Lio membuka pintu ruangan, mengendap-endap menuju sela-sela bangunan seperti beberapa tempat yang diapit tiang atau tempat duduk. River sudah berpamitan untuk kembali keluar dalam menjalankan beberapa tugas baru untuknya, sedangkan Lio yang masih dipenuhi perasaan penasaran tidak ingin terus diam.
Sesuai janjinya, dia akan bergerak untuk menyelamatkan Amaran dari sini serta mendapatkan tulisan yang River buat di babak kali ini.
Namun, Lio tidak cukup percaya diri. Dia tidak bisa melakukannya sendirian dan membutuhkan bantuan, termasuk bantuan Amaran yang pasti saat ini menyadari semuanya.
"Seseorang telah melarikan diri."
Lio berhenti melangkah, menolehkan kepalanya lantas menatap seorang lelaki Jepang yang belakangan ini selalu bersamanya. Benar, itu Rei yang berhasil menciduk Lio untuk melarikan diri, tetapi pada dasarnya Lio tidak berniat melarikan diri sama sekali.
"Bukankah beberapa petugas di sini sudah mengatakannya agar kamu tidak kabur?" tanya Rei membuat Lio mengembuskan napas lelah.
"Ayolah, aku hanya sedang menyelamatkan temanmu." Lio mencoba berhati-hati, dia tidak terlalu berani untuk menentang Rei yang memiliki kekuatan pengendalian, hampir mirip seperti yang dimiliki Darren.
"Siapa maksudmu?"
Lio tidak tahu jika yang dilakukannya telah melanggar perjanjian bersama Rei. Namun, Lio mencoba menggunakan otaknya meskipun sedikit sulit karena takut jika dirinya salah melangkah.
"River...."
"Oh? Kamu sekarang berteman dengan orang itu?" Rei mengangguk-anggukan kepalanya, tidak biasa River diselamatkan seseorang. Rei sejujurnya tidak mengerti, tetapi dia mencoba untuk terus memancing pembicaraannya.
Bahu Lio terangkat, Lio enggan untuk menjawab dan sekarang dia hanya ingin keluar dari ruangan untuk mencari Amaran segera dan meminta bantuan pada gadis itu.
"Kamu baru saja mendengarkan dongeng yang mana?" Rei meremehkan, cukup membuat Lio mengangkat kedua alisnya bingung.
Lio mengangguk dengan senyum lebarnya, tidak mau kalah dari Rei. "Aku juga bekerja, tetapi aku menggunakan perasaan karena tujuanku adalah itu. Anehnya kenapa kalian selalu saja bertujuan untuk menghancurkan satu sama lain?" Dan pada akhirnya, angkat bicara.
"Tidak ada yang lebih penting dari keselamatan diri sendiri di dunia ini." Rei mengembuskan napasnya. "Dan saat aku mengobatimu, aku hanya sedang mengerjakan salah satu tugasku di sini. Mereka tidak ingin seseorang yang tidak menjadi target gugur, karena persaingan juga cukup mengasyikan untuk mereka."
Rei mengangkat tangan kanannya, dengan telunjuk yang berputar-putar menunjuk ke arah samping kanan, sebagai isyarat.
"Orang-orang gila...." Lio tertawa kecil, sedikit panik. "Lantas, apa yang kamu inginkan dari tujuan kalian ini? Bukankah itu merepotkan hanya untuk satu tujuan seseorang? Arth Elvis, seseorang yang memerintah kalian?"
"Orang itu memiliki pengaruh yang besar untuk memperlihatkan dunia di luar kompetisi kepada kami. Lagi pun, kenapa kamu selalu ikut campur? Jika memang kamu ingin sekali mencampuri urusan kami karena tujuanmu juga, bukankah kita sama saja? Egois."
Benar juga, Lio setuju dengan apa yang dikatakan Rei.
Namun, dia melihat manik mata River. Auranya berubah, bukan seperti biasanya yang mengintimidasi atau hanya sekedar untuk menghancurkan orang lain. River adalah karakter utama, tetapi kemarin dia berkata jika dirinya sama sekali tidak sama dengan apa yang Fane katakan.
Seseorang yang telah mengutak-atik semuanya itu hanyalah seseorang yang sukses membuat semua orang untuk mengikutinya. Arth Elvis, seorang antagonis sekaligus penjahat sebenarnya yang begitu cerdas.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasiSebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
