Udara terasa bergerak. Terutama Rei yang langsung tersentak dan memegang dinding rumah Ardan. Mata lelahnya menoleh ke sekeliling, melihat Lio yang sedang berkutik dengan pill-nya, serta Prim yang terbaring di atas lantai.
Tidak, lantainya seratus persen berbeda dengan lantai rumah Ardan. Namun, Rei juga merasa tidak asing dengan lantai ini.
"Tenang! Aku tidak akan menghancurkan rumahmu, Ardan!" seru Tala, membuat Rei langsung mengerti dengan apa yang terjadi saat ini.
[BABAK 3 DIMULAI!]
Karena jam sudah menunjukkan pukul 00.00, maka sistem kembali beraksi untuk memulai kompetisi babak keempat. Semua kemampuan para peserta juga dikembalikan kepada pemiliknya, termasuk kemampuan seorang wanita bernama Tala Karla.
Gadis itu bahkan terlihat tidak peduli dengan pemberitahuan sistem, justru mencondongkan tubuhnya ke arah jendela, mengendalikan tempat dengan latar rumah yang baru saja ia buat lagi.
"Kamu terlalu bersemangat, Tala." Rei akhirnya berbicara, tetapi Tala yang berada di luar ruangan lagi-lagi terlihat tidak peduli. "Sepertinya karena ide dari Samuel, dia jadi ketagihan."
Rei menoleh, ada dua orang yang tidak hadir di ruangan saat ini. Katanya, Samuel hendak mencari ide untuk memanfaatkan kemampuan Ardan yang cukup rumit. Mereka ada di lantai atas, entah sedang melakukan penelitian seperti apa.
Ternyata tidak sesuai dugaan. Kedua orang itu langsung turun dan memasuki ruangan, meskipun Samuel sempat diam sejenak untuk menatap Tala yang keasyikan memindahkan latar dengan rumah buatannya.
"Sudah sampai!" seru Tala membuat mereka tersentak, apalagi Samuel yang baru saja menyaksikan aksinya.
"Wah, kamu sudah ahli, Tala."
Tala menoleh, tersenyum ke arah Samuel kemudian melakukan tos satu sama lain.
"Itu sangat hebat, bagaimana kamu melakukannya?" Ardan bertanya selagi Tala dan Samuel memasuki ruangan.
"Itu menggunakan trik kombinasi." Orang-orang di sana tampak kebingungan, sedangkan Tala mencoba menjelaskan, "Awalnya aku menggunakan kemampuan latarku, kemudian setelah itu membayangkan beberapa tempat. Aku hanya membayangkan nama kotanya saja sih, tapi aku tidak menyangka itu akan berhasil."
Rei menganggukkan kepalanya. "Apa ada sesuatu yang lain? Tampaknya kamu jadi terlihat sedikit lelah."
"Karena kombinasi itu menyerap persentase yang cukup tinggi." Bukan Tala, justru Samuel yang menjelaskan. "Sesuai dengan pembayangan paling spesifik, tidak seperti saat berpindah dari Inggris ke sini. Tala bisa langsung menyesuaikan tempat, jadi semakin tinggi persentasenya."
"Aku kira karena jarak ...," ujar Ardan sedikit lirih, membuat Samuel menganggukkan kepalanya, karena sepertinya lelaki itu juga pusing.
Rei berdeham. "Kalau begitu istirahat saja, kita bisa berlindung di tempat buatan Tala saat ini. Kamu juga, Tala." Tala tersenyum tipis ke arah Rei, gadis itu terlihat tidak memiliki tenaga lagi bahkan hanya untuk berbicara.
"Ah aku tidak perlu! Ada yang masih harus aku lakukan." Samuel menatap Ardan, membuat Ardan membalasnya dengan senyuman.
Ardan juga tidak keberatan, bahkan dia begitu berterima kasih kepada Samuel yang secara sukarela membantunya, atau memang Samuel sangat penasaran dengan kemampuan Ardan.
"Sepertinya aku juga." Rei melirik Lio yang sedari tadi diam memperhatikan pemberitahuan. "Ada yang harus aku urus."
"Ohh, orang itu ada lagi!"
Mereka menoleh, memberikan atensi kepada Samuel yang tiba-tiba berseru.
"Bahkan dia menjadi pemilik hak cipta."
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasySebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
