Matanya melirik sebagian besar orang yang berbondong-bondong untuk menyelamatkan diri dari banyaknya reruntuhan. Bukan gempa atau bencana apa pun, tapi karena seseorang yang sedang melatih dirinya, dia juga sukses membuat banyak orang terluka.
Seorang remaja laki-laki dengan surai hitam panjang yang dikuncir, kini tengah berjalan di atas gedung terbengkalai. Hanya sendirian, dengan peluh yang penuh, mata yang terantuk-antuk, dan sebuah benda kecil menyala dengan asap yang kemudian ia hisap.
Tempat ini adalah tempat yang unik menurutnya. Dia bisa melihat banyak orang saling bertegur sapa, tapi setelah itu mereka membuat sebuah kekacauan tiada tara. Layaknya orang-orang bermuka dua yang sama sekali tidak memiliki minat dalam rasa kemanusiaan.
Apakah memang seperti itu?
[Pengumuman peringkat!]
Dia melihat pill-nya. Namun, seolah tidak peduli yang membuat pill itu kembali dimasukkan ke dalam sakunya dan dirinya lebih memilih untuk mengisap sigaret yang masih tersisa di tangannya.
"Apa kamu orang asing?"
Kepalanya menoleh, melihat seorang anak laki-laki yang terlihat lebih muda darinya bertanya. Rambutnya yang hitam berantakan diterpa angin, membuat ekspresi dari anak laki-laki yang dirinya lihat tampak lebih tegas.
Terlebih lagi, anak itu masih terbata-bata dalam perkataannya.
Dia tersenyum sebelum merasakan sesuatu. Yah, dia memang sempat berjalan sepanjang hari untuk memasuki satu wilayah yang cukup dekat dengan kawasannya. Dan saat ini, dia sedang menempati wilayah tersebut.
Nyatanya, pulau yang begitu indah ini harus hancur karena bencana di awal kompetisi. Orang-orang yang berhamburan juga sangat panik, sampai tidak dapat mempercayai satu sama lain. Sejujurnya, hal itu tidak ada bedanya dengan kawasannya sendiri.
Namun, yang lebih menarik perhatiannya adalah anak laki-laki pribumi yang masih memberikannya tatapan tajam.
"Frasky."
Anak itu mengangkat satu alisnya. Dia terbingung dalam beberapa saat, mencoba mencerna satu kata yang dilontarkan seseorang di hadapannya.
"Itu bukan kata-kata dalam bahasaku. Itu namaku."
Oh, hanya sebuah nama, tertampang di mimik wajahnya, sang anak laki-laki itu melanturkan kata-kata dalam pikirannya.
Anak itu memegangi tengkuknya.
"Kamu berasal dari Australia?"
"Tepat sekali." Laki-laki itu berjalan menuju samping gedung. Melihat banyak kerusuhan yang saat ini membuat perasaan bergejolak dari hatinya. "Negara ini membuatku terkejut. Banyak yang singgah ke sini untuk memilih tempat peristirahatan, 'kan?"
Anak itu menunduk. "Apa kemampuanmu?" tanya anak itu lantaran menunggu orang itu membuang sigaretnya terlebih dahulu.
"Aku akan membantumu untuk membersihkan daerah ini," jawabnya sembari memberikan senyuman miring membuat sang anak semakin membelakak dan menelan ludahnya gugup. "Selagi menunggu seseorang...."
* * *
"Kenapa ya kita semua mendapatkan nomor urut di angka seribuan?" Lio secara tiba-tiba berujar sambil memasukkan sereal yang menemaninya sebagai sarapan. "Padahal semua orang di sini kan banyak, kita juga memiliki nomor urut yang diacak, 'kan?"
Darren yang sedang memainkan pill miliknya hanya menoleh tanpa ada rasa ingin menjawab pertanyaan Lio. Dia sudah lelah semalam harus terus mendengarkan celotehannya, ingin beristirahat sekali untuk itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasySebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
