan yang membuatnya tertawa senang. Namun, saat itu juga dia merasa pedih yang begitu dalam membuatnya tidak bisa mengatakan apa pun lagi selain membelakak dan menahan kedua tangannya untuk menyeimbangkan tubuhnya.
[Hak cipta Anda kembali]
[Pengubahan alur...]
[...]
"Hahahaha ... aku tahu kamu telah mempermainkan diriku, Pak Arth." Everin mengangkat tangan kanannya, melebarkan telapak tangannya yang mengeluarkan cahaya berwarna biru. Cahaya yang lebih mirip layaknya aura mengelilingi seluruh lengannya sebelum benar-benar menghilang dan membuat Everin yang melayang di udara langsung terjatuh tepat ke atas tanah.
Laki-laki berbadan besar di hadapannya berdecih. Dia menghela nafasnya sebelum melemparkan sebuah alat berukuran kecil dan menginjaknya sampai hancur, membuat Everin yang sedari tadi berlutut mendongak menatap lelaki tersebut.
"Di mana si nomor satu?" Arth menolehkan kepalanya untuk melihat ada apa saja yang hadir di sekitarnya. "Terlalu banyak mayat membuat perhatiannya datang, kan?"
Everin tersenyum miring. Kedua telapak tangannya bergerak meraba tanah yang dipenuhi genangan air. Dia memejamkan matanya, merasa begitu bahagia. "Ini semua balasanmu, kamu hanya perlu menunggu sampai kamu akan singgah dari sini untuk menyepakati pemberitahuan dari mereka."
"Aku memang pelanggar aturan, tapi tidak semudah itu aku putus asa sampai membuatku langsung menyerah." Laki-laki itu mengangkat tangannya, perlahan mengeluarkan sebuah benda baru yang tidak asing dalam ingatan, itu adalah pill. Mengingat pill miliknya diinjak oleh dirinya sendiri, pasti Arth langsung membuatnya kembali yang entah datang dari mana. "Setidaknya aku masih punya dia."
"Bisakah kamu membuang semua omong kosongmu?"
Arth menyatukan kedua alisnya. Dia agak terkejut saat beberapa orang mulai berdatangan, di antaranya adalah orang-orang yang awalnya sudah tewas saat pertarungan bersama Amaran dan Darren. Sedangkan orang-orang yang telah tewas karena pengubahan alur dari Arth sendiri masih bergeming, diam di tempatnya tanpa ada pergerakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasiaSebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
