04. Awal Kehancuran (4)

34 5 0
                                        

Lio duduk di salah satu bebatuan. Dia memegangi kakinya yang terasa pedih akibat kejadian beberapa saat yang lalu. Untungnya, Amaran tahu bagaimana cara menutupi lukanya membuat kaki Lio menjadi sedikit lebih baik. Mungkin itu yang Lio alami sebelum dirinya hanya bisa melihat Amaran dan Darren yang membicarakan banyak hal.

Setelah mereka kembali berbincang-bincang, Amaran dan Darren mengajaknya untuk bekerja sama, tujuannya adalah mencari sang pemilik hak cipta alias si peringkat pertama. Amaran merasa ada yang berbeda, dia pernah melihat banyak cerita-cerita yang bertaburan sebelum kompetisi di mulai, dan cerita itu adalah salah satunya yang ia lihat.

Karena masih awal, cerita itu benar-benar melanjutkan kehancuran dari Sebuah Dunia yang sudah habis dengan bencana. Amaran mengatakan, jika di pertengahan dari babak awal nanti akan ada seseorang yang membuat sebuah pertikaian. Lalu Darren mencoba untuk menghentikannya dengan cara mengajak Amaran, meskipun pada awalnya Amaran tidak terima dan lebih memilih untuk diam dan melanjutkan alur.

"Sepertinya kita akan melanjutkan perjalanan besok. Bukan karena apa-apa, tapi kita semua juga masih begitu terkejut, terlebih lagi ada yang terluka," jelas Amaran membuat Darren yang sedang menatap ke depan itu menolehkan kepalanya dengan tatapan malas. Darren sudah menunggu, sayangnya dia tidak bisa beraksi sekarang.

Lio hanya tersenyum, pada awalnya dia putus asa karena telah berpisah dari seseorang yang telah diandalkannya dalam dunia ini. Namun, sekarang ada Amaran dan Darren yang sudah memulai kerja sama dengannya. Mereka terlihat sangat peduli--sejujurnya itu berbeda dengan Darren, tetapi tidak apa, Lio memaklumi lelaki dingin itu.

"Setelah ini, kami akan mencari makanan untuk persediaan" ujar Amaran dan duduk di sebelah Lio. "Omong-omong, kamu dapat undangan kompetisi ini dari mana? Apa itu dari pesan secara langsung?"

Lio menggeleng. "Aku bukan seorang penulis hebat sepertimu. Seseorang telah memberikanku undangan miliknya secara gratis, dia temanku di sekolah. Sepertinya, dia telah menyelamatkanku, dia mengorbankan dirinya dan pada akhirnya dia juga yang tewas. Bukankah aku sangat jahat?"

Amaran tampak tersentak membuat Lio langsung panik dan melihatnya. Amaran hanya menggelengkan kepalanya sebagai ujaran jika dia baik-baik saja. Amaran tersenyum ke arah Lio, kemudian berujar, "Tenang saja. Terkadang kita tidak perlu mempercayai sesuatu secara berlebihan, termasuk temanmu itu, Lio. Mungkin dia memang sudah seharusnya seperti itu, bukan? Entah karena keinginannya atau memang paksaan."

"Keinginannya ...." Lio memegangi tengkuknya, dia merasa gugup dalam beberapa saat.

Darren menghampiri Amaran dan membisikkan sesuatu membuat Lio memiringkan kepalanya bingung. Tak lama dia melihat Amaran yang mengeluarkan pill-nya untuk melihat sesuatu. Sekilas, Lio mendengar suara getaran dari pill Amaran.

"Ada seseorang yang mengirim identitas padaku." Amaran langsung menekan tombol awal dan menggulir layarnya. "Dia pasti tidak jauh dari sini. Anehnya dia benar-benar mengirimkan identitas penuh melalui pengenalan. Sama sekali tidak ada yang dikosongkan."

"Memangnya kartu identitas dapat dikosongkan?" tanya Lio penasaran.

Darren menghela nafas lagi. "Aku pikir kamu harusnya mengetahui hal itu. Bukankah setelah peraturan pill, ada semua penjelasan?"

Lio ingat, dia terlalu sibuk membuka pill sampai mengabaikan cahaya biru itu. "Aku sepertinya tidak fokus dengan informasinya."

Amaran menepuk kepalanya. "Kamu benar-benar sesuatu yang mengejutkan, Lio."

Lio mendekat ke arah Amaran yang sedang menekan beberapa tombol di layar. "Begini caranya." Amaran menekan tombol tanda seru yang berada di paling atas profil, setelah itu ada data-data yang harus diisi, dan diakhiri dengan pilihan-pilihan yang Lio kenali. "Jika kamu mengosongkan tanda centangnya, maka itu juga tidak akan terlihat di identitas orang lain."

MAKE A PLOTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang