BACA SCYLLA'S WAY DULU YA
***
Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Jantung gadis itu berdetak panik. Mata hazelnya bergelimang khawatir. Lututnya jatuh ke lantai dan menggoyang-goyangkan kakaknya di sana, sebagian bajunya terbakar.
"Kakak!" panggilnya berkali-kali. Namun, tidak ada jawaban seolah pria itu tidak sadarkan diri.
Arienne pun meraba nadi Ethan untuk kemungkinan terburuknya. Tetapi tiba-tiba, dengkuran halus terdengar dari mulut kakaknya. Sedetik kemudian Arienne memperhatikan dadanya mulai naik turun secara perlahan. Saat itu pula telapak tangannya melayang mendarat ke pipi Ethan dengan begitu keras.
Suara antar kulit yang bertemu itu nyaring, hingga Pierre yang membawa seember air pun berhenti di belakang Arienne. Pemuda itu meneguk salivanya diam-diam.
Tahu-tahu ember itu direbut oleh gadis yang darahnya memuncak tinggi.
"Ethan Whiteney, bangun kau!" pekiknya bersama semburan air yang mengguyur pria yang mendengkur tersebut. Ethan pun langsung duduk siaga satu dan menyodongkan tangan seolah ia memegang pedang.
"Orang bodoh mana yang tidur di dalam kobaran api?!" Api pun mendadak ikut membakar mata gadis itu. Segera Arienne menarik Ethan pergi diikuti Pierre dan lainnya.
Dalam gelapnya malam, angin yang berdesir memberikan sentuhan sejuk pada kulit mereka yang terbuka. Pierre merasa beban berat di punggungnya, saat ia dengan penuh perhatian memapah yang terluka, mengendap melalui rerumputan yang lembut namun tak terjamin keamanannya.
Setiap langkahnya diambil dengan hati-hati, tak ingin menimbulkan suara yang bisa mengkhianati pergerakan mereka.
Sedangkan Elf berada di belakang Ethan, matanya tajam memindai sekeliling dalam ketenangan yang mengesankan. Cahaya rembulan memancar lembut, cukup untuk memperlihatkan keadaan sekitar, tetapi cukup redup untuk tidak menarik perhatian dari mata-mata yang mungkin mengawasi. Setiap gerakannya diperhitungkan, tumpuan kakinya pasti, memungkinkan mereka bergerak tanpa meninggalkan jejak yang mudah diikuti.
Pierre dan Ethan memapah yang terluka dan mengendap-endap meninggalkan pulau Storme bersama yang lainnya.
"Nona, sepertinya tempat para bajak laut dan penyihir tadi berkumpul untuk minum-minum sudah hancur lebur." Gadis berambut pendek menarik satu alisnya ketika mendengar dialog sang penyihir. Ia berasumsi bahwa persaingan mereka membawa dampaknya.
Di barisan paling belakang, Carsein tetap terjaga dengan waspada. Iris dan cahaya sihir ungunya memancar dengan seredup mungkin. Dia memahami pentingnya menjaga posisi terakhir, memantau dan melindungi retret mereka dari serangan yang tak terduga.