14. Awal Kehancuran (14)

9 5 0
                                        

Darren menghela napasnya, melihat Amaran yang berlari kecil menghampirinya. Gadis itu menutup mulut, melihat Darren yang masih berdiri tegak dengan kondisi sehat bugar. Namun, dengan banyaknya bercak darah di sekitar baju lelaki itu, membuat Amaran yakin bahwa kejadian tragis yang dia lihat memang benar adanya.

"Itu adalah kesalahan fatal." Pria di samping Amaran menyahut membuat wanita yang baru saja menyiapkan dirinya tepat di belakang Darren tertawa setelah mendengarnya.

"Pria itu sebenarnya tidak naif, aku bahkan tidak yakin apakah dia sudah mati atau masih bisa mengembuskan nafasnya di dunia ini."

[PERINGATAN!]

[PERINGATAN!]

[Babak 1 akan berakhir tepat esok hari pukul 00.00 Pagi! Para juri sedang menilai proses selama melewati babak pertama! Di esok hari, para peserta diperkenankan untuk meluangkan waktunya agar dapat menulis bagian kedua dari babak pertama!]

[PERINGATAN LAINNYA! Panitia menemukan beberapa kesalahan serta pelanggaran. Beberapa peserta yang telah mengacaukan kompetisi sedemikian mungkin akan mendapatkan eliminasi!]

[MAP–900–SYE telah gugur!]

[MAP–...]

[MAP–...]

[MAP–...]

Amaran menolak untuk melihat beberapa orang yang berguguran. Lalu di akhir-akhir nama yang membuatnya sangat terkejut.

[MAP–190–ERR telah gugur]

"..."

Wanita di samping Darren yang tengah membersihkan topinya segera menghampiri Amaran.

"Malangnya dia."

Amaran membelakak, menatap wanita yang saat ini hanya memberikan senyuman kepadanya.

Setelah dilihat lebih detail, nomor yang tertera di papan itu milik Everin Rainey, yang tak lain adalah bibi dari Fane dan sang tokoh penting dalam babak pertama karena berhasil mendapatkan sebuah kekuatan yang sulit untuk diwujudkan.

Nyatanya, Everin harus tetap gugur karena dinyatakan telah melakukan pelanggaran di dalam kompetisi. Memang benar, Amaran juga melihat apa yang sebenarnya. Dari sekian banyaknya orang yang melakukan tindakan di luar peraturan, Everin adalah satu-satunya orang yang paling mencolok.

"Ini nomor Everin?" Darren berujar membuat Amaran tersenyum miris sembari mengeluarkan nafas kasarnya. "Apakah kita harus menyusul teman kita, Amaran?"

Amaran mengangkat kedua bahunya. "Pertama kali kita bertarung dan berjuang untuk menghadang semuanya setelah kita bertemu dengan anak itu. Dia juga telah menemani kita belakangan ini."

"Baiklah, datangi."

* * *

"Bibi Everin!"

Fane berlari kencang, meraih kedua tangan Everin lantas menggenggamnya erat, sebelum Lio dan Alesia bergerak untuk menghampiri ketiganya. Alesia tentu saja tersentak, dia terkejut karena melihat seseorang yang benar-benar gugur tepat di depannya.

Sedangkan Lio merasakan kesedihan mendalam. Bukan karena Everin yang sebentar lagi akan menghilang, tapi karena dia ikut meratapi nasib Fane. Anak laki-laki itu sudah lama melewati masa penderitaan, dan semuanya ia terima secara berurutan tanpa adanya jeda. Dan kini, dia juga kehilangan salah satu orang terpenting bagi hidupnya.

Nyatanya, semua kesengsaraan itu bisa datang kapan pun.

"Bi! Bi!"

MAKE A PLOTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang