34 : They can't be serious!

1.2K 280 57
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Temen-temen bisa play soundtracknya sambil baca gak? Atau suaranya ga keluar di tengah-tengah baca?

. . .

"Apa-apaan kau?!"

Ethan mengeraskan rahangnya, segera mendorong es tajam itu menjauh dari adiknya. Ia menarik lengan Arienne agar gadis itu bersembunyi di balik punggungnya.

North mundur beberapa langkah, hembusan uap dingin keluar dari mulut. Mendadak udara makin menurun beberapa derajat, lebih dingin dari sebelumnya.

Prajurit yang tengah menuntun dua bajak laut ke dalam pangkalan langsung meneguk salivanya, beberapa dari mereka buru-buru mengantarkan para perompak itu ke tempat eksekusi atau penjara sementara. Sekitar dua belas orang mengarahkan senjata mereka pada kakak beradik yang habis berhadapan dengan atasan mereka.

Ethan terlihat tak senang, ia mengibaskan bilah pedangnya dengan kuat sampai ada garis yang membekas di atas jembatan kayu itu.

"Lewati garisnya, maka kalian akan mati." Ethan memandang tegas, genggam pedangnya erat-erat. Helai rambutnya jatuh di atas keningnya.

Ketika pria tersebut menunjukkan kekuatannya, para prajurit waspada dan gentar. Mereka melirik North yang diam-diam memperhatikan, seolah menunggu perintah selanjutnya.

"Mundur," dalihnya, suara yang dalam dan halus itu seketika buat bulu kuduk berdiri. Sehingga para prajurit langsung bubar dari dermaga, mempercayakan North atas segalanya.

Tatapan sedingin es itu menusuk dua sosok yang mengusik atensinya. Ethan memutarkan pedangnya, lalu berhenti, biarkan pantulan cahaya buat pedangnya berkilau.

"Bajak laut adalah musuh." North mendongak, sekali lagi hembusan uap dingin keluar dari bibirnya. Partikel es muncul, secara pasti balok-balok es tajam terbentuk, melayang di sekitarnya.

Sedangkan Arienne, ia sedang dilanda keterkejutan dan kebingungan. Mendadak mentalnya menurun drastis setelah bertemu sosok North kembali. Teman lamanya yang lembut dan polos itu menodongkan pedang padanya, dengan niat membunuh.

Ethan menunduk, menguatkan posisi kakinya, seolah siap menangkis serangan es-es itu dengan segera. Namun, matanya terbelalak saat ukuran balok es di sekitar North gemetar dan membesar. Ethan mulai dijerat keraguan dalam dirinya, kalaupun pedangnya bisa menebas balok-balok itu, ia takkan sempat menangkis semuanya. Dan mungkin balok es milik North lebih padat daripada es biasa.

Dengan keringat membasahi dahinya, Ethan menyadari bahwa situasinya makin sulit. Di belakang mereka ada para prajurit yang tak mungkin membiarkan mereka kabur, kapal mereka pun tidak langsung berlayar dan menjauh dari pangkalan angkatan laut.

Dia berusaha memikirkan strategi untuk mengatasi serangan balok-balok es dari North dan melindungi adiknya. Sementara itu, Arienne berusaha mencari cara untuk berbicara secara baik-baik, mungkin ... North hanya tidak mengenalinya dengan rambut pendek dan luka di wajahnya.

PHANTOM'S WAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang