08. Awal Kehancuran (8)

13 3 0
                                        

Lio menelan ludahnya, dia hanya menutup mulut tepat di belakang Amaran yang sedang memikirkan sesuatu. Di depan Amaran, Fane sedang mencoret-coret tanah yang mulai kering karena sinar matahari, dengan ranting kayu yang sama, dia sama sekali tidak menuliskan strategi selanjutnya atau maksud apa pun lagi tentang kompetisi.

Fane saat ini memiliki kondisi yang buruk, itu semua terlihat dari mimik wajahnya yang tampak putus asa. Anak itu sudah tiga jam merenung setelah dia diberitahu tentang identitas baru yang Amaran berikan, dan Lio sama sekali tidak menyadari semua kebenaran yang membuat Fane bergundah di pagi hari ini.

Identitas wanita berumur 27 tahun itu rupanya adalah bibi dari Fane yang sering anak itu ceritakan.

Seharusnya Lio tahu tentang itu, bahkan saat Amaran hendak memberitahukan hal itu kepada Fane dia merasa ragu-ragu yang pada akhirnya membuat Lio sadar jika Amaran sudah tahu tentang bibi Fane, Everin Rainey. Lebih terkejut lagi, saat keduanya sama-sama tidak mengerti mengapa seseorang yang tak diketahui memberikan identitas wanita tersebut.

"Aku hanya mengira jika Bibi selama ini memang akan mencaritahu tentangku, ternyata dia mengamati karakterku, dan begitu tahu tentangku dia langsung meninggalkanku begitu saja entah apa alasannya ...." Ujaran itu dilontarkan dari mulut Fane beberapa menit yang lalu sebelum anak itu benar-benar sedih dan hanya bermain di atas tanah dengan sepotong ranting kayu.

Amaran berdecak, gadis itu mengacak-acak rambutnya dan mundur perlahan agar dapat duduk bersandingan dengan Lio. Dia terlihat sangat frustasi, mungkin keinginannya dalam membantu Fane agak meningkat karena Amaran sendiri merasa sangat penasaran.

"Lio, kemampuanmu ...," tanya Amaran membuat Lio berdecak.

"Berhentilah, tidak ada yang bisa kamu gunakan dariku."

Amaran berdecih dan segera memalingkan wajahnya. Lio sangat tidak aman setelah seseorang langsung menanyakan kemampuannya, dia memang pernah memberikan identitas kepada Amaran dan Darren, bahkan dia juga berkenalan dengan Fane menggunakan identitas.

Sayangnya, di saat yang bersamaan, Lio merasa malu karena dirinya kurang mengetahui berbagai macam sistem yang sudah tersusun di dalam pill. Mungkin Amaran mengerti tentang perasaannya sehingga gadis itu tidak banyak bicara dan kembali diam menatap Fane yang ada di hadapannya.

"Fane itu baru memasuki masa seriusnya guna mendapatkan pendidikan tinggi, 'kan? Kita begitu," ucap Lio mengatakan pembahasan sembarang karena merasa sangat bosan.

"Benar, dia mungkin baru saja masuk SMA?" Amaran menghela nafas berat. "Tapi dia cukup keren, anak semuda itu bisa menghasilkan karya yang cukup baik, bahkan dia orang pertama yang memiliki hak cipta."

Lio mengangguk menyetujui balasan Amaran.

"Omong-omong tentang hak cipta ... untuk melancarkan yang lain termasuk menemukan Arth dan Rafael, kita harus bisa menjaga hak ciptanya. Jika salah satu di antara mereka yang mendapatkannya, itu akan menjadi sulit." Amaran mengubah posisinya dengan memeluk lututnya. "Benar juga yang dikatakan Fane, kita harus bisa menggugurkan salah satunya agar semua pergerakan kita leluasa dan tidak ada hambatan apa pun."

"Rafael, bukan?" tanya Lio sekilas.

Amaran mengangguk. "Dan aku juga harus cepat-cepat mengerti mengapa orang ini tiba-tiba memberikan identitas Everin Rainey yang merupakan bibi dari si peringkat utama? Aku yakin, pasti ada alasan tersendiri."

"Kamu berkata jika seseorang termasuk tokoh-tokoh penting mengetahui tentang Fane, tapi bagaimana cara mereka mengetahuinya jika bukan karena kemampuan atau alasan lain?"

"Alasan lain?"

"Semisalnya ada seseorang yang dengan sengaja menyebarkan identitas Fane, 'kan? Setelah itu dia juga memberitahukan tentang isi babak pertama yang Fane tulis?"

MAKE A PLOTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang