Apa itu?
[Menghitung mundur 00:15:18]
Beberapa anak di sana langsung berdiri dan mulai berteriak panik. Sang guru yang sedang mengajar sebelumnya segera memberikan arahan, mempersilakan anak-anak yang lain agar cepat keluar kelas, termasuk Lio yang merasa kebingungan dengan Esther yang menariknya keluar dari kelas.
Lio agak bingung, kenapa Esther tiba-tiba menariknya keluar padahal teman-teman perempuan lainnya memanggilnya dan secara bersamaan belari keluar kelas menuruni anak tangga untuk sampai ke lapangan. Gempa yang besar itu masih dirasakan oleh Lio, tentunya oleh semua orang yang dengan panik mencari bantuan. Sayangnya, semuanya juga kesulitan.
"Apa ini?!"
"Gempa besar!"
Masih terasa. Lio melepaskan tangannya dari Esther dan melihat sebuah peringatan waktu di layar kuncinya.
[Menghitung mundur 00:13:56]
"Bisa-bisanya di saat genting seperti ini kamu masih memeriksa ponselmu?!" Esther berseru memperingatinya, tapi Lio hanya berdecak dan kembali menyakukan ponselnya. Memang benar, gempa ini cukup besar tapi tidak terlalu dirasakan oleh Lio.
Sampai gempa berikutnya datang membuat Lio merasa sangat pusing. Bangunan sekolah terlihat retak, beberapa anak kembali berteriak berlarian menyelamatkan dirinya sendiri. Di antara mereka semua, ada yang berlari keluar sekolah disusul yang lainnya.
Esther berteriak kencang. "Hei! Di luar lebih banyak bangunannya, satu-satunya lapang itu di sekolah kita!" Gadis itu mencoba menahan dua orang dengan tangannya. Namun, mereka langsung melepaskan Esther dengan cepat dan ikut berlari keluar sekolah.
"Ibuku! Ibuku ada di rumah sendirian, bagaimana ini..."
Lio menoleh melihat ke arah seorang lelaki yang dia kenal adalah teman sekelasnya. Anak itu hanya berlutut, memegangi kepalanya yang sudah bercucuran banyak keringat. Lio bisa melihat kekosongan di matanya, dia benar-benar ketakutan sedangkan Esther yang masih mencoba menahan yang lainnya, dia berdecak kesal dan meneriaki sebagian orang itu.
"Sudahlah, Esther. Pikirkan dirimu sendiri, kita harus mencari tempat yang aman." Sang ketua kelas menahan tangan Esther, tapi gadis itu semakin berdecih, dia tampak sangat kesal.
"Di mana?"
Ketua kelas dan Esther menoleh ke arah Lio yang terlihat santai dengan wajah bertanya-tanyanya.
"Aku tanya, di mana? Tidak ada yang tersisa sekarang, sebentar lagi bangunan ini akan runtuh dan kemungkinan besar mereka akan terjatuh tepat ke tengah lapangan karena sekolah kita cukup tinggi."
Esther menggigit bibirnya, ketua kelas maju perlahan untuk memperhatikan Lio lebih dekat, sedangkan orang yang sedang diamati itu kembali mengeluarkan ponselnya dan melihat peringatan waktunya yang terus ada di sana.
[Menghitung mundur 00:10:25]
"Kamu santai begitu ...." Esther menghela nafas, dengan reflek menarik Lio dan ketua kelas yang ada di depannya.
Sebuah tembok terjatuh di tempat mereka berpijak, dengan jantung berdegup kencang layaknya berlari sepuluh keliling tanpa henti, Lio memegangi dadanya dengan mata membelakak.
[Menghitung mundur 00:10:00]
"Ini..." Giliran sang ketua kelas yang menarik Lio dan Esther menuju tempat lain setelah dia merasa ada yang tidak beres dengan tempat sebelumnya. Benar saja, reruntuhan mulai datang dan menimpa tempat sebelumnya. Benar-benar mengerikan.
"Kenapa tiba-tiba seperti ini?!"
"Apa kita juga harus keluar dan mencari lapangan luas lain seperti mereka?" Esther bertanya membuat sang ketua kelas menggelengkan kepalanya merasa tidak setuju. "Tidak ada yang peduli dengan masing-masing orang sekarang, para guru juga sedang sibuk menyelamatkan dirinya, 'kan?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasySebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
