BACA SCYLLA'S WAY DULU YA
***
Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Udara dingin menyatu pada relungnya, tiap-tiap hembusan napasnya keluarkan uap bersuhu rendah. Bibirnya bahkan pucat sebab terlalu lama berada di cuaca pulau yang tak pernah berganti musim.
Kakinya menjamah lantai yang terbuat dari es, pakaiannya tebal buatnya kesulitan merogoh kantung celananya. Sampai langkahnya berhenti pada jembatan es yang diciptakan oleh magis. Mau diinjak berapa kalipun tak akan mudah roboh.
Rambut blondenya bahkan diselimuti salju, ia mengusap-usapnya tak peduli apakah tata rambutnya berantakan lagi. Ia memakai kain sebagai tudung, membiarkan langkahnya perlahan melambat oleh tebalnya salju.
Ia menghela napasnya. "Baru ditinggal beberapa hari, sudah tebal lagi?" keluhnya. Tetapi perlahan ia mulai terbiasa oleh dingin yang menusuk kulitnya, bahkan bulu matanya dihinggapi salju.
Mata birunya memandang, ia di atas bukit sana mengedarkan pengelihatan. Lalu matanya sedikit memicing, bayangan dari kabut bersalju itu makin jelas rupanya. Postur tubuh dan rambut panjangnya yang melambai-lambai, tentu saja seorang gadis.
Tanpa melepas waspada, ia melompat turun, kalaupun tidak mendarat mulus ia takkan terluka karena salju tebal itu akan menahannya.
"Oh!" Gadis itu terkejut. Kabut bubar bersamaan sosoknya yang menghampiri. Bahkan tudungnya sudah jatuh ke belakang.
Rambut merah kecoklatannya dimainkan oleh silir angin, uap dingin keluar dari mulutnya ketika ia memanggil namanya.
Mata birunya mengilap, tidak disangka ia akan bertemu dengan gadis itu secepat ini, bahkan di situasi sekarang.
Arienne Whiteney, setelah setahun lamanya tidak bertatap muka. Gadis itu tumbuh lebih tinggi dari sebelumnya, rambutnya jauh lebih panjang dan dominan berwarna merah. Bahkan matanya masih sama, penuh bara. Tidak pernah ia menjumpai seseorang dengan mata sepanas itu.
Tenggelam dalam sosoknya, Demian tak sadar kalau gadis itu telah mendekapnya. Gadis itu salurkan kerinduan tiada tara pada salah satu anggota krunya.
Namun, Demian tak mampu membalasnya. Tangannya hanya diam di tempat tanpa mau membalas memeluknya.
Setelah gadis itu melepasnya, Demian membelai beberapa helai rambutnya dan melihat ke arah lain. Demian terpaksa menyuruhnya pulang. Ia tidak bisa menyambutnya dengan hangat.
"Tunggu ... Demian?" Mimik wajah Arienne berubah, ia mulai menyadari ekspresi wajah Demian kali pertama bertemu. Sama sekali tak terlihat setitik pun rasa bahwa Demian menyambutnya. Seolah tak mengharapkan kehadirannya. Dan sekarang dia sama sekali tidak menghiraukannya?
Arienne berbalik, sedikit berlari menghadang sosok Demian. Tangannya terentang. Ia menatap bangsawan itu dengan tatapan tak percayanya.
Setelah setahun lebih tidak melihat hadirnya, ini reaksi sebenarnya ketika mereka saling bertemu? Arienne membuka mulutnya dengan heran.