Di sini lagi.
Kini Prim yang memimpin. Ketika katanya dia baru saja menggunakan kemampuannya lagi untuk melihat benda-benda yang bisa mereka manfaatkan untuk beberapa hari ke depan.
Bertahan hidup dengan makanan yang entah berasal dari mana. Sekiranya ada beberapa minimarket yang masih tersisa. "Atau memburu di hutan yang luas, negara ini memiliki hutan yang luar biasa. Yah meskipun kita tidak akan mendapatkan apa-apa, sih, karena tidak ada hewan satu pun di sana! Hahahaha."
"Jadi untuk apa kamu mengatakan itu?!" seru Rei, sedikit pusing dengan kata-kata yang baru saja diberikan Prim.
Lelaki Jepang itu baru saja terbangun di siang hari, mungkin karena cukup lelah dia justru ikut ketiduran di ruangan yang sama. Netranya merespon secara reflek terhadap cahaya matahari yang tiba-tiba menyengat begitu hangat tepat pada wajahnya yang sedang terlelap.
Rei baru saja terbangun, tetapi dia sudah disuguhkan dengan informasi tak berfaedah yang diberikan Prim.
Yah mungkin karena tidak ingin suasana yang cukup tegang, lelaki Singapura itu harus terus mencoba untuk mencairkan suasana.
"Kalau begitu kamu di sini saja dulu, Kimura. Aku yang akan keluar mencari makanan lain." Prim tersenyum senang. "Meski aku memiliki teleportasi, tapi aku ingin melihat kawasan ini secara luas. Daerah yang katanya dipenuhi kehancuran, apakah itu benar, atau tidak lah, aku akan mencari tahu itu."
Prim beranjak dari duduknya, sedikit memberikan senyuman sebelum ia berbalik untuk pergi keluar dari rumah buatan Tala.
"Aku ingin ikut, tapi aku harus menjaga rumah ini." Kemudian, sang pemilik memperlihatkan dirinya.
Prim mengangguk. "Tidak apa! Aku sedikit bingung, bagaimana kamu bisa mempertahankan persentasenya ...."
"Mudah! Ketika aku mempertahankan latar tempat, persentasenya akan berkurang sebanyak satu persen selama tiga hari. Justru yang menyerap banyak ketika aku membuat latar baru, atau trik kombinasi yang aku lakukan seperti tadi malam." Tala menjelaskan dengan semangat, sepertinya beberapa orang mulai sadar jika gadis itu memang sangat suka dengan kemampuannya.
Tidak seperti lelaki dengan nomor dukungan 67 yang sedang terpuruk di pojok ruangan saat ini.
"Kemampuanmu banyak gunanya," balas Rei membuat Tala tersenyum gugup sembari memegangi tengkuknya. "Kalau begitu, Prim ... tidak masalah kamu pergi sendirian? Sejak pagi tadi Samuel dan Ardan sudah sibuk. Oh, apakah kamu akan pergi dengan kemampuan teleportasi?"
"Hm, sebenarnya tidak." Prim memegangi dagunya. "Jika menggunakan kemampuan itu, aku akan kesulitan melihat daerah ini. Jadi aku akan mencoba mencarinya sambil berjalan kaki."
Tala tertawa pelan, lebih tepatnya tertawa ragu. "K-kalau begitu semangat!"
"Baiklah, aku pergi dulu–"
"Aku ikut."
Ketiganya menoleh, melihat Lio yang entah sejak kapan berada di ambang pintu. Dia melakukan kontak mata dengan Prim yang masih berdiri tegak di tempatnya. Wajahnya jadi sedikit bingung, perlahan menoleh ke arah Rei untuk meminta persetujuan.
Lelaki itu bukankah tadi sedang mengalami masa gundah yang berat?
"Yah, seharusnya tidak menambah rasa stresmu," sahut Rei kepada Lio yang membuat lelaki itu menunduk.
Prim mengangguk. "Baiklah, ayo kita pergi." Prim bergerak, merangkul Lio untuk segera pergi dari rumah itu. Tak lama pintunya tertutup rapat, meninggalkan Tala dan Rei yang kembali fokus pada kegiatan mereka masing-masing.
Mereka melangkah, keluar dari bebatuan yang menghalangi. Berjalan bersandingan dengan suasana yang cukup hening. Wajah Lio masih masam, sedangkan Prim terlihat tidak berani untuk mengajak lelaki itu berbicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasíaSebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
