Lio terus memicingkan matanya tanpa sebab, dari daerah tempat tidur menuju sebuah meja di dalam ruangan. Sebuah ruangan yang ia tempati sama sekali tidak ada apa pun lagi selain keberadaannya, termasuk pemikiran-pemikiran sulit yang entah akan datang di saat Lio harus bergerak.
Bisa saja dia sudah bergerak pun, tidak akan ada harapan yang akan datang padanya, atau akan?
Ah, di balik kehidupan banyak orang yang Lio lihat sangat andal, Lio bahkan tidak menyadari sesuatu dari dalam ingatannya. Dia merasa tidak pernah berkembang, dan semua yang dirasakannya bagaikan suatu pengalaman yang berkelibat begitu saja.
"Apa aku punya kemampuan?" Lio bergumam, masih duduk di atas kasurnya dengan posisi memeluk lutut. Semua kertas perencanaan River sudah dibawa, membuat meja itu hanya menyisakan beberapa alat tulis. "Aku punya atau tidak, sih?"
Lio menghela napas. Dikurung di dalam ruangan seharian, sukses membuat kepalanya penuh dengan pemikiran tidak penting.
Mau bagaimana pun orang-orang memaksanya, Lio tidak akan pernah berani memperlihatkan kemampuannya. Hal itu seakan-akan menjadi ketakutan terbesar yang tidak akan pernah Lio duga. Bukan hanya karena sampah, tapi karena sesuatu yang-
Lio terdiam, setelah banyak merenung, dia menggelengkan kepalanya cepat. Pikiran-pikiran itu mengganggunya, Lio tidak pernah merasa terganggu dengan apa yang dia miliki termasuk kemampuan itu. Dia hanya sedang tidak siap untuk mengendalikan semuanya dan lebih memilih untuk melirik lingkungan sekitarnya saat ini.
Namun, semua itu tetap saja berada dalam kepalanya. Bahkan, Lio seperti mendengar samar-samar sebuah suara dari anak kecil yang tidak asing dalam ingatannya. Suara yang begitu kenal, suara yang begitu khas, dan suara yang begitu Lio rindukan.
"Tunggu-"
Lio tidak menyadari semua itu.
"Lio! Aku sudah mengirimkan sebuah identitas!"
Aneh, suara apa itu?
"Daripada kamu terus merenung tanpa arti seperti itu, lebih baik kamu cepat bekerja! Aku menggunakan kemampuan orang lain saat ini dan itu sangat terbatas!"
Lio terdiam.
"F-Fane?"
"BODOH! CEPAT LIHAT PILL-MU!"
Lio berdecak, mengacak-acak rambutnya sebelum dia membuka alat kecil yang ia simpan di kantung celananya. Tangannya bergerak membuka benda itu yang kemudian berubah menjadi sebuah benda besi dengan layar yang cukup jelas.
Lio mendapatkan identitas.
"Rafael River?!"
[Nama: Rafael River
Nama Pena: River
Nomor: MAP-847-RFR
Jenis Kelamin: Laki-laki
Usia: 17 Tahun
Jenis Kemampuan: Alur
Kemampuan: Pengubahan Alur
Tingkat: S
Peringkat: 1 (No. 1)
Kemampuan yang dipakai: 985%]
Lio membeliak.
"P-pengubahan alur?!" Tubuhnya segera bergerak dari tempat tidur, memperhatikan indentitas River yang tampak begitu sempurna. "Ah sial, aku jadi merasa tidak pantas bersama dengannya!"
"Tugasmu, Lio."
Lio kembali mendengar suara, tapi itu adalah suara yang berbeda dari suara Fane.
Suara Rafael.
"Aku tidak ingin kamu mengecewakanku. Cobalah gunakan kemampuanmu dan buat River berada dalam tanganmu," ucap suara itu dengan nada yang sedikit berat.
Laki-laki itu kembali menutup pill-nya. Duduk lagi di atas tempat tidur sebelum menoleh, melihat sebuah cermin yang terpasang di bagian dinding kanan memperlihatkan paras dari seorang Elio Brayan yang tengah berdiri dalam kekalutannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasiaSebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
