"Eh seriusan? Orang luar? Lagi?"
Rei menoleh, melihat seseorang yang baru saja menjatuhkan sebuah keranjang berisikan buah-buahan. Seseorang di sampingnya terlihat terkejut, meskipun dia tidak membawa apa-apa, dan justru menatap Rei dengan mata berbinarnya.
"Ganteng lho dia. Mungkin, si cewek orang Asia Tenggara, wajahnya tidak asing."
"Ada seseorang." Tala sedikit menolehkan kepalanya ketika Lio berbicara, dia sedikit tersentak melihat dua orang lelaki yang memperhatikan mereka dari kajauhan.
Rei berdeham pelan. "Mereka sepertinya sedang membicarakan kita. Bagaimana?" Rei melirik Tala yang terlihat kebingungan. "Omong-omong menurutmu bagaimana, Tala? Apa kamu mengerti sesuatu dengan kondisi saat ini?"
Tala menelan ludahnya, untuk menghilangkan rasa gugup. "Lelaki yang sedikit jangkung itu sepertinya orang pribumi, sedangkan seseorang di sebelahnya itu orang Asia Tenggara lain."
"Asia Tenggara lain?" Samuel mengangkat satu alis, tidak mengerti.
"Seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, dan yang lainnya ...." Tala menghela napas. "Termasuk negaraku juga."
Rei melamun, sembari menatap dua orang yang terlihat berjalan menghampiri mereka. Mungkin Rei harus lebih banyak belajar, dia mengerti, tetapi semua informasi yang masuk begitu saja ke kepalanya cukup sulit dicerna.
Lelaki Jepang itu menoleh, melihat Lio yang justru mengambil tempat dan duduk atas pasir. Dia tidak menghiraukan apa pun, justru terus fokus untuk menulis. Sejak kemarin, lelaki itu selalu yang paling sibuk berkutik dengan pill-nya.
"Apa kita harus menyapa mereka?" tanya Samuel membuat Rei lagi-lagi menatapnya tajam.
"Semua orang suka keramahan," ujar Tala dan sedikit melangkah untuk menyambut dua orang lelaki yang baru saja sampai di hadapan mereka. "Halo! Apa kalian orang sini? Kami baru saja sampai kemari."
Salah satu di antara mereka, yang kata Tala sedikit lebih kecil, tampak semringah. "Kalian pengguna kemampuan latar tempat? Kamu orang Asia Tenggara, 'kan?" Dia melemparkan senyumannya kepada Tala, lantas melirik ke sekeliling untuk mengamati Rei dan Samuel. "Dia berasal dari ...." Namun, Rei dilewati olehnya dan justru menunjuk ke arah Samuel. "Kamu Eropa, ya?"
Samuel tersenyum lebar. "Benar! Aku berasal dari Inggris!" seru Samuel, menunjuk kepada dirinya sendiri dengan wajah yang terlihat sangat percaya diri.
Rei terdiam, menatap Tala dan meminta penjelasan.
"I-iya, perkenalkan aku Tala Karla, aku orang Filipina. Yang satu ini namanya Kimura Rei, dia berasal dari Jepang. Lalu yang dari Inggris namanya Samuel." Tala menoleh ke belakang, untuk mengarahkan kedua orang di depan mereka. "Yang di sana juga orang Inggris, namanya Lio. Dia sepertinya sedang sibuk menulis ...."
Tala terdiam, mungkin saat dia dia sedang menahan rasa gugupnya yang luar biasa. Takut jika kedua orang di depannya saat ini justru merasa heran dengan penjelasan Tala.
Mungkin juga tidak seperti itu, karena kedua orang itu juga terlihat paham.
"Aku Prim, dari Singapura." Prim sedikit membungkuk, kemudian merangkul seseorang di sampingnya. "Dia Ardan, orang sini. Kami bertemu karena aku salah tempat sebelumnya."
Tala tersentak. "Apa kamu juga memiliki kemampuan latar tempat?"
"Iya, kemampuanku juga latar tempat." Prim tersenyum senang, dan terlihat sedikit ragu. "Agak jarang orang-orang mampir ke sekitar sini karena ada kericuhan di satu tempat daripada di sini, dan mereka lebih tertarik pergi ke sana. Apa kalian memiliki tujuan tertentu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasySebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
