"BRENGSEK!"
BUGH!
BRAKK!!
Sebuah bangunan yang cukup tinggi dan tampaknya masih cukup kokoh untuk dipijaki di sana mulai bergetar hebat. Seseorang yang sedari tadi hanya mengamati insiden di bawah segera menghindar, atau bahkan mengubah bangunan yang nyaris runtuh itu dengan bangunan lain, cukup merobohkan satu tanah di sekitar mereka.
"Cukup sudah dengan semua kecurangan ini." Tetap saja, bangunan yang baru Satra bawa runtuh lagi, membuat lelaki berkewarganegaraan Thailand itu terpaksa berdiri di atas tanah, menghindari segala bangunan-bangunan yang masih ada di sekitar mereka.
"Aku tidak melakukan kecurangan, aku yang justru harus menanyakan tentang hal ini." Satra secara perlahan melangkah maju, mendekat ke arah Jiwa yang masih diam sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Jiwa sudah menahannya sedari tadi, karena dia tidak sanggup melihat keguguran lain yang tidak masuk akal terjadi tepat di hadapannya dan sekarang mungkin akan selalu menghantui ingatannya.
"Aku bertindak sesuai alur dari Frasky Ariant, dan mengapa kamu yang ribut di sini?" Satra mengangkat satu alis, untungnya keberadaan mereka agak tersembunyi karena Satra yang terus-terusan menghindar sehingga mereka memijaki sebuah kawasan terpencil. "Tanyakan tentang kekalahan itu kepada dia, dan mengenai sistem yang tiba-tiba bertindak sendiri, seperti sebelum-sebelumnya, bukan?"
Jiwa menunduk, enggan untuk membalas perkataan Satra dan terus mendengarkan semua kalimat-kalimat itu dengan jelas.
"Sistem mencari korban ... atau memang dia kesalahan yang selama ini dicari-cari?" Satra tertawa pelan. Sekarang jaraknya dengan keberadaan Jiwa hanya beberapa jengkal, sampai kedua mata mereka bertemu. "Tenanglah, Bocah. Aku juga sedih, aku tidak memiliki semangat untuk melawan siapa pun."
Latarnya kembali berubah seperti sedia kala, tetapi dengan reruntuhan bangunan yang lebih menjajah sekitaran. Jiwa melirik seseorang yang sedang berlari dari satu reruntuhan ke bangunan kokoh lain, sampai sosok itu tidak dapat dilihat lagi oleh Jiwa, samar-samar menghilang.
"Bangsat ...." Jiwa memegangi kepalanya dengan kedua tangan, dia mengacak-acak rambutnya frustrasi dengan hati yang begitu berat tak karuan.
Kepalanya menoleh, melihat kekacauan di mana orang-orang berkumpul sebelumnya. Sepi, hening, yang tak lama hilang karena salah satu dari mereka mulai bergerak untuk membubarkan, atau sekadar menenangkan mereka.
* * *
Hari-hari itu muram.
Tidak ada yang bisa dilakukan.
"UGH!"
Termasuk lelaki bersurai putih yang kini hanya bisa menyibakkan rambutnya ke belakang, menahan rasa cemas serta emosi yang akan meluap dahsyat.
"Tidak ada ...." Samuel mengacak-acak rambutnya frustrasi, wajah lelahnya selama lima harian ini terlihat jelas, semenjak Ardan dinyatakan gugur, entah disebabkan oleh apa.
Samuel ingin menyalahkan Satra, karena mereka berdua memang sudah saling melawan sejak pertama bertemu. Namun, ada yang aneh juga dari sana. Satra seperti bukan orang yang dengan mudahnya memutuskan kekalahan seseorang begitu saja, dia hanya ingin bermain-main.
Jelas, bukan Satra.
Lingkaran yang mengelilingi Ardan saat itu memang lingkaran sistem, tetapi apa alasan mereka ingin membuat Ardan gugur di babak ini? Tepat saat Ardan bisa mengaktifkan kemampuannya dengan benar.
Samuel menatap tajam robekan keras di genggaman tangannya. Kertas itu benar-benar hancur, tetapi ada beberapa kata-kata yang tidak dimengerti. Kertas-kertas itu harus disatukan kembali untuk membuat tulisannya semakin jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasySebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
