Semenjak kejadian itu, tiga hari setelahnya, mereka semua dilanda keheningan dan kesunyian.
Tidak ada satu pun yang gugur, entah karena apa juga sistem tiba-tiba saja menghancurkan dunia kompetisi. Apa itu pengaruh juri? Apa itu juga pengaruh panitia? Tidak ada yang bisa menebak, apalagi mereka semua saling menjaga jarak.
[Nama: Satra Niran
Nama Pena: (belum didapatkan)
Nomor: MAP-4767-SRN
Jenis Kelamin: Laki-laki
Usia: 18 Tahun
Jenis Kemampuan: Latar
Kemampuan: Pemindahan Latar Tempat
Tingkat: B
Peringkat: -
Kemampuan yang dipakai: 70%]
Laki-laki itu memicingkan matanya, berjalan ke sebuah padang rumput yang cukup luas di hadapannya. Mungkin karena kehancuran kemarin, semuanya tersapu bersih. Dan entah kapan tempat ini jadi memiliki banyak rumput, atau Satra tidak dapat melihat tempat ini sebelumnya?
"Apa yang kamu bicarakan kemarin dengan si warga pribumi itu, Lova?" Satra menoleh, melihat gadis itu yang sedang menatap sekitaran bukit di depan rerumputan tersebut.
"Hm?" Lova menoleh, mengangkat satu alisnya.
[Nama: Shaenette Lovata
Nama Pena: Lova
Nomor: MAP-7357-SNL
Jenis Kelamin: Perempuan
Usia: 17 Tahun
Jenis Kemampuan: Latar
Kemampuan: Pengamatan Latar Tempat
Tingkat: A+
Peringkat: 64 (No. 1)
Kemampuan yang dipakai: 75%]
Lova menghela napasnya. "Aku baru mengamati setiap tempat di kehancuran kemarin, aku sebenarnya tidak mengetahui apa-apa, sih, tentang semua itu." Lova melirik tajam ke arah Satra. "Namun, aku secara tak sengaja melihat bayangan dari beberapa tanah terbang itu yang seharusnya tidak ada."
"Apa?"
"Dia punya kekuatan langka--atau mungkin kemampuan yang seharusnya bukan dibuat untuk dirinya." Lova tertawa pelan. "Tanah yang bukan berasal dari sini itu kemampuan orang lain, bukan atas peraturan sistem."
Satra memegangi dagunya. "Jadi, para pengurus kompetisi itu mencoba untuk menghancurkan kita?"
"Ini masih belum pasti, tetapi aku pikir, mereka mencoba untuk menghancurkan warga pribumi itu. "Saat kita melarikan diri, aku melihat mereka langsung berpindah tempat dengan kemampuan si gadis itu. Dan anehnya kehancuran yang katanya dibuat sistem itu tiba-tiba berhenti, benar, 'kan?"
Satra tersenyum. "Kamu terlalu genius untuk saat ini."
"Jadi menurutmu aku tidak pernah sejenius itu?" Lova duduk di samping Satra yang masih berdiri, beruntungnya mereka diam di dekat pohon besar, sehingga bisa meneduh di bawah benda tersebut. "Lalu bagaimana dengan Regha? Belakangan ini dia tidak mengacau seperti biasanya, apa dia sedang membuat sesuatu yang luar biasa?"
Satra mengangkat kedua bahu, kemudian ikut duduk di sebelah Lova, menatap rerumputan di depan yang disertai langit biru membentang.
"Aku memang lebih takut jika Regha diam seperti ini." Satra mengembuskan napasnya. "Sepertinya anak itu kehabisan persentase, atau dia sedang berada dalam masa gawat, tapi aku tidak berpikiran itu sebenarnya ... karena ini masih hari kelima setelah babak keempat dimulai, tidak mungkin persentasenya langsung habis begitu saja."
"Benar, 'kan! Ugh, aku agak khawatir sedikit." Lova memeluk lututnya di atas rumput itu. "Apa akan ada kejutan, ya?"
Satra mengedipkan matanya.
"Sepertinya ada."
"Mereka mengancam."
Kedua orang itu menoleh, melihat seseorang yang baru saja mereka bicarakan tiba-tiba datang sambil melempar-lemparkan pill-nya.
"Huh, siapa?" Lova bangkit, begitu pula Satra yang langsung menghampiri Regha di sana. "Apa orang-orang yang kemarin?"
"Bukan, aku tidak mau lagi terlibat dengan mereka sebenarnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasíaSebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
