BACA SCYLLA'S WAY DULU YA
***
Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
"Rosemary!"
Suara itu memanggil. Saling bersahut-sahutan dengan bunyi letupan berapi. Rosemary hanyut di antara gelapnya laut malam.
Dingin dan basah. Tubuhnya seolah melayang dan waktu berhenti untuk sesaat. Letupan berapi itu masih terdengar, ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya.
"Rosemary ...."
Suara lirih itu makin dekat, seolah seseorang berbicara tepat di telinganya. Ia memejam, menggeleng-geleng lalu matanya kembali terbuka.
Silau cahaya mentari menggelitik netranya. Ia berkedip beberapa kali dan menoleh ke samping. Seseorang tidur sambil melipat tangannya, seperti terjaga semalaman untuknya. Dilihatnya kain yang sudah dingin di atas perutnya, ia segera melempar kain itu dan melihat kondisi perutnya.
Tidak ada yang mengancamnya, hanya simbol aneh yang masih ditinggalkan.
Rosemary bergerak dari ranjang. Telapak kakinya menyentuh lantai yang dingin, lalu ia sedikit terperanjat. Perlahan-lahan mulai melangkah dan terbiasa dengan lantainya.
Perutnya bergemuruh, berbunyi cukup kencang sampai-sampai Arienne membuka matanya setengah sadar.
"Hm?" gumamnya, tak menemukan Rosemary di tempat tidur. Arienne menoleh dan Rosemary menatapnya ragu-ragu.
"Rose ... mary?" Arienne memastikan. Bahkan ia berdiri sambil memasang kuda-kuda, mungkin ia bersiap dengan sikap tak diduga dari si tuan putri itu. Apakah dia berteriak kesetanan karena perutnya sakit atau berusaha membunuhnya dengan jepit rambut yang tajam? Arienne harus waspada.
Namun, sekali lagi Rosemary perutnya memberontak. Bergetar dan menimbulkan bunyi seolah dia belum makan sepanjang hidupnya.
"Ayo kita sarapan," tawar Arienne. Yang tanpa diduga dibalas anggukan antusias dari Rosemary.
Kenapa orang-orang aneh yang ia temui selalu seperti ini ya?
Mereka keluar dari kamar tanpa keributan, bertemu Ethan yang tengah mengipasi bara di bawah tungku dapur. Keningnya berkeringat karena melakukannya dalam waktu yang lama. Lalu ia mengusap keningnya saat akan berbalik untuk memanggil Arienne.
"Aria─astaga!" Ethan memegang letak jantungnya berada. Baik Arienne, Rosemary, dan Ethan. Ketiganya sama-sama mematung, sampai beberapa detik kemudian perut Rosemary yang berbicara.