BACA SCYLLA'S WAY DULU YA
***
Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
"Rosemary, Rosemary!" sahut Arienne ketika Rosemary selesai mandi. Gadis itu menggigil hebat, ia berjalan menjinjit.
Arienne memiringkan kepalanya. "Ada apa denganmu?"
"Aku terbiasa berendam di air hangat, dengan bak mandi yang penuh dengan bunga." Rosemary bergetar sambil memeluk dirinya sendiri.
Arienne memandang heran. Matanya menatap tak percaya. "Masak air sendiri, tuan putri."
"Pelayan biasanya melakukan itu untukku," timpal Rosemary. Entah kenapa ucapan itu menembus kemiskinan Arienne sebagai rakyat jelata yang hanya bisa menimba sumur sebelum mandi.
Arienne beralih pada Ethan yang belum juga keluar dari kamarnya. Ada yang gadis itu ingin bicarakan berdua. Mungkin ia akan mendapatkan hilal setelah mendengar perkataan kakaknya, kali ini ia mau mendengarkan.
Tepat sekali, pintu dibuka dan Ethan datang dengan tubuh yang dipenuhi oleh debu dan sarang laba-laba. Wajahnya terdapat noda abu-abu.
Arienne langsung cepat tersadar. "Kakak masuk ke sana, ya!?" Alis gadis itu hampit menyatu, sedikit tidak terima. Ethan pun menarik lengan Arienne dan meninggalkan Rosemary sendirian dengan tanda tanya.
"Aria, kemungkinan dia berbohong. Pulau Phantom tidak ada di mana-mana." Ethan berbisik, matanya terkunci pada Arienne.
"Lalu bagaimana dengan dirinya yang jatuh dari langit, Kak? Jika semua terasa tidak masuk akal, bukankah satu-satunya sumber yang harus kita percaya adalah Rosemary?" Arienne menunjuk Rosemary yang tengah mengintip jendela luar.
"Dan kau, apa kau akan benar-benar membawanya pulang? Kau saja tidak tahu di mana tempat tinggalnya!" seru Ethan.
Arienne bergeming untuk sesaat. Suara dengungan nyaring melewati gendang telinganya. Seolah kata-kata Ethan menebas hatinya.
"Hei, Kak. Kalau kau terus-terusan meragukanku, aku tidak bisa membuktikan apapun!" Mata Arienne berkilat marah. Terkadang Ethan benar soal semuanya, idealisme Arienne saja yang terluka. "Terlebih kalimatmu barusan ... itulah yang dikatakan orang-orang saat aku menjadi gila dan kabur untuk membuktikan bahwa aku bisa membawamu pulang!"
Arienne menunjuk dada Ethan. "Di sinilah kakak sekarang. Dihadapanku. Tepat di depan mataku, aku membawamu hidup-hidup." Matanya memerah diselimuti amarah.