53. Lokasi Kemampuan

3 1 0
                                        

Lio menggosok kedua telapak tangannya. Padahal tubuhnya sudah dibalut dengan mantel hangat yang telah Samuel buat. Hawa dingin yang cukup menusuk membuat penglihatan Lio menjadi sedikit kabur, bahkan sekarang dia tidak bisa memperkirakan di mana Rei dan Samuel yang telah menghilang begitu saja dari pandangannya.

Mungkin karena Lio juga merasa lelah. Hanya bisa menunggu babak keempat datang, karena menulis pun belum lelaki itu lakukan.

Sampai pada akhirnya Lio duduk di sebuah jalanan yang agak sepi. Tidak ada siapa pun di sini. Hanya ada dirinya yang duduk di atas tanah, memeluk dirinya sendiri karena udara yang begitu dingin. Matanya lurus ke depan, Lio mungkin merasakan sesuatu di depan sana.

"Aku melihat seseorang!"

Kepalanya menoleh, tak sengaja ia menangkap seorang gadis yang berlari sembari mengangkat satu tangan ke arahnya. Gadis itu melambai pelan, yang tak lama membuat Lio mengingat sesuatu.

Seorang gadis yang baru saja gugur dalam kompetisi ini, sama sekali belum Lio lupakan meskipun sudah lima hari dia terus berjalan menyusuri setiap daerah.

"Briton din siya!" Bahasa yang tidak dapat Lio tangkap. Entahlah, wajah Lio mungkin sebentar lagi akan membeku, apalagi dia harus menerka-nerka siapa orang asing yang ada di hadapannya saat ini."Lamig mo ata! Tutulungan kita agad! Tenang saja ...."

Lio sungguh tidak bisa memikirkan apa pun sebelum matanya terpejam, berbaring di atas tanah tersebut.

* * *

Rei dan Samuel.

Di mana mereka sebenarnya?!

"Sejujurnya kami berterima kasih karena telah dibantu. Aku harap aku bisa memberikan hal yang serupa, tapi saat ini kami sedang dalam keadaan genting."

Lio yang segera terbangun dan mengubah posisinya menjadi duduk segera menoleh. Dia menatap Rei yang sedang berbicara dengan gadis itu, Rei hanya tersenyum, tidak seperti pertama mereka bertemu.

Mungkin karena gadis itu orang asing?

"Nih minum."

Lio sedikit tersentak melihat Samuel yang menyodorkan segelas air hangat di sebuah gelas kayu kepadanya.

"Kamu harus berterima kasih kepada gadis itu, dia rela membuat rumahnya sendiri demi dirimu." Lio lagi-lagi terkejut, nyaris saja air hangat yang sedang diminumnya ia semburkan kepada Samuel. "Apa, sih? Tenangkan dirimu, Bung."

"Maaf, aku hanya terkejut," jawab Lio pelan.

Rei yang melihatnya segera berdiri, bersama dengan gadis itu yang ikut beranjak dan segera menghampiri Lio.

"Bisakah kamu santai sebentar?" Rei sedikit menyenggol Samuel dengan lengannya. "Dia baru bangun, jadi tidak akan sejernih itu pikirannya. Lagi pula sudah aku katakan berapa kali untuk melupakannya, Lio. Kamu akan kesusahan sendiri nantinya. Untung saja ada gadis ini yang membantu kita, jika tidak ... kuso ttare kiero."

Samuel tercengang. "Wow, aku tidak mengerti, tapi berapa tingkat kekasarannya?"

Lio menghela napas. Memang benar, sejak awal dia selalu diberikan kata-kata tidak mengenakan dalam bahasa Jepang oleh lelaki Jepang itu. Meski tidak mengerti, Lio merasa sedikit sakit hati.

Gadis di samping Rei tertawa pelan. "L-lebih baik kita berbicara dulu sebentar. Ada yang ingin aku tanyakan pada orang-orang Inggris tentang babak selanjutnya."

MAKE A PLOTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang