52 : The eyes speaks so loud

1K 244 39
                                        

North menghela napas pendek, uap dingin keluar dari mulutnya. Tanpa menoleh pada Arienne, ia menyuruh gadis itu untuk segera meninggalkan Fortuna. Namun, bukan Arienne namanya kalau menyerah begitu mudah. Mata hazel yang memancarkan tekadnya bersinar. Arienne menahan lengan North yang dua kali lebih besar darinya.

"Tidak jika aku tak membawamu bersamaku, North." Arienne mendengus. Semampu mungkin Arienne menarik North pergi, tetapi tak dapat membuat lelaki itu bergerak.

"Kenapa? Kenapa kau menyelamatkan kami? Kupikir hatimu sepenuhnya beku dan kau bisu." Kali ini, emosi yang ditahan berhari-hari sejak meninggalkan North di pangkalan angkatan laut, akhirnya tercurahkan.

Dentuman kembali terdengar. Teriakan Hanze mengudara. Nampaknya Laksamana Pertama menyadari keberadaan North dan upayanya untuk menyelamatkan para perompak. Hanze tidak terima. North, bukankah angkatan laut seharusnya tidak memihak musuh alaminya, bajak laut?

Zhao berhasil menghancurkan dinding es milik North, tetapi dinding es kembali tercipta, menghalangi dengan gerakan sembarang, sisi-sisi dinding mengacung tajam. Geraham Zhao mengeras, North melakukan tindakan yang fatal.

"Nona, sekarang waktunya. Pergilah dari sini." North akhirnya menoleh, menghadapi Arienne yang mengepal erat-erat hingga kukunya memutih. Di belakangnya, Juward mencoba memapah Rosemary sekali lagi, dan mengulurkan tangannya pada Carsein.

"Jawab pertanyaanku." Arienne menyita perhatian North sepenuhnya. Lelaki yang bersikap dingin padanya, menatap dalam-dalam.

"Nona." Napas North tertahankan.

"Buat aku mengerti, North. Bicaralah padaku, apa yang telah terjadi padamu?" Arienne menghela napas frustasi. Gemas oleh bibir North yang tak menumpahkan segala yang ia ingin dengar.

"Nona," panggilnya sekali lagi. North dan Arienne sama keras kepalanya.

"Kalau kau sekarang bagian dari angkatan laut, baiklah, hadapi aku sebagai musuhmu! Gunakan tanganmu sendiri untuk menyeretku ke jeruji dingin!" Arienne berteriak, napasnya memburu.

"North─"

"Jangan melakukan hal bodoh, Nona!"

Arienne menatap tak percaya. Ini pertama kalinya seorang North meninggikan intonasinya, berseru sedikit kasar sembari memegang kedua pundak.

"Pergilah." Nadanya merendah, dada North naik dan turun. Seolah di dalam hatinya meletup-letup.

Sekali kedip, air mata menetes dari mata sebelah kanan. Arienne menelan ludahnya pelan, bibirnya terkulum. Melihat North mengusirnya seperti ini, Arienne rasa sia-sia berusaha mendapatkan kru-nya itu kembali.

"Nona, ayo kita pergi. Tinggalkan orang itu, dia tidak memihak kita," ketus Juward.

Arienne pun perlahan menepis kedua tangan North, mundur, segera mengikuti Juward ke pintu masuk Fortuna. Langkahnya yang gontai, akhirnya kembali menyesuaikan, berlari kencang.

North mematung di tempat, tampaknya juga tak percaya ia barusan membentak orang yang begitu menghargainya.

Di atas kapal yang mengapung bebas, Jake menurunkan tangga kayu. Mereka naik satu persatu, tidak dengan Arienne yang menunduk ragu.

Setelah mengaitkan satu kakinya, dirinya kembali berbalik. Matanya mencari-cari North, yang membiarkan dinding es miliknya hancur perlahan.

Kalau Arienne pergi meninggalkan North di sana tanpa perpisahan yang layak, mungkin akan menjadi penyesalan paling membekas di hatinya.

"North!" teriak Arienne.

Pangeran es kembali menoleh padanya, kali ini spontan. North dapat melihat kapal yang mereka curi hendak meninggalkan pintu masuk Fortuna.

Arienne menarik napas dalam-dalam, kemudian berteriak jauh lebih kencang, berharap North mendengar apa yang terucap dari dalam tenggorokannya.

"Meskipun nantinya dunia tidak memihakmu, dan kau tidak menerima uluran tanganku sekalipun!" Suara Arienne mulai bergetar. "Aku akan selalu menyambutmu! Aku, akan menerima siapapun dirimu! Segala-galanya kau, North!"

Mata North berbinar. Darahnya mengalir hangat dalam tubuh sedingin esnya.

Runtuh sudah dinding es. Sebagian balok es berjatuhan dari dermaga. Zhao berjalan penuh amarah, wajahnya yang selalu tenang hangus bersama api di tangannya.

"Kau melakukan kesalahan besar, Komandan." Zhao memperingati.

Di antara komandan dan laksamana lainnya, yang paling membenci perompak tercela─bajak laut─adalah Zhao.

Seakan tuli, North malah ragu-ragu melangkah menjauhi dermaga. Tidak sedikitpun merasa terancam. Zhao yang menyadari kemana langkah North pergi, mengikuti dari belakang sembari bersiap melempar bola api yang lebih besar dari sebelumnya.

Mata Arienne membesar. Kapal curian kelompok perompak sudah berjarak tiga langkah dari dermaga.

North mulai merasa punggungnya memanas. Langkah yang awalnya ragu-ragu, berlari dengan yakinnya. Mata bak permata berwarna silver miliknya, mengilap di bawah cahaya bulan. Seolah tetesan harapan mengobati matanya dari hitam dan putihnya dunia, yang selama dua tahun terakhir buat hatinya hampa.

Matanya, tak sedetikpun ingin berkedip saat itu. Takut Arienne sekali lagi lepas dari pandangannya, takut sekali lagi hatinya sakit tak karuan, takut sekali lagi dirinya tidak jauh berbeda dengan balok-balok es keras, seperti yang ada di gudang es di dalam markas besar.

Di tengah gelapnya labirin dilema, tak tahu hendak mencari apa, mempertahankan apa, kompas pun berantakan arah. North tahu, satu-satunya arah yang ia percayai adalah Arienne. Satu-satunya arah yang menuntunnya pada cahaya.

Air jatuh dari kelopak matanya, yang langsung menjadi salju, hilang di udara.

Ketika beberapa meter kapal jauh dari dermaga, Arienne menangis. Lantaran melihat tatapan North begitu dalam dan mimik wajahnya yang sudah tak karuan. Tidak tahu apa yang membawa air matanya pergi dari tempatnya.

Kaki North menyentuh perairan, setiap pijakannya membekukan permukaan di bawahnya. North mengejar rombongan bajak laut itu.

Arienne menjulurkan tangannya, sepanjang yang ia bisa. North juga menjulurkan tangannya ke atas, berharap langkahnya bisa mencapai tangan sang gadis.

Tap.

North ditarik oleh Arienne, tetapi bola api menerjang sisi samping North, buat kapal ikut terombang-ambing. Arienne memekik, hampir lepas dari pegangannya, tetapi ia memilih untuk meraih North yang hendak tercebur ke laut.

Napas Arienne tertahan. Tangannya yang lain ditahan oleh Jake. Ditarik sekuat tenaga hingga kedua-duanya berhasil memeluk dek kapal.

Di atas sana, Juward berkeringat dan berdarah, mempertahankan kapal. Kemiringan tajam saat terombang-ambing mampu diatasi olehnya.

"Hampir saja, sialan!" Juward mengumpat, walau sebenarnya dia sedang bersyukur.

Napas North terengah-engah. Ia duduk di dek dengan tatapan nyalangnya. Sementara Arienne langsung menabraknya, memeluknya erat. Erat sekali sampai North sulit bergerak.

Tangan North meraih punggung Arienne, tangannya yang lain setengah melingkari lehernya. North bersembunyi di celetuk leher Arienne, tak kalah eratnya.

"Nona." North terus memanggilnya lembut dan penuh penyesalan, bisa jadi kerinduannya pula tercurahkan.

Jauh di sana, Zhao semakin berapi-api dibuatnya. Hanze menghela napas pendek, ia berjalan mendekati, melirik satu lembar kertas yang terlipat di dekat pintu depan.

"Sudahlah, Zhao. Biarkan mereka kabur." Hanze terdengar pasrah.

"Apa maksudmu, Hanze? Mereka harus dihentikan." Zhao berbalik. "Aku bisa membakar kapal mereka dari jauh," tambahnya.

Hanze membuka lembar kertas tersebut.

"Aku punya rencana."

...


Nanti kita melihat pov North ya

PHANTOM'S WAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang