64 : Disappointment

965 219 42
                                        


. . .

Dua insan, berusaha buat segalanya jadi ringan. Sebenarnya, mengapa mereka terlihat beda tujuan? Padahal diam-diam melirik dengan kasihan. Punggung Arienne menjauh, Demian berjalan ke arah yang sama dengan kaki riuh. Demi mencapai lantai atas dimana segala aksi disalahkan, Demian meraih tangga yang sama. Keduanya meninggalkan dua insan lain yang saling berbenturan.

Tanpa suara, Demian berhenti ketika lorong hendak memisahkan mereka. Lagi, beda tujuan. Tidak tahu kenapa, helaan napasnya kali ini lega. Dalam hati melirih penuh doa.

"Kuharap kau baik-baik saja, mereka pasti masih ada. Pulanglah dengan selamat." Demian mendongak ketika perasaannya tidak bisa mengelak.

Katakan ia pengecut. Kebenaran ditutup meski pikirannya ribut. Bangsawan yang membawa pedang di tangannya, menegang. Hatinya berdebar, langkahnya kembali menggelegar. Melanjutkan apa yang sejak dulu ia kejar.

Di seberang, tanpa sepatah kata, Arienne menyerbu langkah demi langkah penuh amarah. Aslinya, ia jauh lebih kecewa. Gadis itu tak tahu siapa yang patut disalahi, akhirnya korbannya adalah diri sendiri. Semua telunjuk mengarah padanya, sesak, hatinya hendak meledak.

Tidak tahu pasti kemana kakinya pergi, Arienne hanya mengikuti intuisi sambil terus menahan diri. Namun, akhirnya ia berserah diri. Air matanya lolos tanpa henti.

Tubuhnya gemetar, merapat kedinding mencari tumpuan. Terus melangkah, melangkah, melangkah, dan melangkah. Jalan buntu.

Boleh jadi gadis itu berada dalam batasnya, nyeri luar biasa terasa merambat ke seluruh tubuhnya. Tulang lengannya terasa remuk. Kian punggungnya merosot, terduduk pasrah seolah tak miliki otot.

Ternyata motivasi dan semangatnya lah yang selama ini menopang tubuhnya dari rasa lelah. Namun, kemana sekarang keduanya pergi? Bukankah di saat-saat genting seperti ini dibutuhkan? Padahal saat terlepas dari jeratan siluman ular itu ia tidak peduli dengan tulangnya yang hampir patah.

Arienne mendongak, menyantukkan kepalanya beberapa kali ke dinding dengan ketukan pelan. Mungkin benar, naif, dari dulu sifat menyebalkan penuh empati itu selalu menyeretnya dalam situasi seperti ini, putus asa.

Kekanak-kanakan. Tidak semua harus sejalan dengannya. Berpikir bahwa Rosemary akan membawanya kembali pada petualangan yang ia dambakan bersama para krunya adalah awal dari kebodohannya. Ia justru dimanfaatkan.

Apa memang sejak awal mereka lebih baik berpisah saja? Itu jauh lebih baik daripada membawa mereka pada bahaya.

Terasa dingin, Arienne menunduk. Tangannya berdarah, matanya berlari menemukan dari mana itu bersimbah. Sempurna, luka di perutnya kembali terbuka.

"Sial," ringis penuh penekanan.

Pandangannya buram, tidak pasti oleh air mata atau sebentar lagi dia ke neraka. Namun, saat kefrustasian itu melanda. Dalam remang-remang lorong, luka di perutnya perlahan-lahan memunculkan sinar hijau muda. Rasanya hangat menjalar ke tubuhnya.

Mata Arienne terbuka samar-samar. "Minerva?"

. . .

Delapan jam yang lalu.

Jeruji logam membatasi gerakan tahanan. Segala bentuk pemberontakan tidak diperkenankan. Banyak tatapan penasaran di balik remang-remang, menatap tujuh tahanan baru selain mereka di sana.

Beberapa tumbang seolah tanpa tulang. Terkapar atau bersandar lemah. Namun, masih terdengar napas yang berhembus lancar.

Tampaknya salah satu dari mereka serta yang paling tua, menatap marah. Yang ditatap langsung memejamkan mata.

PHANTOM'S WAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang