Mata Lio membulat sedari tadi. Dia hanya terduduk melihat Amaran dan Darren yang sibuk, sedangkan Alesia sedang bertugas untuk melihat hal lain yang akan direncakan Rafael.
Aneh, Amaran sudah diundang dalam kubu Rafael tapi dia tidak?
Ketika Lio menanyakannya secara langsung kepada Rafael di tengah-tengah kondisi yang membingungkan, Rafael menjawabnya dengan kata membosankan. Katanya, Lio memiliki tingkat kemampuan yang membuat Rafael tidak tertarik.
Memangnya sehebat apa kemampuan Amaran dan Darren sampai-sampai mereka berdua diakui oleh Rafael? Lalu, kenapa Lio begitu ingin masuk ke dalam kelompoknya padahal Amaran memohon-mohon untuk tidak dijadikan sebagai salah satu anak buah Rafael.
Jadi, yang aneh siapa?
"Berhentilah murung seperti itu, lebih baik kamu membantu kami," ujar Amaran yang baru saja merentangkan tangannya karena merasa kaku.
Lio menghela napas. "Membantu apa? Jika ada sesuatu yang bisa aku selesaikan juga aku sudah selesaikan sekarang, tapi nyatanya aku hanyalah seonggok debu yang tak berguna."
"Kamu berlebihan, ada banyak tugas yang tersisa di sini," sahut Amaran dengan ekspresi jijik saat mendengar jawaban Lio.
"Apa itu?"
"Menyuguhkan kami dengan sepotong roti dan segelas kopi?" Dengan nada bercanda tapi mimik wajah yang datar, Darren menyahuti kata-kata Lio membuat Lio memutar bola matanya.
Laki-laki itu berdiri dari tempat duduknya, meninggalkan ruangan membuat Darren segera memanggil.
"H-hei, aku hanya bercanda!" seru Darren membuat Amaran hanya menggelengkan kepala.
"Tidak perlu dipanggil, jika memang dia benar-benar membuatkan kita roti dan kopi, bukankah kita tidak perlu lagi membuatnya sendiri?" sahut Amaran disertai gelak tawa yang begitu mengejek.
Darren yang awalnya hendak menyusul karena takut Lio semakin murung kembali duduk di tempatnya. Dia menoleh ke arah Amaran dengan wajah heran, ternyata Amaran adalah salah satu gadis yang memanfaatkan keadaan. Rupanya semua perempuan sama saja.
Darren kembali fokus ke beberapa kertas di depannya. Dia harus benar-benar mendapatkan rencana sesuai dengan apa yang Rafael inginkan. Pasalnya, kedua orang itu ditugaskan membuat suatu perencanaan yang akan mereka pakai untuk berhadapan dengan River yang belum ditemukan pasti identitasnya.
Namun, Amaran benar-benar meyakinkan bahwa River memanglah sang tokoh utama di dalam karangan yang ditulis oleh Fane, membuat Rafael tanpa basa-basi langsung menyuruh semua anggota kubunya.
"Apa aku buat kubu sendiri saja, ya?" Lio nyatanya masih bergundah.
Dia berjalan perlahan ke dapur, mendapatkan sapaan dari beberapa kubu Rafael yang juga sedang bertugas. Tentunya Lio hanya membalas dengan senyuman yang disertai rasa gugup. Kalau dipikir-pikir, anggota Rafael memang dipenuhi orang-orang yang serius, contohnya seperti Darren.
Alesia sendiri memang tidak bisa terlalu fokus seperti itu, tapi gadis itu seringkali bertindak dalam kondisi apa pun, dalam artian bahwa Alesia memiliki suatu kegesitan dan reflek yang membuat dirinya cepat melakukan apa pun.
Lio sampai di dapur, membuka beberapa plastik yang berisikan bermacam-macam bubuk minuman termasuk kopi. Tidak lupa dia membuka roti tawar dan susu yang terletak di bawah lemari makanan.
"Omong-omong, aku tidak pernah melihat Darren memperlihatkan kemampuannya...," gumam Lio setelah selesai membaluti roti tawar dengan selai stroberi yang ditemukannya. "Aku juga bukannya tidak pernah?"
Lio melupakan beberapa pemikiran yang tiba-tiba berkelibat di kepalanya. Sembari bersenandung untuk menghilangkan keadaan sunyi di dapur, Lio mulai membuat kopi di dalam dua gelas beserta menata dua roti tawar di atas piring berukuran sedang.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasiSebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
