Ledakan membahana, menggetarkan gendang telinga. Satu persatu kapal perompak yang berusaha melarikan diri dari Kepulauan Galapagos tenggelam oleh meriam. Qesia mengomando dengan gigih, matanya menatap tegas penuh intimidasi. Raut wajahnya datar, pistol sudah berada di genggamannya. Tepat di kulit kepala salah satu komandan tinggi di Fortuna.
“Kepulauan Galapagos terminimalisir dari bajak laut, mereka takut pada komandan yang melindungi kesejahteraan pulau itu? Apa kau bahkan tidak punya malu mengatakan itu di depanku, Djavor?” Jari Qesia bersiap menarik pelatuk untuk melubangi kepala Djavor.
“Aku tak percaya telah menyerahkan jabatan seorang komandan kepada manusia kotor sepertimu. Dan kau jadikan tanggung jawabmu sebagai ladang bisnis?” Qesia menggertakkan giginya. Menyesal telah mempercayakan posisi potensial pada Djavor. Melakukan tindak korupsi di belakangnya. Memperbolehkan bajak laut singgah dengan sekantong koin emas.
“A … aku bisa jelaskan, Qesia!” Djavor dengan kumisnya bergetar. Langsung saja ia menjatuhkan lutut dan kepalanya pada dek kapal besar milik Angkatan Laut.
“Ampuni aku! Ampuni─”
Suara peluru menyatu dengan ledakan meriam yang dilepaskan. Kaki Laksamana Tinggi itu menginjak kepala Djavor yang mengeluarkan darah segar, mengotori lantai kapal. “You don't even know how to beg well,” ucap Qesia yang sudah pegal hati.
Wanita itu mendecih. Mengambil tembakau di saku jas putihnya yang tidak dipakai sempurna. Kemudian menjepit batang nikotin di bibirnya. Ia berdiri di dekat perwira yang memegang obor untuk menyalakan sumbu meriam.
“Tolong nyalakan untukku.” Seolah perintah mutlak, perwira agak gemetaran saat mendekatkan obor pada tembakau. Sehingga Qesia merebutnya dan menyalakan itu sendiri.
Setelah dikembalikan, wanita itu berjalan ke depan, melompat ke batas kapal sembari menahan tubuhnya dengan memegang tali dari tiang-tiang kapal. Ia menyorongkan tubuhnya. “Banyak sekali bajak laut yang harus diringkus di sini. Mungkin di tempat itu lebih banyak lagi.”
Asap mengepul, selaras dengan abu-abu dari kebakaran di atas lautan. “Hanze dan Zhao. Bagaimana dengan anak-anak itu sekarang?”
“Tampaknya aku harus menegur bajak laut tengil itu teguran keras.” Qesia teringat kejadian malam itu. Jadi, ketika mengetahui identitas mereka yang berani memasuki kawasan Fortuna, bahkan mencuri peta di perpustakaan utama. Qesia sudah lebih dari bersabar. Ia menyeringai. Mungkin poster-poster buronan yang diperbarui sudah tersebar di masyarakat.
***
Armada milik Hanze dan Zhao bertempur dengan rombongan bajak laut dari Pulau Storme. Wajah garang para perompak dan penyihir itu terheran-heran. Kenapa Angkatan Laut bisa mengetahui tempat persembunyian ini? Bukankah mereka hampir tidak pernah lewat jalur ini lagi? Tunggu, tidak mungkin mereka mengetahui ilusi di tengah-tengah pulau tak berpenghuni, kan?
“Seseorang telah membocorkannya, aku yakin!” Seorang perompak dengan luka di rahangnya menggertakkan giginya tak terima. “Sialan!”
Saat ia hendak kabur melewati jurang yang dipenuhi semak belukar. Sosok berjubah maritim hadir. Lantas jantung dua perompak itu pindah ke perut, terlonjak kaget. Tak sempat melarikan diri, api telah melahap keduanya.
Mata jingganya melirik tenda yang lusuh di sebrang. Sebagian atapnya terlihat hangus terbakar beberapa minggu lalu. Ia meniti ke dalam, tampak seperti tempat pertunjukan. Ia tertegun melihat beberapa mayat yang membusuk, lantas menjepit hidungnya dengan jari. Matanya berkeliling, bekas tempuran dan kebakaran. Anehnya ia merasa familier dengan bekas kebakaran ini.
Mungkinkah penyihir? Tapi tidak mungkin penyihir biasa dapat menciptakan api sebesar ini. Apakah …
“Klan Napas Api … sepertiku?” Kening Zhao mengerut pelan, penuh selidik. Belum sempat ia berpikir lebih dalam, ledakan menariknya pada realita. Ia tidak boleh melupakan tujuannya ke mari. Tanpa buang-buang waktu kembali bertugas meringkus semua bajak laut yang bersembunyi di Pulau Storme. Ia bahkan baru tahu ada keberadaan pulau ini.
“Setelah Ragnarok hancur, ternyata mereka tidak jera juga.” Zhao menyeringai jengkel. Berlari ke arah ledakan dengan kedua tangan mengeluarkan percikan api.
Sementara di pulau yang sama, tetapi tempat yang berbeda. Hanze mengacungkan pedangnya tepat di pertolongan leher penyihir kuat.
“Jangan bergerak,” ancamnya. Hanze mengerutkan keningnya, masih waspada.
“Di mana bajak laut Caspian berada? Bagaimana cara masuk ke Pulau Phantom?” Hanze mengeratkan pegangannya pada pedang.
Seringai dengan wajah setenang lautan dalam itu membuat bulu kuduk Hanze berbaris tegap. Calypso menatap seolah ia menelanjangi jiwanya. “Kematian.”
Alis Hanze terangkat. “Apa maksudmu?”
“Kematianlah yang akan membawamu masuk ke Pulau Phantom. Pulau itu hanya menerima jiwa seseorang untuk dimatikan di tanahnya. Tapi siapa yang tahu? Jika kau membawa banyak tumbal, ia mungkin memberi toleransi.” Tawa memenuhi rumah penyihir, koleksi barang-barang vital mengerikan itu menambah kesan dark.
“Masuk ke sana saja sudah melanggar hukum alam.” Calypso masih dengan nada main-main, tak melepaskan matanya pada Hanze. Pemuda itu menelan salivanya.
“Berarti … Caspian saat ini sudah mati?” ucap Hanze, ragu-ragu atas teorinya. Calypso bergeming, menunduk. Rambut berantakannya jatuh menutupi wajahnya. Hanze menarik pedangnya, menyerahkan kertas berupa halaman yang tertinggal ketika rombongan Arienne melarikan diri dari Fortuna.
Gambar batu Eterea.
“Mereka lebih istimewa dari yang terlihat. Begitu menarik, bukankah begitu?” Calypso mengangkat pandangannya, sebagian wajahnya tertutup rambut. Namun, Hanze dapat melihat seringai mengerikan di baliknya.
“Tidak ada yang bisa membaca takdir mereka termasuk diriku.” Calypso bangkit dari duduknya di meja. Hanze memasang kuda-kuda, bersiap menyerang penyihir itu. Ia tidak bisa membiarkan penyihir tinggi seperti Calypso berkeliaran.
“Kenapa kau tahu segalanya? Bahkan tentang pulau yang tak tercatat dalam sejarah ataupun tergambar dalam peta resmi.” Mendengar itu Calypso tidak bereaksi menyebalkan seperti; tertawa sendiri. Tidak kali ini.
Calypso memang tidak sesederhana yang ia pikirkan. Penyihir itu tak bisa diduga aksi dan pikirannya. Tubuhnya perlahan membengkak, seperti sesuatu dalam tubuhnya mengisi dirinya penuh-penuh. Hanze mundur dengan kewaspadaan tinggi.
“Karena aku berasal dari sana.”
Tubuh Calypso meledak. Hanze tersentak, melindungi tubuhnya. Kulitnya seperti dilempari benda padat kecil. Yang ia lihat setelahnya adalah sudah ada makhluk kecil dalam jumlah banyak memenuhi ruangan. Kerang laut.
Calypso berhasil melarikan diri.
***
Tenda-tenda pasar tenggelam. Pengungsi dari pinggiran desa menatap rumahnya dengan iba. Beruntungnya mereka sepenuhnya mengevakuasi diri sebelum tsunami besar melanda Mercene. Tebakan para nelayan benar. Entah bencana apa yang terjadi di luar sana sehingga lonjakan gelombang laut begitu tinggi lusa kemarin.
“Lihat! Ikan-ikan kembali dalam jumlah banyak!” seru salah seorang nelayan dengan perahu yang hanya muat dua orang. Teman nelayan di belakangnya membiarkan tangannya diciumi ikan-ikan yang langsung berkumpul ketika ia memberikan umpan menyerupai pasir melalui genggamannya.
“Welson, tidakkah kau seharusnya mengkhawatirkan anak-anakmu?” Nelayan paling depan yang mengayuh perahu menoleh ke penumpang.
Welson melepaskan makanan ikan itu. Beralih pada kertas-kertas yang ia kumpulkan di pusat kota. Diangkatnya salah satu kertas tersebut, rupanya sebuah poster yang memajang lukisan seorang perempuan berambut sebahu dengan nama yang begitu akrab. Tentu saja, karena dirinya sendirilah yang memberikan nama itu pada buronan yang sedang hangat-hangatnya.
“Arienne Whiteney. Kali ini, apa saja yang telah anakku perbuat?” Welson meraup wajahnya. Napasnya gusar, melirik poster lain. “Nama Ethan kembali naik, eh?” Senyumnya ditarik frustasi.
“Mereka tak jauh berbeda,” gumamnya pelan. Menyandarkan siku pada lututnya, menengadah pada cakrawala yang membentang terang. Dilihatnya burung camar tengah bermain-main dengan rombongannya di udara.
“Apa mereka baik-baik saja?"
***
👀👀👀👀👀
KAMU SEDANG MEMBACA
PHANTOM'S WAY
FantasyBACA SCYLLA'S WAY DULU YA *** Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
