Morin berlari kecil. Dihampirinya Demian yang sedang berkonsentrasi menebas lima batang bambu sekaligus.
Bunyi sayatan bambu buat Morin memekik dalam diam. Bambu yang terpotong berjatuhan. Namun, Demian tampak tak puas dengan itu.
"Kurang cepat," gumam bangsawan itu. Menguji kecepatan pedangnya, Excalibur. Demian harus benar-benar menyatu dengan pedangnya. Cepat, tepat, dan kuat.
Morin yang menyaksikannya bergidik ngeri. Mata Morin tak mengerti, kurang cepat yang dimaksud Demian bagaimana. Padahal tebasannya cekatan, sekali ayun lima bambu yang keras itu terpotong sempurna.
Menggeleng-geleng. Morin harus ingat tujuannya menghampiri Demian. Morin menarik-narik ujung pakaian Demian, berhasil mendapat perhatiannya.
Demian mengernyit. "Ada apa, Morin?"
Si Bungsu dari tiga bersaudara pemilik gubuk melompat-lompat sembari menunjuk ke dalam gubuk. Sedetik kemudian Arienne keluar dengan tas di punggungnya, bersama Kochi dan Domih yang menahan kaki kanannya.
"Nona, berbahaya jika pergi ke Pulau Phantom sendirian! Apalagi ke Istana Zephyr! Nona akan mati!" Kochi terseret-seret bersama Domih yang mencoba menghentikan Arienne.
"Lukamu juga belum sepenuhnya sembuh, loh!" Kochi masih mencegah Arienne. Domih mengangguk-angguk khawatir. "Sudah petang, Nona!" Domih ikut menimpali.
Morin menarik tangan Demian sekarang. Seolah menyuruhnya melakukan sesuatu. Demian hanya menghela napas pendek, terlihat Pangeran Romani itu terbiasa dengan sikap Arienne.
Tuk!
Batu kecil mengenai kepala Arienne, gadis itu mengaduh. Ia menoleh, mendapati Demian yang menaruh pedang ke pinggangnya, di dalam sarung pedang berbahan kulit.
"Jangan keras kepala. Kau hanya akan melakukan tindakan bodoh lainnya, lalu mati konyol." Demian begitu ketus, tatapan meremehkannya terpapar jelas di matanya.
"Buat rencana atau semacamnya. Sudah kubilang jangan hanya modal nekat, sekali-kali dengar kata-kataku." Bak tombak menghunus ikan, perkataan Demian menusuk tepat di hatinya. Tertohok untuk beberapa alasan, tetapi menolak melunak di depannya.
Kochi bangun, menepuk-nepuk lutut dan pakaiannya. "Lalu, kenapa tidak Tuan Demian saja yang membantu Nona Arienne? Kan, kalian sama-sama ingin ke Pulau Terapung itu?"
Dengan sangat kompak. Keduanya melotot. "Tidak!" tolak mereka, lalu saling memalingkan wajah.
Domih berdiri sembari menepuk-nepuk bahu dan lengannya. Mengernyit polos. "Kenapa tidak? Bukankah kalian saling mengenal satu sama lain?"
"Oh, ya? Apakah kita saling mengenal sebelumnya, TUAN?" Intonasi suara Arienne naik saat menyebut 'tuan'.
Demian mendengus. "Kurasa tidak, NONA." Bangsawan itu melipat tangannya di depan dada.
Kemudian keduanya lagi-lagi memalingkan wajah, enggan bertemu mata. Arienne kembali masuk ke gubuk, sementara Demian menjauh dari gubuk entah ke mana. Meninggalkan ketiga saudara bertubuh kurus, kebingungan.
...
Di dalam gubuk sederhana, lantai gubuk merupakan setengah kayu dan setengah tanah. Namun, ketiga saudara pemilik gubuk menjaga tempat tinggal mereka dengan baik. Sehingga gubuk saat ini masih layak di tempati dan cukup bersih.
Arienne duduk memotong bambu-bambu, melancipkan ujungnya. Seperti membuat anak panah. Mengikat kain sobekan yang tak lagi dipakai setelah ujung bambu telah dilancipkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
PHANTOM'S WAY
FantasyBACA SCYLLA'S WAY DULU YA *** Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
