BACA SCYLLA'S WAY DULU YA
***
Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Pierre duduk sembari menyilangkan kakinya di atas drum. Seluruh tubuhnya masih basah, terutama tetesan yang berjatuhan dari rambutnya.
Rambut merah mudah itu seketika berseri saat Pierre datang. Carsein duduk bersila di lantai kayu kapal di dekat drum teman sedari kecil itu.
Gadis berambut merah kecoklatan yang diikat ke belakang itu menarik drum lain untuk duduk tak terlalu berjarak dari anak Poseidon itu. Sedangkan Ethan menyilangkan tangannya di depan dada dan bersandar di tiang kapal.
Pierre menggaruk dagunya dengan ibu jari, di lihatnya sosok Arienne yang menatapnya lamat. Mata sebiru laut itu ikut bersinar oleh pantulan matahari. Perasaannya saja atau Arienne sekarang jauh lebih tegap?
"Tak kusangka akan bertemu denganmu di sini." Suara Pierre terdengar lebih berat dari setahun lalu, diam-diam Arienne mengangguk bangga.
"Kupikir kalian akan berlayar tanpaku, itu bukan masalah karena dulu aku membuat kesempatan dengan Pak tua itu. Asal kalian baik-baik saja nantinya," tukasnya sembari memeras ujung pakaiannya. Ethan diam-diam melirik tetesan air itu bergenang di bawah Pierre.
Arienne tersenyum, sesekali terkekeh. Tangannya terangkat dan mengusap rambut basah Pierre. Kemudian Arienne kembali duduk, sedikit menggaruk kepalanya. "Kurasa setahun sejak kita berpisah, banyak masalah baru yang tidak kita ketahui terjadi."
Mata hazel itu bergilir arah, menatap Pierre, Carsein, dan ia memberi jeda pada manik milik kakaknya. Ethan memutus kontak mata dan memilih mengamati perairan di depan mereka.
"Bangsawan itu, North, bahkan Juward," ucapnya. Tatapan Arienne masih sendu, tetapi ia sudah sedikit menerimanya. "Carsein juga kena."
Penyihir itu berpikir, menekuk lututnya dan bersandar ke drum di kaki Pierre di sampingnya. Pierre tampak terkejut, ia membuka matanya cukup lebar.
"Ada apa dengan, Juward?" desak Pierre. Ia memang tidak sempat mengunjungi Telaga tempat Juward berada. Mata Arienne kemudian sayu dan menggeleng. "Aku juga ingin tahu itu."
Barulah Arienne bercerita dari awal. Mata Carsein melirik Ethan yang masih mengawasi mereka bertiga, nyatanya pria itu masih menjadi sebuah dinding yang membatasi beberapa ruang.
Pierre menyenggol Carsein dengan kakinya, ekspresi temannya kadang terlampau jujur. Ia harus menjaga sikap dan tidak menoleh saat Arienne menceritakan seberapa sulitnya membujuk Ethan. Tapi akhirnya Pierre ikut menoleh dan tersenyum canggung.
"Eh, padahal aku ingin berduel dengan manusia es itu kalau bertemu lagi. Pasti dia jauh lebih kuat dari sebelumnya." Pierre sedikit manyun, dari dulu memang tidak pernah menggantikan ambisinya untuk berduel dengan North.
Keduanya terdiam ketika Arienne bilang bahwa keduanya tak lagi menjadi bagian dari mereka. Sulit untuk memberi reaksi lewat kata.
Namun, Carsein akhirnya mengemukakan pendapatnya. "Bagaimana jika ... masalah itu mereka tak bisa mengatakannya?" Penyihir itu menopang dagunya. "Seperti halnya aku tidak bisa memberi tahu Pierre."