Amaran mengerutkan alisnya. Dia berhasil melangkah sampai gerbang depan, berbeda dari bangunan sebelumnya, tempat yang saat ini ia lihat sangatlah luas dan megah. Terlebih lagi ada beberapa struktur atau bahkan hiasan di sekitar bangunan.
"Mereka menyia-nyiakan kemampuan hanya untuk hal yang datang sementara seperti ini," ujar Amaran yang justru membuat perhatian seseorang mengarah padanya.
"Yah, begitulah cara kami melatih kemampuan rekan-rekan kami."
Amaran menoleh ke belakang. Dia sedikit terkejut karena seseorang yang sedang berjalan ke arahnya saat ini masih begitu diingat olehnya. Pria dengan rambut berwarna kuning pirang menggunakan jas hitam dengan memegang sebuah benda berasap di tangannya.
"Kita bertemu lagi," sapa pria berambut pirang itu, sembari menaikkan kedua alis. "Aku pikir, kami bisa bekerja sama dalam babak ini. Ternyata kamu resmi menjadi salah satu orang dari pria itu?"
Sedangkan gadis berambut merah muda yang hanya memutar bola matanya malas, mengembuskan napas. "Jadi? Apa alasan kalian mengendalikanku sampai membuatku melompat dari lantai tiga? Terutama temanku yang dibuat sekarat oleh pihakmu."
John tersenyum seraya melambaikan tangannya untuk menjawab pertanyaan dan pernyataan Amaran.
"Membuat seseorang sekarat sama sekali bukan rencana siapa pun. Mungkin saja itu pemikiran spontan Kimura?" John menyeringai setelah melihat seorang laki-laki yang muncul dari belakang Amaran.
Dengan sigap, Amaran langsung berbalik dan membuat ancang-ancang. Namun, seseorang yang Amaran duga bernama Kimura ini hanya melewatinya tidak peduli. Dia menatap sinis John yang sedang berdiri sambil mengisap sebuah sigaret yang sedari tadi berada di tangan pria itu.
"Berhenti menyebutku Kimura, namaku Rei," sahut Rei sebelum dia benar-benar menghilang dari pandangan Amaran dan John.
"Anak yang tampan, bukan? Dia orang Jepang." John tertawa pelan saat melihat Amaran yang memperhatikannya dengan tatapan jijik. Memang benar, Kimura Rei adalah salah satu wajah yang sangat asing dalam pandangan Amaran, mungkin karena dia tidak pernah menemukan seseorang dengan tipe wajah seperti Kimura Rei.
Amaran menghela napas. "Berhenti bercanda. Aku seharusnya tahu apa tujuan kalian, tapi sepertinya ada seseorang yang bisa menutupi semua itu dariku?" Amaran mengangkat kedua alisnya bersamaan dengan senyum jahat yang seolah meminta petunjuk lain.
"Memang benar. Anak bernama River itu yang dapat membuat semuanya menjadi begitu mudah, termasuk berhadapan denganmu." John menjatuhkan sigaret yang masih utuh di tangannya ke atas tanah. Dia menginjak benda itu hingga benar-benar padam. "Nona serba tahu, karena hak ciptamu sudah dimiliki seseorang, jadi kami tidak bisa berbuat banyak padamu."
Amaran menyatukan alisnya, semakin merasa tidak benar. Orang-orang yang sedari tadi mondar-mandir di sekitar halaman tempat juga mulai menghilang. Sedangkan John memberikan kedipan mata yang membuat Amaran bergidik jijik.
"Kami membutuhkanmu untuk memberitahukan beberapa informasi, sekaligus melatih kemampuanmu juga," ucap John, menggerak-gerakkan telunjuknya ke atas dan ke bawah layaknya seseorang yang sedang menggambarkan ilustrasi. "Bukankah ini simbiosis mutualisme? Kamu dapat meningkatkan kemampuanmu, dan kami akan mendapatkan sesuatu yang menyertai rencana kami saat ini."
Gadis berambut merah muda itu mendengus. "Apa hanya itu yang aku dapatkan? Sangat membosankan, apa yang bisa aku lihat dari kemampuan itu?"
"Tingkat kemampuanmu sangat tak terkalahkan, Amaran. Meski kamu masih berada di tingkat B, tapi kamu sudah bisa menjadi orang yang memiliki banyak informasi seperti ini. Apa kamu tidak membayangkan itu? Bagaimana jika kemampuanmu meningkat pesat menjadi SSS+ atau mungkin legend sampai tidak bisa dikalahkan?" lanjut John.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasiaSebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
