"Ini benar daerahnya, 'kan?"
"Daerah sebelumnya kita bertemu orang-orang aneh itu?"
Samuel mengeratkan mantel yang ia gunakan. Dinginnya daerah sini seperti sedang bersalju, padahal negara ini hanya memiliki dua musim dengan iklim tropis.
Tala juga sekarang menggunakan tudung dari mantel yang baru saja Samuel buat sebelumnya. Rasa dingin yang membekap mereka sedikit menakutkan--bahkan sangat menakutkan.
Samuel bahagia ketika pill-nya kembali lagi, tetapi Ardan meminta waktu sendirian karena dia sedang mencoba mengeluarkan kemampuannya di sebuah tempat. Pada akhirnya Samuel mengajak Tala untuk mencari teman-temannya yang lain di daerah sini.
Mereka semua tidak mungkin berpatok pada satu kawasan, maka dari itu, keduanya terus berjalan. Samuel menyarankan Tala agar tidak terlalu banyak menggunakan kemampuan itu, karena persentasenya benar-benar kuat.
"Jelas-jelas di sini," ujar Tala pelan.
Tangannya bergerak untuk menyingkirkan semak-semak di depan sana, membuat Tala membelalak melihat apa yang terjadi.
Reruntuhan itu penuh, tebing-tebing yang mereka lihat juga runtuh, memenuhi dataran. Namun, bukan itu yang membuat Tala kebingungan, tetapi seorang anak laki-laki berambut hitam yang sedang mondar-mandir di sekitar reruntuhan.
"Itu anak kecil?" Tala mengangkat satu alisnya melihat tinggi si lelaki. "Ah iya, wajahnya juga persis seperti anak menengah pertama."
"Anak kecil?"
Samuel mengangkat satu alis, mencondongkan tubuhnya untuk melihat apa yang diintip oleh Tala. Wajah itu tampak seperti orang Asia, apakah anak laki-laki itu pribumi juga?
"Yah, setidaknya kita bisa melihat kehidupan, 'kan?" Samuel hendak berjalan keluar dari semak-semak, tetapi Tala langsung menahan tangannya.
"Hei, kamu tidak akan mengajak ribut orang lagi, 'kan?" Tala menghela napas. "Meskipun dia terlihat lebih muda dari kita, tetapi auranya cukup berbeda. Dia sama seperti orang aku lawan saat itu, dan sepertinya jauh lebih kuat."
Samuel tertawa kecil. "Apa yang kamu takutkan dari anak kecil? Dia memang hebat masih bisa bertahan sejauh ini di dunia konyol yang sedang kita tempati. Aku hanya mencari informasi, Tala."
"Baiklah, dan kita harus bisa menyusul Ardan setelah ini." Tala mengikuti Samuel dari belakang, menyusuri reruntuhan tanah, melangkah ke arah anak laki-laki yang masih diam menatap dataran lain di depan sana.
Padahal udara sedang sangat dingin, tetapi mengapa lelaki itu tampak masih sibuk di sana?
"Permisi."
Kepalanya menoleh, memperlihatkan wajah asingnya yang membuat Tala dan Samuel sedikit terkejut.
Anak itu hanya mengangkat satu alis, sebelum dia menatap kedua orang di depannya dari ujung kepala sampai kaki-kaki mereka.
"Siapa?" Anak itu menggosok-gosok kedua telapak tangannya, membuat Samuel dan Tala sadar bahwa dia juga sedang kedinginan.
"Kamu seorang peserta?" Anak itu hanya mengangguk mendengar pertanyaan Samuel. "Sebelumnya, aku sedang mencari peserta lain juga. Dia orang Jepang, tingginya lebih pendek tiga senti dariku. Satunya lagi orang Singapura, tubuhnya sedikit kurus, krempeng ... ah iya! Satu lagi laki-laki dari Inggris, wajahnya agak jelek, dia selalu tidak percaya diri. Dan persamaan dari tiga orang itu, mereka orang-orang aneh."
Suasana hening seketika.
Anak itu mengernyit, kemudian mengedipkan matanya beberapa kali.
"Dia sepertinya tidak mengerti, Sam." Tala berbisik tepat pada telinga Samuel, membuat Samuel menghela napasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasíaSebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
