66. One step foward

946 232 24
                                        

Perhatian tertuju pada pemuda berambut seputih salju─mungkin sekarang seperti salju yang kotor bercampur tanah. Lirikan North berpindah-pindah, bertanya-tanya mengapa teman-temannya menatap penuh harap.

Juward pun menarik kata, "North, apa kau kehilangan kekuatanmu sepenuhnya?"

Pergelangan tangan North lantas diangkat setelah Juward mendekat. Kening North mengerut. "Bayanganku, kan, diambil juga." Perkataan Pangeran Es itu dibantah oleh gelengan keras si Navigator, tetapi dari mana keyakinan laki-laki itu berasal?

"Cobalah untuk mengeluarkannya," tutur Juward. Instruksinya membuat North melihat telapak tangannya sendiri. Sudah sepuluh detik terbuang, tidak terjadi apa-apa. North terlihat semakin murung. Namun, suara Ethan menegurnya untuk fokus.

Kepala North terangkat. Kini atensi lebih serasi. Kelompok bajak laut di depannya menaruh harap dan percaya. North tertegun. Darahnya mengalir deras, matanya memejam berusaha fokus dengan keras. Gelap. Jalan di dalam kepalanya hanya berisikan pekat, tetapi ia bisa rasakan sesuatu tengah mendekat. Perlahan dingin mencegat.

Dalam hitungan detik yang sama, senyum seorang wanita terbayang olehnya lalu menghilang bersama suara sahutan anjing kecil. Mata North terbuka bersama sengatan kejut. Uap angin berhembus dari napasnya. Suara gesekan angin memecah. "Tanganku membeku! Kau melakukannya!" seru Juward dengan bola mata yang terbuka lebar.

Sahutan berpelukan dengan rasa bangga. Putus asa sirna seketika. North menatap mereka bergantian, wajah keheranan pudar. Pun senyum merekah seperti bunga mekar di musim dingin. Ternyata ia hanya perlu mencoba dan percaya.

Saat menemukan dirinya tidak bisa membedakan atau bahkan tidak sadar bahwa Arienne dalam bahaya, ia merasa tak becus. Tak percaya pada dirinya sendiri. Kalau Arienne berada di posisinya, dapat dipastikan kaptennya tidak akan menyerah dengan begitu mudah. North merasa malu. Namun, sekarang ia dapat menebus kelalaiannya. Kesempatan telah digenggamnya.

"Hey! Cepat cairkan es ini, tanganku mati rasa!" teriak Juward memukul lengan North kembali ke realita.

Jeruji membeku dan hancur. Mereka satu persatu keluar dari sel tahanan. Hal itu sepenuhnya menarik perhatian tahanan lain. Sementara Jake diseret ke depan, lalu dirangkul oleh Ethan.

Rupanya setelah bebas pun mereka seperti mayat hidup. Kalau menghadapi musuh yang paling lemah juga mereka bisa kembali tumbang. Satu celah tidak cukup menerangi sumur yang gelap. Otak Juward harus bekerja lebih keras. Mungkin inilah gambaran mereka tua nanti, tak berdaya dan rentan.

"Kita tidak bisa membalas Rosemary kalau seperti ini." Carsein mengaduh. Eiros di belakangnya tampak tak asing dengan nama yang disebut itu. Sepertinya ia pernah mendengarnya di suatu waktu, tetapi ia tidak begitu ingat.

Gerusuk dari tahanan lain menyita perhatian para perompak yang berhasil keluar dari sel. Meskipun gelap, mereka bisa melihat tangan kurus yang meraih jeruji logam tersebut.

"Apakah kalian mengenal Tuan Putri kami?" lirih pelan, tertatih-tatih diiringi batuk. Tangan-tangan kurus lainnya meraih jeruji, digenggam lemah.

Pierre mengedarkan pandangannya, ia saling merangkul dengan Carsein. Suasana jadi menegang, tangan-tangan itu coba meraih pakaian keduanya. Sontak Pierre mundur, bertabrakan dengan punggung Minerva. Perempuan jangkung itu melipat bibir bawahnya ke dalam. "Sepertinya mereka mengenal Rosemary." simpulnya.

Yang perawakannya lebih berdaging daripada tahanan lain menempelkan wajahnya pada sela-sela jeruji. "Rosemary, apakah Tuan Putri kembali ke pulau ini?"

Juward hendak mendekat, tetapi North menahan bahunya. Was-was jika orang yang berada dalam sel mungkin berbahaya. Tubuh Juward tetap tegap, ia memberi kode pada North bahwa dirinya hanya ingin mendengar salah seorang tahanan yang menyebut Rosemary lebih dekat.

PHANTOM'S WAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang