Suara mesin mobil itu terdengar sangat kencang. Mereka sampai di sebuah kawasan yang tampak begitu hancur, mengenaskan. Pepohonan sudah tidak ada lagi, tanah-tanah penuh dengan retak tak menentu, begitu pula dengan beberapa bangunan yang nyaris menyatu dengan tanah.
"Itu mereka!" Kema yang duduk di samping Lio memicingkan matanya, menatap tiga orang di tengah-tengah sana yang sedang dikelilingi kalut.
Lio membelalak, lantas membanting setir ke arah lain untuk menghindari sebuah serangan yang nyari saja mengenai dirinya. Serangan itu cukup besar, sukses menghilangkan setengah pohon yang berdiri di dekat mereka.
Jiwa dan Regha yang masih berusaha di sana tampak kelelahan, berbeda dengan Kevin yang terus mengeluarkan serangan dari berbagai sisi. Sulit untuk mencari celah di antara mereka, apalagi menerobos tanpa membahayakan seseorang.
Lio menghela napas, kembali membawa setir itu ke jalan yang cukup sempit, bukan ke arah tiga orang yang sedang menjadi bahan perhatian mereka.
Jelas-jelas, aku harus membantu mereka.
"Lio, mau ke mana?!" Kema sedikit berteriak karena suaranya tidak terdengar akibat beberapa bagian bawah mobil yang mengenai dinding-dinding tebing.
"Orang itu sudah tidak bisa diselamatkan." Lio mempererat genggamannya pada setir mobil, matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan yang menajam. "Kita tidak bisa bermain dengan kemampuan lain lagi, tidak ada cara."
Kema terdiam. "Kamu ...?"
"Tolong bantu aku, Kema!"
Kema tersentak, matanya menatap tepat ke arah Kevin yang masih tertawa terbahak-bahak. Regha dan Jiwa cukup kesulitan, tetapi mereka sama sekali enggan untuk menghentikan semuanya, sebelum orang itu gugur.
Kema memicingkan mata, sebelum dia kembali menatap lurus ke jalanan sempit yang hendak mereka lewati.
Tuk!
Satu serangan sukses mengenai wajah Jiwa. Membuat Regha spontan memberikan serangan lain dengan keruntuhan yang berbeda. Lelaki itu hendak menghampiri Jiwa, sebelum beberapa bangunan kecil kembali berdiri.
Bukan hanya bangunan itu, wajah Jiwa juga terselamatkan. Anak itu menarik napasnya beberapa kali, menghilangkan rasa gugup luar biasa ketika ia mengira bahwa dirinya akan gugur saat itu juga.
"Ada apa?!" seru Jiwa menoleh ke sekitaran mereka untuk memeriksa keadaan.
"Kemampuan ini seperti ...." Regha terdiam, sebelum dia menoleh ke samping, melihat Kevin yang hanya diam di tempatnya dengan wajah kesal.
BRUKK!!
Tubuh Regha terpental beberapa meter dari keberadaan Jiwa, dan itu semua bukan berasal dari Kevin.
Jiwa membelalak, matanya menangkap seorang gadis dengan rambut panjang yang bergerak secara perlahan karena terpaan angin. Gadis itu memberikan senyuman miring ke arah mereka, terutama pada Kevin yang hanya menatap gadis itu dengan wajah penuh dendam.
"Apa? Kamu tidak suka kesenanganmu diganggu?" The Bad Guy, berdeham pelan dengan tatapan angkuh yang ia berikan sepenuhnya kepada Kevin.
Jiwa terdiam sejenak, gadis itu pernah ia lihat sebelumnya. Namun, terakhir kali Jiwa perhatikan, mereka berdua berada di pihak yang sama. Jiwa tahu bahwa Skya juga berteman dengan orang-orang ini, tetapi mengapa mereka tampak bermusuhan seperti itu?
Jiwa segera bangkit, hendak berlari untuk menyelamatkan Regha yang baru saja teratuk tanah. Lelaki itu bahkan saat ini masih belum bangkit, entah karena sudah tidak sanggup, atau memang dia ingin menyimpan tenaganya sebelum kembali bertindak.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasySebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
