Darren melirik ke arah sekitarnya. Dia diam di sebuah bangku yang berada tepat di depan bangunan rumah yang sebelumnya ia tempati. Wilayah ini benar-benar sepi, tetapi banyak orang yang sepertinya sedang bertugas. Yang Darren tahu, mereka semua adalah orang-orang yang dijadikan anak buah oleh Rafael, dan kemungkinan besar dirinya juga akan mengikuti pihak Rafael.
Darren berpikiran hal seperti itu, sebab beberapa orang yang tinggal di sini hampir semuanya sama seperti bawahan Rafael. Termasuk seorang gadis yang sedari tadi berjalan mondar-mandir, dia membawa pill yang telah diubah bentuk menjadi sebuah layar agak besar. Gadis itu juga memegang sebuah pulpen yang memang terletak di samping pill.
Saat dia berhasil menempati sebuah tempat yang berada di sudut halaman bangunan, dia menyandar di tembok dan mulai menulis. Darren yang melihat tindakan gadis itu menghela napas. Setelah dia didiamkan di dalam sebuah ruangan, kini dia harus pergi keluar untuk mencari referensi lanjutan alurnya oleh Rafael. Tanpa disangka-sangka, Darren malah bertemu dengan gadis itu.
Matanya berubah menjadi biru dalam beberapa detik. Gadis yang awalnya hendak menuliskan sesuatu di layar mulai berdiri kemudian berjalan ke arahnya dan menyodorkan pill miliknya sendiri. Darren tersenyum senang sebelum dia menghela napas dengan mata biru bersinarnya.
"Katakan."
"Ini tentang hak cipta."
Darren mengangkat satu alisnya.
"Seseorang bernama Everin telah berhasil menyebarluaskan sebuah informasi mengenai si peringkat pertama. Dia mengetahui semua alur dan latar belakang yang terdapat di awal babak. Seseorang bernama Arth memulai aksinya untuk membawa orang-orang yang akan menjadi pihaknya, Rafael mencoba untuk mencegah–"
Belum menyelesaikan kata-katanya, pill gadis itu yang awalnya berada di tangan Darren kini berubah menjadi sebuah gunting berukuran besar. Darren segera melepaskannya saat dirasa telapak tangannya mulai mengeluarkan darah yang mengalir dengan cepat.
Gadis itu segera sadar dan langsung mengambil gunting yang mulai berubah kembali menjadi pill.
"J-jangan pernah ...." Gadis itu menelan ludahnya, wajahnya muram melihat Darren yang mengembuskan napas sembari mengibaskan tangannya agar darah-darah itu menghilang. "K-kamu baru saja menghipnotisku?"
Darren berdecak. "Tidak selamanya begitu, tapi itu mendekati."
"T-tidak akan aku biarkan," ujar gadis itu perlahan. "Aku akan membalasnya."
"Tenanglah, aku hanya perlu tindakan lain. Dan seseorang yang telah menguasai kompetisi di babak pertama," jawab Darren.
Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain dengan gugup. "Bukan ...."
"Jangan terlalu kasar kepada seorang perempuan, Darren." Rafael menghampiri keduanya kemudian memberikan sebuah kain berwarna putih tepat saat Darren benar-benar membutuhkannya. "Dan jangan gunakan kemampuanmu untuk hal-hal yang tidak terlalu penting."
Darren melirik sinis. "Ini penting untukku, aku ingin kembali pada teman-temanku dan salah satunya dengan cara melihat alur keseluruhan."
Rafael tertawa pelan. "Fane Haven dengan nama pena Heaven, seorang pemilik saat ini. Dia adalah peringkat pertamanya dan aku adalah peringkat kedua, tidak perlu susah payah sampai harus menggunakan kemampuanmu. Padahal kamu hanya perlu menanyakannya saja padaku," jelas Rafael menatap ke langit-langit dengan segala basa-basinya.
"Tapi apakah kamu bersedia?" tanya Darren.
"Tergantung, apakah niatmu menguntungkanku atau tidak." Darren menepuk tangannya satu kali untuk membuat perhatian Darren dan gadis di hadapannya menoleh ke arahnya. "Aku ingin kalian berdua saling berkenalan dan berteman sebelum kalian ribut karena saling melukai."
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasiaSebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
