46 : Talk like an old friend

1K 234 19
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



. . .

Bahu lebar serta punggung tegapnya terpatri dibalik seragamnya. Topi yang seragam warnanya menghalau mentari menyilaukannya. Pria gagah yang memegang erat senjatanya, sembari mengedarkan pandangannya yang tajam itu buat orang-orang yang berlalu-lalang merasa aman.

Derrick, prajurit yang cukup terkenal di tingkatkan pertama Fortuna. Ia melakukan pekerjaannya dengan bersih, tegas, tetapi menjaga keramahannya terhadap para penduduk di sana.

Pria itu mengernyit, ketika empat orang perempuan mendekatinya. Salah satunya disanggul dan memakai gaun kuning muda. Sebanyak wajah yang ia temui di Fortuna, Derrick tidak familiar dengan keempatnya. Yang berarti, mereka adalah pengunjung baru.

"Permisi, Tuan." Gadis tersebut menyapa. Wajahnya nampak ragu dan bingung.

Dengan senyum tipis, Derrick menurunkan senjatanya. "Iya, nona? What can I do for you?"

Senyum manis terpatri di wajah gadis itu, Arienne, menaruh tangannya di dada. "Tuan, kami baru pertama kali ke Fortuna. Nampaknya kami tersesat," tuturnya lembut dan gemulai.

Seseorang mengeluarkan lidahnya, seolah jijik dengar apa yang barusan ia dengar. Untungnya, Derrick tak melihatnya.

"Kemana kalian akan pergi? Saya bisa antarkan." Derrick baru memandang mereka satu-persatu, penampilan mereka seperti putri-putri bangsawan. Dengan senang hati ia akan membantu.

Tiga orang di belakang Arienne saling menyenggol siku, sementara ketua mereka berlagak dengan percaya dirinya. "Kami datang ke Fortuna untuk berkunjung sembari belajar. Kudengar Fortuna memiliki perpustakaan terbaik." Ia berkata dengan nada yang antusias.

"Jadi, kami ingin ke perpustakaannya, tapi malah tersesat." Arienne menyimpulkan, lalu menoleh pada ketiganya yang hanya diam membiarkan dirinya menjelaskan.

"Benar, kan, teman-teman?" sahut Arienne dengan tatapan yang diam-diam melotot. Rosemary menarik senyumnya dan tertawa hambar. "Benar sekali, Tuan! Tolong tunjukkan jalannya," ujar Rosemary. Sementara Juward dan Carsein hanya mampu mengangguk-angguk.

Tatapan Derrick berubah menyelidik, sementara Arienne berbalik badan sepenuhnya, memberitahu mereka untuk tersenyum lewat gerakan bibir dan mata yang meneror.

Perlahan Juward dan Carsein menarik senyumnya. Tunggu, tidak! Itu namanya bukan senyum, Carsein. Arienne membatin dibuatnya.

Bersama detak jantung yang berpacu oleh waktu, Arienne pun melangkah ke samping, menutupi Juward dan penyihir gila itu.

"Kapan kau bisa mengantar kami ke sana, Tuan?" kata Arienne. Mengalihkan perhatian Derrick.

PHANTOM'S WAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang