Gelap dan lengang. Rasanya tubuh seperti melayang. Apakah saat ini Demian sedang diambang pintu neraka? Anehnya ia malah merasa dingin. Tidak ada panas yang membuat kulit mengelupas seperti buku-buku yang ia pernah baca.
Mungkinkah dirinya melayang di ruang hampa tanpa gravitasi? Matanya perlahan terbuka, melihat gelembung-gelembung kecil keluar dari hidungnya. Anehnya lagi, ia tidak merasa kesulitan bernapas. Semuanya tenang dan ringan. Ternyata ia bukan melayang di udara atau semacamnya, tetapi tenggelam di laut dasar yang gelap. Sama sekali tidak terlihat cahaya di atas permukaan, gelap total. Yang terlihat hanya gelembung, tangan, juga kakinya. Kepalanya yang paling bawah. Demian merelakan semuanya, membiarkan tubuhnya diseret lebih dalam.
Ketika ia hendak memejam kembali, sosok yang begitu ia kenali muncul di depannya dengan senyuman. Seketika ia merasa laut antah-berantah ini menjadi lebih hangat.
Delbert ....
Mulut Demian mati rasa, sama sekali tidak bisa dibuka. Sehingga apapun yang akan dikatakannya hanya tertinggal di ujung lidah.
"Demian," Delbert menyebut namanya, "bagaimana kehidupanmu?" Suara dan tatapan itu menjadi peluru panas yang menembak tepat pada relungnya. Perih menjalar dari hati hingga bola matanya.
Tak dapat menjawab, Demian hanya menatap Delbert dengan kesedihan yang mendalam.
"Kau tidak pernah berubah, Demian." Delbert mengasihi. Menggerakkan tubuhnya begitu mudah, berpindah ke sisi lain. "Sejak dulu maupun sekarang, sama kerasnya. Apa kau tidak lelah hidup seperti itu? Kau pikir kau siapa menolak bersikap lemah, apa kau seorang Dewa? Kita masih manusia."
"Apa menurutmu bersikap normal sebagai manusia yang butuh bantuan adalah tindakan memalukan hanya kau menamai dirimu sebagai bangsawan? Demian, bahkan seorang Raja terkuat pun masih manusia." Delbert kali ini tak menatapnya, mengikuti posisi tubuh Demian seolah tenggelam bersama.
"Apa mati dengan menanggung semuanya dapat menyelesaikan masalah?" ujar Delbert. Demian membiarkan telinganya terpasang semenjak bibirnya tak bisa dibuka.
"Sejak awal itu bukan masalahmu, Demian. Itu adalah masa lalumu. Yang perlu kau hadapi untuk bergerak maju, ikhlaskan semuanya." Delbert terkekeh. Entahlah kenapa ia bisa berbicara dalam air, Demian juga tidak mengerti.
Setiap kalimat yang Delbert lontarkan bak benang lembut yang menjahit bagian dirinya yang sobek.
"Kau masih memiliki hal lain, kan?" Ucapan Delbert mencapai dasar hatinya. Namun, Demian berat melepaskan rantai yang ada pada dirinya.
"Kematian kami bukan tanggung jawabmu. Keinginanku setelah kematian juga cuma satu," jelas Delbert. Sambil menggantungkan kalimatnya, ia berenang ke atasnya. Meraih kepala Demian untuk diberi elusan lambat di dalam laut yang hampa.
"... melihatmu hidup bahagia tanpa harus merasa sendirian."
Sedetik setelah mulutnya bisa terbuka, napasnya tersedak. Tahu-tahu realita menarik paksa dirinya dari alam bawah sadarnya. Dengan napas tergesa-gesa, ia bangkit dari tidurnya. Matanya yang linglung mengeluarkan bulir hangat.
Di sampingnya seorang perempuan yang wajahnya dipenuhi luka goresan dan lebam menatapnya penuh keterkejutan. Ia berdiri tergesa-gesa dan keluar dari ruangan berdinding kayu ini.
Tangannya kesemutan, pandangannya yang masih setengah sadar mendadak membelalak. Tangan kanannya ...
Napas Demian menjadi makin tak beraturan. Ingatan terakhir bagaimana ia menggunakan Excalibur untuk membunuh Warlock, ternyata gagal. Buktinya ia masih hidup sampai sekarang. Di mana? Di mana Warlock? Penyihir yang telah mengambil segala-gala yang ia punya selamat? Pendosa itu harus binasa!
KAMU SEDANG MEMBACA
PHANTOM'S WAY
FantasyBACA SCYLLA'S WAY DULU YA *** Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
