Suara kaki itu terdengar dari belakang tembok membuat Lio tercekat sembari berwaspada. Suasana hening yang luar biasa menguasai, hanya terdengar langkah kaki yang perlahan berjalan ke arah sebuah dinding dengan satu tiang yang masih berdiri tegak di tengah-tengah.
Fane juga memejamkan matanya, sembari menutup mulutnya dia mencoba untuk tidak bersuara. Suara yang ia dengar di dalam pikirannya saat ini membuatnya semakin frustasi. Fane yang gemetaran memegangi lengan Amaran dan Lio yang berada di sampingnya.
Jika kamu mendengarku, ini tentang tujuanku.
"Dia terus berbicara!" seru Fane dengan nada berbisik. Amaran yang terlihat peka langsung menepuk-nepuk punggungnya mencoba untuk menenangkan Fane.
Lio sendiri mencoba untuk mencari sesuatu di sela-sela pembicaraan. Dia melihat pria jangkung yang berjalan dengan gagahnya, dia menggunakan pakaian yang berbeda, sama sekali bukan pakaian yang sering dipakai oleh orang-orang kota.
Pria itu berjalan bersama dengan orang-orang lainnya yang Lio pikir adalah pengikutnya. Apa memang Arth memiliki pengikut juga? Lalu bagaimana dengan Rafael?
Lio tidak sengaja menangkap seorang wanita yang menggunakan jubah sama sepertinya. Wanita itu membuka tudung jubah, menampilkan rambut pendek yang berantakan dan seluruh tubuhnya tampak kotor. Lio merasa tidak asing, tetapi dia mencoba tetap diam untuk melindungi kedua temannya.
"Dia membawa Bibi," ujar Fane membuat Lio membelakak ke arahnya.
Apa wanita di belakangnya itu adalah Everin? Alias bibi dari Fane?
Mereka tidak bisa berbicara saat salah seorang di sana tiba-tiba bergerak mencurigakan. Jelas, dia sedang menggunakan kemampuannya membuat Lio tersigap menyentuh lengan Fane.
Fane yang sudah penuh keringat dengan mata berkaca-kaca menoleh ke arahnya. Melihat Lio yang tiba-tiba menunjuk ke arah telinga Fane, lantas menunjuk kembali ke dirinya sendiri. Fane yang mengerti langsung mengangguk, dan Amaran tidak terlalu mempedulikan mulai bersiap.
Aku melihat seorang wanita di belakangnya. Aku rasa itu Bibimu, Everin. Lio berujar di kepala Fane yang sukses membuat Fane tersentak.
Anak laki-laki itu menunduk, seolah-olah sedang menahan semua kesedihan di dalam dirinya. Matanya yang berair semakin memperlihatkan bahwa dia sudah penuh dengan rasa menyerah. Namun, tidak sampai sana, Fane kembali menatap Lio, lalu menunjuk ke belakang tembok membuat Lio mengangguk.
Lio yang paham dengan bahasa tubuh Fane langsung menoleh, melihat kerumunan yang mulai menyebar. Di antara mereka sudah ada beberapa orang yang keluar dari persembunyian, mereka berteriak-teriak memberontak meminta dilepaskan. Sayangnya, sebagian dari mereka ambruk ke tanah lantas menghilang menjadi partikel-partikel kecil.
[MAP-946-SNE gugur]
[MAP-386-SPG gugur]
[MAP-333-FHN gugur]
Papan biru itu kembali muncul. Saat itu juga ketiganya benar-benar menutup mulut, bukan hanya tiga orang yang dinyatakan gugur, nomor-nomor lain juga menyusul yang membuat mereka semakin berada dalam kewaspadaan.
Fane memalingkan wajahnya melihat Amaran yang sedang berbicara dalam pikirannya.
Mengapa mereka bisa menggugurkan seorang peserta? Bukankah tidak ada pemberitahuan apa pun? Aku juga sama sekali tidak melihat satu pun senjata yang mereka pegang.
Fane menjawab, membuat Amaran mengerti dengan maksud Fane. Setelah itu Lio mencondongkan tubuhnya, lantas menggelengkan kepala dengan cepat. Terlalu banyak yang gugur, dan terlalu banyak peserta yang berada di daerah ini. Selain itu, dia adalah wanita berambut pendek berwarna biru gelap dengan jubah, matanya agak tajam, dia juga wanita dengan tinggi badan rata-rata.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasiSebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
