71 : Dangerously Fall

912 233 48
                                        

Langit malam yang lengang berubah semakin pekat ketika awan hitam bergulung-gulung di atas istana. Sinar di antara reruntuhan paling tinggi memancar dari sela-sela. Suara ledakan api menggelegar. Reruntuhan tinggi itu meledak menampilkan dua sosok tanpa luka sedikit pun.

Rupanya Warlock berhasil melancarkan mantra yang menekankan sihir dari telapak kakinya dan mengguncang tembok-tembok kokoh istana. Batu-batu besar jatuh dari ketinggian, menimpa para bajak laut dan orang-orang istana. Raungan mereka teredam oleh gemuruh bangunan yang runtuh.

Pertempuran yang sebelumnya riuh rendah dengan dentingan pedang dan teriakan perintah kini terdiam, tertelan oleh kehancuran yang menyelimuti. Sekarang debu mengambang di udara seperti tirai kelabu, membungkam segalanya dengan kesunyian yang mencekam.

Hanya bayang-bayang Warlock yang terlihat di antara puing-puing, menandai kemenangan dari kelicikannya. Tak perlu susah payah melawan satu persatu dari orang-orang rendah itu. Istana yang megah kini hancur lebur, menjadi saksi bisu dari akhir sebuah era, tadinya.

Roan mengikuti langkah Warlock ketika pria itu menjauhi puing-puing bangunan. Di ujung sana, siluman ular setengah wanita menunggu dengan setia. Lidahnya menjulur sebentar dan masuk lagi ke dalam, mendesis rendah.

"Tuan." Black Mamba, Jitrix. Menundukkan kepala menyambut tuannya. Warlock menepuk-nepuk jubahnya yang tertempel debu. "Ah, lebih baik kita pergi dari sini. Pulau ini sudah membosankan," ketusnya.

Ketika tiga sosok itu hendak berbalik meninggalkan istana yang tak lagi terbentuk, Excalibur melesat lurus membuat pipi Warlock sobek. Pedang itu tertancap kuat di sisi jembatan. Kilatan tegas dari pedang tersebut, menahan napas Warlock untuk beberapa detik.

Ketiganya langsung menoleh serempak. Tubuh bercampur debu, darah mengalir di keningnya, napasnya berhamburan, kakinya berdiri kokoh. Mata biru bak gemerlap berlian itu menyala, menyiratkan tekadnya.

"Jangan berani kau melarikan diri dari ajalmu!" teriaknya, hati bangsawan itu bergemuruh.

Warlock mengangkat satu sudut bibirnya. Darah menetes dari pipinya. "Bocah Tengik!"

Demian berjalan mendekat, langkah-langkahnya penuh kemarahan. Warlock hanya berdiri diam, senyum tipis tetap terukir di bibirnya. Roan dan Jitrix, berdiri di sampingnya, siap menghadapi serangan apapun.

"Akhirnya, si Bocah Manja yang dulu tak berdaya kini tumbuh besar," sindir Warlock, suaranya mengalun rendah penuh ejekan. "Kau pikir bisa mengalahkanku hanya dengan nyali dan pedang? Betapa naifnya."

Warlock berjalan maju sesuai ritme langkah Demian, tetapi lebih pelan. "Kau tak lupa, kan? Bagaimana kampung halamanmu kuhancurkan seperti istana ini?"

Demian merespons dengan serangan cepat. Rahangnya mengeras, mengepalkan tinju keras-keras. Warlock mengangkat tangan kanannya, mengeluarkan pola perisai dari energi magis untuk menahan serangan. Dentuman besar terjadi, memaksa Demian terpental beberapa langkah.

"Hadapi aku dengan tangan kosong!" Gigi Demian menggertak, bangkit dengan posisi kaki kuat.

"Keberanianmu patut diacungi jempol, tapi itu tak cukup untuk menghentikanku," kata Warlock, melambaikan tangannya. Roan maju, mengayunkan api ke arah Demian. Sementara Jitrix ikut serta menyambuknya dengan ekor yang tebal. Mereka terlibat dalam duel sengit, Demian sulit mengimbangi. Sehingga ia mundur beberapa langkah dengan perasaan rugi.

"Ah, sial, Excalibur terpelanting ke sana." Demian menelah salivanya mentah-mentah.

Matanya melirik ke belakang. Reruntuhan itu masih setia pada tumpukkannya, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Bagaimana dengan yang lainnya? Apakah mereka mati begitu saja?

PHANTOM'S WAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang