Goba adalah pelayan setia Rosemary. Ia yang mengurus Rosemary sejak gadis itu masih belum berdiri dengan kakinya sendiri. Dulu, gadis itu sangat kecil. Namun, semakin dewasa semakin banyak beban yang diembannya.
Dalam setahun sekali, selalu diadakan perayaan memuja bulan. Tradisi turun temurun dari nenek moyang mereka. Gendang bertabuh, seruling bersiul, dan alunan musik berdansa.
Semua dilakukan untuk mendapatkan rahmat dan berkah Dewi Bulan. Pancaran sinar hangatnya mengibas dinginnya malam. Rosemary, sang Putri Zephyr, adalah penari terbaik. Juga penari terburuk.
Rosemary mampu menari dengan luwes. Tiap gerakannya terlihat ringan dan buat mata terhipnotis menyaksikannya. Seolah aksinya penuh magis. Awan yang mengawal Dewi Malam seketika membuka barisan. Obor ikut menari riah bergandengan dengan para warga.
Namun, setiap kali Rosemary terlampau jauh dalam suasananya. Gadis itu hilang kendali. Bayangan-bayangan warga tidak bersalah ia ambil. Lalu tubuh berjatuhan, tatapan horror dan benci dilayangkan.
Rosemary tak sampai hati, segala cara ia cari demi mempertanggungjawabkan kesalahannya. Karena tanggung jawab merupakan sikap pantas seorang Putri. Kendati demikian, segala hal tidak sesuai harapan. Saat menuju pemukiman warga bersama Goba. Rosemary tak sengaja mendengar cemooh warganya mengenai dirinya.
"Dia seperti penyihir yang menumbalkan kita!"
"Kurasa dia berpura-pura menuja Dewi Malam untuk melancarkan rencananya!"
Meski demikian Rosemary tetap murah hati. Dikembalikannya bayangan anggota keluarga mereka. Hingga sepertinya Sang Pencipta memberinya cobaan berikutnya.
Rosemary tak sengaja membunuh kepala desa. Goba mendatangi tuannya dengan mata membelalak. Wanah Rosemary memerah, air matanya tumpah-ruah, mulutnya melirihkan sumpah serapah. Pun saat Goba mendekat khawatir, Rosemary melindungi bagian dadanya dengan napas tercekat. Gadis itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat, sesekali menggigit bibir dengan risau. Goba akhirnya sadar apa yang terjadi di antara mereka berdua setelah mengamati bahasa tubuh Rosemary. Gaun Putri sobek.
Malang. Sepasang mata menyaksikan cuplikan singkat kejadian tersebut. Seorang membocorkannya. Apapun kata rumor yang menyebar, seluruh telunjuk mengarah pada satu orang. Samsak amarah. Pembunuh. Penyihir. Sumber mala. Tuan Putri mereka, Rosemary.
Bahkan meskipun Raja membela putrinya, disertai Goba sebagai saksinya. Masyarakat tak percaya. Goba hanya muncul setelah pembunuhan itu terjadi. Rosemary memberanikan diri, suaranya tegas, tetapi berantakan.
"Bagaimana jika hal ini terjadi pada anak perempuan kalian?!" Rosemary mengepal kuat.
Para ibu warga mengernyit tak terima.
"Anak kami tidak pembawa sial sepertimu! Bukankah kau dibesarkan tanpa ibu? Berani sekali kau menanyakan hal ini pada kami!"
Sejak saat itu, Rosemary telah menghapus benih harapan juga kepercayaan pada warganya, pun ikut membenci. Sama seperti yang dilakukan mereka terhadapnya.
"Putriku, jangan memberi mereka apa yang mereka inginkan. Kebencian ini takkan ada habisnya." Raja menatap iba, hendak mendekap anak semata wayangnya. Namun, Rosemary mendorong paksa sebagai penolakan keras atas pendapatnya.
"Ayah tidak akan mengerti!" finalnya, memunggungi yang ayah.
Tak lama setelah kekeruhan kerajaan Zephyr. Entah dari mana Warlock datang bersama anak buahnya. Dengan mudah kerajaan dimonopoli karena tiadanya setia dan rasa percaya. Pemusik kerajaan bersama Goba melakukan perlawanan yang sia-sia. Namun, ada sesuatu yang lain yang juga memanas dalam kobaran api. Mata Rosemary.
KAMU SEDANG MEMBACA
PHANTOM'S WAY
FantasíaBACA SCYLLA'S WAY DULU YA *** Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
