🚨 Could You Bring Me Back?

385 81 158
                                        

Saat hendak kembali ke dunianya, ia malah terlempar ke dunia yang tak seharusnya diseberangi. Mata coklat hazelnya menerawang keramik cream—yang tak familiar. Dinding biru muda, tirai jendela biru laut, dan langit-langit presisi yang tampak ... lebih modern.

"Dimana ini?" ucapnya spontan, seolah semesta secara cuma-cuma memberi jawaban.

Satu hal yang ia dapat prediksi saat itu, mungkin gadis yang tertidur di meja belajarnya bisa memberi jawaban yang ia mau.

Rambut coklat kemerahan itu berdebar, ketika melihat beberapa helai rambut hitam kecoklatan yang rontok di lantai.

Apa orang itu baik-baik saja? Pikirnya.

"Uh ... halo? Permisi?" sapanya, sambil mencolek bahu gadis itu.

Tentu, gadis itu yang mendapati seseorang yang seharusnya tak bisa sembarang masuk ke ruangannya terkejut bukan main. Gadis itu sampai jatuh dari kursinya, bersamaan dengan lembar-lembar kertas catatan yang berserakan dari meja.

Tinggi sekitar seratus tujuh puluhan, rambut merah kecoklatan, mata hazel yang memesona, dan pakaian bertema vintage seperti orang yang sedang cosplay karakter fiksi era bajak laut.

"Maaf, mengganggumu. Uhm, namaku Arienne. Tapi tiba-tiba aku berada di sini setelah aku mencoba untuk kembali pulang—" Ia cukup sadar bahwa dari tadi mulut gadis yang barusan mencoba berdiri itu tidak juga berhenti untuk terbuka.

"Apa kau mendengarku?" Arienne membantunya berdiri, tetapi gadis itu langsung menghindari sentuhannya seperti baru saja melihat orang bangkit dari kematian.

"A—Arienne?" ucapnya gagap. Seolah berusaha memproses apa yang baru saja terjadi di depannya.

"Jadi, kalau kau tahu caranya supaya aku bisa kembali, tolong beritahu! Teman-temanku yang lain pasti menungguku, aku harus kembali pada mereka secepatnya!" Namun, bukannya membantu mencarikan solusi—itupun kalau gadis tak dikenal itu tahu sebuah mantra seperti penyihir hebat yang ia kenal.

Bukannya mantra, justru air mata keluar dari pelupuk matanya. Wajahnya seperti menanggung perasaan kompleks. Seperti habis meninggalkan anak-anak kucing sendirian di tengah jalan.

"Why are you crying?" Dahi Arienne mengernyit perhatian.

"I'm sorry, maafin aku." Tangisnya semakin menjadi.

"Aku bukan anak berumur tujuh belas tahun lagi, keberuntunganku habis di sana. Aku juga gagal dalam banyak hal, aku nggak bisa—" Selanjutnya hanya isakan yang membentang mereka berdua.

Sejenak, Arienne merasa hatinya hampa dan rapuh. Ia tak tahu mengapa, jiwanya merasa sangat dekat dengan gadis di depannya. Jadi, ketika gadis itu menangis, ia ikut bersedih.

"Namamu siapa?" tanya Arienne pelan-pelan, sambil meraih kedua tangan yang terus-terusan mengusap wajahnya yang memerah basah.

"Aku ... namaku Penulis. Aku bisa saja mengembalikanmu kepada yang lain—" ucapnya dengan suara berbisik.

"Benarkah?!" Arienne terlanjut bersemangat.

"TAPI," Penulis memotong cepat.

"Tapi aku harus menulis," sambungnya, "dan aku bukan orang yang tepat lagi untuk melakukannya."

Arienne menggengam erat tangannya, seperti halnya jantungnya yang berdegup kencang. "Bukannya kau Penulis?"

 "Bukannya kau Penulis?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bukannya aku penulis?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bukannya aku penulis?

.........

HALO TEMAN-TEMAN. Setelah aku diteror oleh that one reader setiap hari, setiap menit, dan setiap detik. Aku merenungi kembali. Dan melihat beberapa komentar baru di epilog Phantom's Way. Aku NGGAK percaya.

Hah, ini SERIUS ada yang mau lanjutannya? Belasan bulan aku berpikir ini cerita sama sekali ga menarik. Dan aku takut semakin mengecewakan pembacaku atas kinerjaku yang menurun.

Tekanan akademik, orang-orang ngeselin yang merayapi energiku, dan passion menulisku yang terancam. Memangnya, aku bisa balik menulis kayak dulu?  Banyak banget yang terjadi di 2025, dan sebagian bikin aku kehilangan diri sendiri jujur.

Jadi, jawabannya, Fifty-Fifty. Bukan lagu ya 😡. Teman-temanku yang tercinta, menulis itu harus konsisten dan berkomitmen (ya walaupun beberapa penulis seperti aku juga kadang mengeliminasi karya sebelum tamat), TETAPI pertanyaannya:

1. Apakah ada yang mau BERSAMA-SAMA bergandengan denganku selama Season 3? (aku cuma butuh 5 orang, itu sudah lebih dari cukup sebagai bahan bakarku)

2. Apakah kamu pengen ada romance TIPIS-TIPIS? Atau romance TEBEL? Plis aku ga tahan pura-pura sama beberapa karakter yang anu

3. Apakah kamu mau Ethan tetep ikut crew atau ENGGAK?

4. Kalau aku tidak sempurna, apa kamu masih menerima?

Soal alur cerita, serahkan saja kepadaku 😛🫰🏻. Aku mau memikirkan ini mateng-mateng guys, Caspians itu punya tempat spesial dan aku gamau mereka ada di ruang kecewa. Mereka ibaratnya pecahan diriku yang hidup.

Terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk menulis komentar baik di akhir cerita ☹️ desember kemarin aku lagi hancur bgt guys, maaf aku gabisa memenuhi janji. Untuk menebus itu, bisakah kamu memberikan kepercayaan buat jawab pertanyaan di atas? ♥️

PHANTOM'S WAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang