Fane memegang erat kedua kursi mobil di jok belakang. Darren mengendarai di depan, dengan Alesia yang hanya memperhatikan di samping Darren. Aturan pertama, Alesia sulit untuk membuat benda seperti mobil karena tingkat kemampuannya belum mencukupi, kemudian dengan cepat mereka mencari sesuatu di luar bangunan.
Benar, mereka menemukan mobil terlantar yang sepertinya akan rusak sebentar lagi. Karat terletak di mana-mana, terlebih lagi mobil ini sedikit gentat karena sebagian benda dari bangunan-bangunan yang runtuh telah menimpa bagiannya.
"Sebelah kiri!"
Darren memutar setir mobil sehingga roda-roda yang berjalan mulai ikut berputar, berbelok sebelum Darren sadar jalan lurus dipenuhi dengan sisa-sisa bangunan.
"Apa kamu mendengar lagi?" tanya Darren membuat Fane terdiam, lebih mengeratkan genggamannya dengan perasaan pani.
"Memang sudah dekat, tapi aku sama sekali tidak mendengarkan suara kerumunan itu." Fane menghapus keringat yang keluar dari kepalanya. Menelan salivanya untuk memendam kegugupan berlebih. "Aku mendengarkan suara seseorang, tapi itu...."
"Huh?"
"DARREN HENTIKAN MOBILNYA!"
BRUK!
Darren meringis, kepalanya teratuk setir mobil. Untungnya Alesia berhasil melindungi diri dan menahan bagian depannya dengan benda yang baru saja ia buat.
"Siapa orang itu?!"
Fane membelakak, segera dia membuka pintu mobil membuat Darren langsung menoleh ke arahnya. Penuh pertanyaan atas tindakan-tindakan yang sama sekali tidak Darren mengerti, membuat lelaki itu ikut turun dari mobil disusul Alesia yang segera memunguti benda-benda miliknya.
Jelas, Darren melihat gerak-gerik seseorang yang baru saja menghadang mobilnya. Dia langsung melarikan diri begitu saja dengan kecepatan yang luar biasa. Melihat rambut berwarna hitam dengan gaya acak-acakan itu, serta terlihat manik mata merahnya dari samping membuat Darren langsung menyimpulkan jika dia adalah River.
"Kita sudah dekat!" seru Fane ikut berlari. "Aku mendengar mereka! Suara Lio, sepertinya dia sudah bertemu dengan Amaran."
"Syukurlah." Alesia menghampiri kemudian memberikan dua senjatanya kepada Fane dan Darren.
Fane terus berlari, sambil mendengarkan ujaran hati seseorang. River terus berbicara di dalam kepalanya. Laki-laki itu sepertinya sudah tahu tentang Fane, terutama kehadirannya saat ini.
Benarkah aku karakter utamanya? Pertanyaan itu masuk dan berbicara ke dalam pikiran Fane.
Pergerakan Fane agak melambat, membuat Darren yang sedari tadi mengawasinya segera menepuk pundak Alesia dan berlari lebih cepat dari keduanya. Alesia yang menyeimbangkan langkahnya dengan Fane berusaha mengatur napasnya, dia menatap wajah Fane yang tampak pucat.
Apa yang dipikirkan laki-laki itu?
Aku rasa aku harus berterima kasih padamu, tetapi terkadang aku juga sangat membutuhkanmu, membutuhkan semuanya. Fane berhenti melangkah, menatap punggung Darren yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Dia menoleh ke arah Alesia yang memegangi punggungnya.
"Kamu tidak apa-apa, Fane?"
"Aku melakukan kesalahan?" Mata Fane berkaca-kaca, bertatapan dengan mata Alesia yang terlihat khawatir. "Aku minta maaf...."
* * *
Ini Rafael River, yang pernah ditulis oleh Fane Haven.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasySebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
