Lio berlari dengan cepat, matanya menangkap sebuah tempat kecil di sebelah gedung besar, melihat pintu dari tempat tersebut yang terbuka lebar membuat Lio menarik napasnya terlebih dahulu sebelum dia menginjakkan langkah selanjutnya.
"Aku akan mencarimu, The Bad Guy."
Lelaki itu kembali berlari untuk memasuki kawasan gedung besar yang ia lihat pertama kali.
Kepala Lio mendongak, melihat gedung di depannya yang berdiri utuh, tanpa adanya kerusakan yang besar selain retakan dan jatuhnya beberapa dekorasi gedung. Ada sesuatu yang aneh mulai terlihat.
Apa gempa besar satu minggu kemarin tidak berpengaruh pada gedung ini? Atau ... goncangan itu bahkan tidak memasuki wilayah ini?
Lio mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan secarik kertas yang sudah rusak berantakan, tetapi di saat itu pula Lio merasa yakin bahwa kertas tersebut akan utuh seperti semula.
Lio memejamkan matanya penuh sendu. Kemungkinan besar Ardan sangat ingin memberikan kertas itu sebagai 'petunjuk' kepada mereka, tetapi pengurus-pengurus kompetisi bodoh itu secara langsung mengeksekusinya.
Terlebih lagi melihat Samuel yang masih berpikir untuk terus mengambil tindakan, membuat Lio hanya bisa bergerak sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Termasuk menemui seseorang ber-hoodie yang sebelumnya bersama dengan dua orang lain.
Mereka memiliki kemampuan itu, 'kan?
Tuk!
Mata Lio membelalak, kepalanya segera menoleh ke belakang, melihat seseorang yang tiba-tiba saja sudah berada tepat di salah satu gedung tinggi. Matanya menatap tajam ke arah Lio, sedangkan di wajahnya terpasang senyuman miring yang membuat Lio menyatukan alisnya, merasa marah dan murka.
"Orang bodoh," umpat Lio, hendak mengambil kembali kertas-kertas yang berhamburan di atas tanah karena serangan dari orang yang baru saja ia temui saat ini, meskipun sisi tangan Lio sekarang dipenuhi darah karena serangan tersebut.
"Kamu telah salah langkah, memasuki markas musuhmu adalah tindakan teridiot." Kevin bergerak dari atas, melompat bagaikan terjun bebas dari atas gedung tersebut.
Mungkin Lio bisa saja beranggapan bodoh karena Kevin bisa mati saat ini. Namun, dengan cepat lelaki itu berpindah tempat dan justru sudah berada di belakang Lio yang masih memunguti satu per satu sobekan kertas di atas tanah.
Lio berdecih, segera menghindar dari serangan lain yang dilayangkan Kevin. Untungnya, kertas-kertas yang sedari tadi dibawanya aman, membuat Lio langsung berlari dengan kencang dari kejaran Kevin.
BRUK!
BUAGH!
Lio melayangkan kakinya, segera menendang leher Kevin yang tiba-tiba berada di sampingnya. Lio sudah menduga ini, tetapi Kevin juga sudah mengira-ngira, membuat mereka kembali mundur dari tempat masing-masing.
Di saat itu juga, Lio memuntahkan isi perutnya kala dia merasakan tendangan luar biasa di bagian perut. Rambut Lio berantakan total, lelaki itu tidak peduli dan justru lanjut melarikan diri dari Kevin yang terus mengejarnya.
"Jangan jadi pecundang, bodoh!" seru Kevin berteriak kencang dengan tawa kecil yang begitu menyebalkan, membuat Lio berdecih kesal dan semakin mempercepat larinya. "Lawan aku kedua kalinya! Buktikan bahwa kamu sudah sanggup sekarang!"
Mau sampai kapan pun, aku tidak akan pernah sanggup.
Lio mengembuskan napas kasar. Matanya terbuka lebar saat dia melihat jalanan yang hendak dilewatinya tiba-tiba runtuh, membuat tubuh Lio langsung tersungkur dari atas sana dan nyaris terjatuh ke bawah jika saja tangan Lio tidak memegangi sebuah penanda jalanan yang membentang kuat di atas-atas tanah.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasiaSebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
