68 : Played by God

992 239 60
                                        


Arienne berusaha melarikan diri dengan luka dan darah yang menetes-netes sebagai jejak. Gadis itu tahu ia sia-sia kabur, toh, Ken pasti mengetahui kemana langkahnya pergi. Namun, ini satu-satunya cara untuk menambah waktu sebelum ia benar-benar dieksekusi!

Dirinya berasa dipermainkan, diberi harapan, dijatuhkan kembali, kini lagi-lagi ia terseok-seok mencari cara untuk bertahan hidup meskipun kelihatannya lorong ini menyesatkan.

Benar saja, dirinya terpojok, LAGI. Arienne benar-benar muak. Tak bisakah kalau Dewa ingin mengambil jiwanya, langsung bunuh saja di waktu sebelumnya saat ia sekarat? Buat apa memberi harapan dan kesempatan jika itu berakhir sama. Arienne menggigit bibir dalamnya dengan frustasi.

Sementara Ken terus berjalan ke arahnya, langkahnya santai, tetapi bunyi pedang yang bergesekan dengan lantai istana buat Arienne merinding dan panik.

Akhirnya Arienne berbalik, geram sendiri karena terus-terusan terpojokkan. Ia mempertahan napasnya yang mulai menipis, pun mengontrol oksigen sebaik mungkin.

Ken mengangkat kakinya dua langkah lagi, kemudian ia berhenti. Pria itu menyeringai tipis. "Kau ini memang senang ikut campur, Serangga Kecil."

Nada bicaranya tidak seperti Ken yang Arienne kenal. "Seharusnya aku membunuhmu di Romani, dasar pengganggu."

Pedang terangkat tinggi-tinggi, mata Ken yang kosong itu menatapnya penuh teror. Arienne bergidik ngeri. Ia memejam erat sebelum akhirnya pedang itu benar-benar melayang menebas kepalanya.

Namun, tebasan pedang itu bergesekan dengan benda tajam lain. Sehingga suaranya melengking nyaring. Seseorang memukul mundur Ken.

Saat Arienne membuka matanya kembali, memastikan apakah pendengarnya masih baik-baik saja atau sekarang ia sudah mati.

Darahnya berdesir. Binar di matanya kembali hadir. Keputusasaan yang mengikatnya segera menyingkir.

Ethan muncul tiba-tiba!

Arienne terkesiap saat melihat Ethan berdiri di hadapannya dengan posisi defensif, menghadapi Ken. Tak lama kemudian, pandangan Arienne tertuju pada pedang yang melayang dan mengenai pedang Ken, membuat bunyi yang sangat nyaring. Arienne akhirnya dapat bernapas setelah sebelumnya memegang dada dengan kuat. Keduanya bertarung sengit dalam waktu singkat.

"Kak Ethan, kau masih hidup!" seru Arienne dengan wajah antusias dan berkaca-kaca. Ia tidak percaya akan kehadiran pria itu, melindunginya di tepat waktu.

Di tengah dentuman pedang. Ethan tersenyum tipis, melirik sebentar. "Bagaimana aku ke akhirat saat kau belum ada di sana, Aria?"

Baik Ken maupun Ethan, gerakan mereka sungguh cekatan. Menyaingi kecepatan masing-masing . Ethan menyeringai saat mata Ken kembali berkedip terperanjat.

"Kau di sana, Ken? Aku tidak percaya kau menyerah semudah ini." Tepat mengetakan itu setelah pedang di tangan Ethan melanting kuat ke depan. Tubuh Ken mundur hampir kehilangan keseimbangannya.

Tampaknya kesadaran Ken berangsur-angsur membaik. Gerakannya mulai ragu-ragu, kebingungan.

Sementara Ethan menahan Ken. Sekelompok orang, beramai-ramai menghampiri Arienne yang bersandar lemas di pojok dinding.

Arienne membuka matanya, pun mulutnya menganga. Matanya semakin berkaca-kaca. "Teman-teman!"

Yang duluan mendekap Arienne adalah Jake. Laki-laki itu bersembunyi di antara celetuk lehernya. Belum sempat Arienne membalasnya, ujung baju Jake ditarik-tarik.

"Beraninya kau!" Ethan entah datang dari mana, menyeret Jake ke belakang. "Lepaskan aku!" rengek Jake, matanya basah.

"Kau tidak berhak memeluk adikku mengingat kau tidak bisa membedakan dia dengan siluman!" Ethan memarahinya.

PHANTOM'S WAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang