29. Karakter Utama (15)

4 3 0
                                        

Fane tersentak, dia begitu terkejut saat tubuhnya tiba-tiba dibawa masuk ke dalam bangunan. Melihat Darren dan Amaran yang menyambut di hadapannya, Fane kian menyadari akan kehadirannya.

"Akhirnya kamu datang!" seru Amaran, memegangi dahi Fane untuk memeriksa keadaan anak laki-laki itu.

Fane yang gemetaran mengepalkan tangannya. Dia menunduk dengan surai rambut yang menghalangi pandangannya, benar-benar menutupi seluruh wajahnya. Fane belum ingin melihat sesuatu terjadi, dia bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menyelesaikan semua masalah ini.

"Kamu mengerti itu bukan, Fane?" Darren berujar, tidak peduli dengan apa yang Fane rasakan, dia lebih ingin menyelamatkan semua orang yang masih berada di dalam bangunan. Pasalnya, jika sistem itu rusak maka akan ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dan mengancam mereka semua.

"Aku tidak tahu...." Fane memegangi lengannya dengan udara dingin yang mulai menusuk kulit. "Aku tidak pernah tahu."

"Bodoh, Rafael River itu adalah karakter yang kamu ciptakan, 'kan?!" Darren semakin melangkah maju, ditahan oleh Amaran yang segera menarik tangannya kemudian menenangkan lelaki itu.

Fane menggelengkan kepalanya. Apa yang harus dia lakukan sedangkan kekuatannya hanyalah mendengarkan isi hati seseorang?

'Apa ini sudah saatnya?' Dengan suara yang masuk ke dalam pikiran, cukup membuat Fane segera memegangi kepalanya frustasi

Dia terus-terusan mendengarkan ujaran River yang sedang bertarung dengan Tuan Bert. Mungkin bukan hanya River, dia juga mendengarkan pembicaraan antara Samuel dan Lio yang sedang menyaksikan, serta jeritan bahagia Tuan Bert yang tengah melawan River.

'Fane, kamu ada di sini, 'kan?'

Lagi, lelaki itu setiap saat berbicara dengannya.

"Apa dia kecewa padaku?" Amaran dan Darren terdiam, melihat Fane yang memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu. "Dia kecewa padaku ... padahal seharusnya aku bisa mengendalikan semua."

'Tidak! Fane....'

Sial, berhenti melakukan itu.

Fane memejamkan matanya, tidak ingin mendengar banyak. Dia hanya melirik Amaran yang masih mencoba menenangkan. "River menggunakan kemampuanmu, Amaran."

"Apa?"

"Aku tidak bisa banyak bicara karena dia akan mengetahui semuanya." Fane menunduk, bahkan dia mengalihkan pandangannya agar tidak menatap lurus ke depan.

Namun, hal itu lagi-lagi ditepis Darren. Lelaki itu memberontak dari pegangan tangan Amaran, kemudian menarik tangan Fane dan bergegas pergi ke ruangan inti.

"Kami tidak perlu omong kosong."

"Tapi apa yang harus aku lakukan?!" Fane berseru setelah mendengar ujaran Darren, dia mencoba melepaskan diri meksipun mustahil. "Aku tidak tahu harus apa! Kemampuanku tidak mencukupi itu semua, aku kalah telak olehnya!"

"Dia membutuhkanmu!" teriak Darren lebih tegas.

'Ayolah, Fane. Kamu benar-benar tidak merindukanku setelah kamu tidak menulis lagi?'

Orang sialan.

Fane berdecak, dia sedari tadi berusaha menghindar dari River. Namun, langkahnya yang terus dipaksa oleh Darren cukup membuat Fane berhenti di samping ruangan inti, tidak sengaja bertemu dengan Lio yang segera menghampirinya.

Fane benci, dia tidak ingin bertemu dengan River. Perasaan yang tercampur aduk rasanya sulit dikendalikan ... rasa bersalahnya, rasa bencinya, rasa kesalnya, rasa takutnya, semuanya.

MAKE A PLOTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang