61 : The Black One

1.4K 252 47
                                        

Note : Konflik ini adalah terusan dari bagian Romani versi Novelnya.

...

Tiga hari setelah North memutuskan untuk menjadi angkatan laut. Demian dengan tubuh tegapnya menepi di daratan yang dirindukan.

Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah puing-puing reruntuhan yang tergenang air. Tumbuh tanaman liar dan lumut di sekitar bangkai rumah. Lubang di mana-mana.

Sunyi sejenak.

Burung camar melebarkan sayap, menyebrangi pulau dengan dua-tiga lainnya. Seorang pemuda yang rambutnya dibelai angin segar, diam, menyaksikan bagaimana alam mengubah kampung halamannya. Juga tragedi yang merenggut banyak nyawa, termasuk rakyat dan keluarganya. Namun, Demian menatap sendu.

Demian tidak punya siapa-siapa sekarang. Sendirian. Ketika semua orang punya tempat berpulang, tempat yang menunggu mereka kembali datang. Teman-temannya sudah berpisah, tidak ada alasan untuk kembali berlayar dan bersama.

Juward dan Pierre ke lautan. Carsein dengan pulau penuh makhluk unik dan naganya. Arienne berhasil membawa kakaknya pulang. North memutuskan jalan hidupnya sebagai angkatan laut. Lalu sekarang, Demian tak tahu arah hidupnya. Tak tahu ke mana arus membawanya.

Tangannya mengepal. Demian bahkan tidak tahu di mana sisa dari rakyat Romani yang selamat waktu itu. Mungkin tak banyak, tetapi harus disyukuri angkatan laut datang dalam jumlah besar, mengangkut mereka.

Hanya Demian yang tersisa. Demian ingin melepaskan yang lalu-lalu, ia mengetes apakah ia akan baik-baik saja menginjakkan kaki ke Romani. Ternyata, masih terasa sesak.

Rindu tak kunjung sembuh. Mengetahui bahwa Demian takkan bertemu dengan Delbert, ibu, dan juga kakek, selamanya. Kecuali jika Demian menyusul mereka, itupun kalau sama-sama masuk surga.

Pada akhirnya Demian tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Kakinya terus melangkah, melewati puing-puing yang cukup tinggi agar kakinya tidak basah sampai lutut.

Mansion tempatnya tinggal dulu. Masih sama bentuknya, tetapi berlumut dan rapuh. Seolah jika terkena ledakan sekali, maka bangunan itu akan roboh.

Di sanalah, dengan perasaan kelabu, Demian mendorong gerbangnya. Jauh dia menyusuri rumah lamanya. Tidak berpenghuni, nuansanya sunyi, dan suram.

Demian melirik ke salah satu kamar. Gambar dirinya dengan mata pisau yang menusuk ke dinding. Bekas kejadian waktu itu. Satu-satunya bangsawan yang tersisa di Romani, kembali berjalan, tapak kakinya menggema di seluruh koridor tua.

Sampai akhirnya bilik kamar kakaknya. Demian menatap penuh binar, berkaca-kaca. Menghela napas. Kamar Delbert terasa dingin, sangat dingin sampai uap dingin keluar dari mulutnya. Demian mengernyit. Merasa ada sesuatu yang salah.

Secara waspada, keluar dari kamar kakaknya. Butir-butir debu, mengudara, hitam putih pemandangan. Demian mengusap-usap matanya, takut jika ia berhalusinasi. Masih. Suasana monokrom itu berubah mencekam.

Saat Demian kembali menoleh, wajah Delbert terpasang jelas di depannya. Demian membelalak, meloncat kaget, hampir terjatuh.

Wajah Delbet nampak kesakitan, Demian menatap tak percaya. Apa yang sedang terjadi? Delbert juga berwarna hitam dan putih, seperti potongan memori yang rusak.

Menyadari bahwa alasan kenapa Delbert memasang wajah kesakitan, karena dirinya melayang di udara dengan leher tercekik. Di depan Delbert, bayangan hitam menggempul, samar-samar Demian mendengar suaranya.

Yang Demian tahu. Bayangan itu perlahan memaksa masuk ke dalam tubuh Delbert, sekeras apapun kakaknya menjerit, tidak ada yang datang. Lalu Delbert pingsan begitu saja.

PHANTOM'S WAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang