...
Arienne segera menyambar Rosemary yang nampak linglung di lantai, ia merangkulnya untuk bangkit, waktu mereka tidak banyak lagi. Sementara tuan putri itu merasa kepalanya berdenyut-denyut tak karuan. Mata Rosemary putih sepenuh, tetapi dengan dua kali kedipan matanya kembali seperti semula.
Ribut di luar perpustakaan buat jantung mereka berpacu secara bersamaan, perasaan panik takut akan tertangkap oleh angkatan laut jauh lebih terasa dibanding sebelumnya. Masing-masing mereka tahu saat ini keempatnya sedang di kepung, sedang berada di posisi yang buruk. Risiko tetaplah risiko.
Arienne dengan cepat menoleh pada Carsein. "Tolong, Sein! Secepatnya!" titahnya. Gadis berlari membantu Juward yang mendorong meja ke belakang pintu agar pintu sulit didobrak. Namun, suara tembakan yang nyaring bunyinya menyita ketenangan yang coba mereka jaga dalam situasi sekarang.
Rosemary berdiri kaku. Peluru menembus jendela kaca perpustakaan, membayangkan jika peluru tersebut mengenai dirinya tadi buat lututnya lemas.
Arienne melotot, menoleh ke arah Juward pelan-pelan, begitupun navigatornya menoleh ke arahnya. Lagi-lagi ketua pasukan dari angkatan laut memerintahkan penyusup tersebut untuk diam, melarang pergerakan apapun yang terjadi di dalam.
"Aku percaya padamu, Sein!" seru Arienne sedikit berbisik.
Di tengah-tengah lantai perpustakaan tersebut, tanpa ketakutan dan keraguan apapun di hatinya, penyihir kepercayaan Caspian berdiri dengan segala fokusnya.
Aura yang terpancar dari buku-buku di Knowlock berbeda-beda ketika ia membuka matanya. Matanya yang gesit itu melirik ke sana ke mari, sihirnya sekaligus melingkari dirinya hingga rambut seputih kapurnya melambai-lambai.
Dengan mantra kuno, ia memanggil kekuatan magis untuk menemukan peta pulau Phantom yang legendaris. Bibirnya bergumam, bahasa yang asing.
Sementara Carsein berkonsentrasi pada sihirnya, pasukan angkatan laut mengepung halaman perpustakaan. Suara langkah berat dan gemuruh senjata memenuhi udara, tetapi Carsein tak goyah. Waktu menjadi musuh dan dia harus segera menemukan peta sebelum pasukan angkatan laut menyerbu.
Ketegangan yang memuncak, Carsein akhirnya menemukan aura magis yang sama dengan bayangan warna yang dikeluarkan oleh punggung Rosemary. Namun, sebelum ia bisa memberitahu teman-temannya, pintu perpustakaan ditembus oleh angkatan laut yang marah.
"Bagaimana penyusup bisa lolos dari penjagaan!?" teriak salah seorang yang memimpin mereka. Senjata tepat mengarah ke keempatnya.
Sebagian yang memakai senjata biasa, berlari berniat menangkap Arienne, Juward, juga Rosemary. Dengan sepatu hak tingginya, Arienne membalikkan tubuhnya dengan melayangkan tendangan tepat di pelipis salah seorang angkatan laut. Ia buru-buru berlari pada Rosemary yang lengannya di genggam oleh dua orang, sepatu haknya di lepas dan dilemparkan begitu kencang hingga salah satu dari mereka ambruk.
Geraham Rosemary mengkuat, ia langsung menggigit tangan angkatan laut tersebut hingga darah menetes-netes. Pria itu menjerit, ambruk, akibat kursi yang melayang ke arahnya.
Juward meluncur ke bawah saat orang-orang mencoba menembakkinya tiada henti, navigator dengan segala taktiknya, merebut senjata yang tergeletak akibat serangan Arienne beberapa detik lalu.
Suara gencatan senjata kembali bersahut-sahutan, beberapa orang; ambruk, berlindung, terluka, tak goyah mengangkat senjatanya.
Erangan lolos dari mulut Juward saat peluru berhasil menyoyak pelipisnya. Darah mengalir segar pada pipinya. Melihatnya, Arienne mengeraskan rahangnya, menoleh pada Carsein yang akhirnya tersentak dari fokusnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PHANTOM'S WAY
FantasyBACA SCYLLA'S WAY DULU YA *** Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
